Kantor Sekretariat Rumah Sajada

Alamat : Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman D.I. Yogyakarta

Tampak Depan PAPP Rumah Sajada

Komplek Kantor dan Asrama Putri Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman

Pendopo Rumah Sajada

Komplek Asrama Putra Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putri Rumah Sajada

Komplek Asarama Putri Wirokraman Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putra

Alamat : Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Jumat, 27 November 2020

Pergi dan Pulang dari Masjid akan Mendapatkan Ganjaran Pahala

Pergi dan Pulang dari Masjid akan Mendapatkan Ganjaran Pahala

 

Shalat di masjid lebih utama 27 derajat daripada di rumah. Namun, sebagian orang masih banyak yang enggan mengambil keutamaan yang besar ini. Padhal, jalan pergi dan pulangnya saja akan mendapatkan ganjaran pahala.

Bahkan, setiap langkah kaki ke masjid akan dihitung sedekah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah.” (HR. Muslim, no. 1009)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah mengatakan, “Setiap langkah kaki menuju shalat adalah sedekah baik jarak yang jauh maupun dekat”.

 Selain itu, setiap Langkah Kaki Ke Tempat Shalat Dicatat Sebagai Kebaikan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap langkah menuju tempat shalat akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” (HR. Ahmad, 2:283. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.)

Tak hanya itu saja, berjalan ke masjid akan mendapat dua keutamaan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim, no. 666)

Orang yang melakukan semacam ini akan mendapatkan dua kebaikan: (1) ditinggikan derajatnya, (2) akan dihapuskan dosa-dosa.

Tentunya, berjalan pulang dari masjid akan dicatat sebagaimana perginya

Hal ini berdasarkan hadits berikut,

“Dulu ada seseorang yang tidak aku ketahui seorang pun yang jauh rumahnya dari masjid selain dia. Namun dia tidak pernah luput dari shalat. Kemudian ada yang berkata padanya atau aku sendiri yang berkata padanya, “Bagaimana kalau engkau membeli keledai untuk dikendarai ketika gelap dan ketika tanah dalam keadaan panas.” Orang tadi lantas menjawab, “Aku tidaklah senang jika rumahku di samping masjid. Aku ingin dicatat bagiku langkah kakiku menuju masjid dan langkahku ketika pulang kembali ke keluargaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah telah mencatat bagimu seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 663)

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (5:149) mengatakan,.

“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa langkah kaki ketika pulang dari shalat akan diberi ganjaran sebagaimana perginya.”

Masya Allah, inilah keutamaan pergi dan pulang dari menunaikan shalat di masjid. Semoga Allah memberi taufik kepada kita agar dapat merutinkan shalat jama’ah di masjid, khususnya untuk kaum pria.

Sumber: rumaysho.com

https://www.mtt.or.id

 

Lima Keutamaan Jalan Kaki dan Salat Berjemaah ke Masjid

Lima Keutamaan Jalan Kaki dan Salat Berjemaah ke Masjid

 

Banyak cara bisa ditempuh untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya. Salah satu yang tidak disangka-sangka adalah berjalan kaki menuju masjid untuk melaksanakan salat. Meski saat ini beragam jenis kendaraan bisa dengan cepat mengantarkan ke masjid, namun ada baiknya kita melakukan hal ini karena begitu banyak pahala dan keutamaannya.

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis pernah melarang sahabatnya yang akan pindah dengan tujuan agar rumahnya lebih dekat dengan masjid. Rasul menyebutkan bahwa mereka harus tetap tinggal di rumah lama, pasalnya semakin jauh perjalanan ke masjid mereka tempuh, maka pahala yang tercatat adalah sebanyak jejak telapak kaki yang mereka langkahkan hingga mereka tiba di masjid. Selain keutamaan tersebut, masih banyak keutamaan lain yang bisa diraih kaum Muslimin yang berjalan kaki menuju masjid. Apa saja? Berikut ini 5 di antaranya.

Imbalan Cahaya di Hari Kiamat

Salah satu keutamaan yang akan didapatkan seseorang jika rajin berjalan menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah adalah mendapat cahaya pada hari kiamat kelak.  Terlebih jika pelaksanaanya saat salat Isya dan Subuh. Hal ini berdasarkan penjelasan HR Abu Daud dan Tirmidzi yang artinya: “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang ‘berjalan’ di dalam kegelapan malam menuju masjid dengan cahaya yang akan diperolehnya pada Hari Kiamat.”

Imbalan Rumah di Surga

Keutamaan lainnya yang juga diperoleh dengan amalan ini adalah janji Allah akan membangunkan sebuah rumah di surga. Kita yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan sehari-hari mungkin akan jarang berpikir tentang hal ini. Bahwa sebenarnya rumah yang kekal sebenarnya adalah di akhirat kelak, sementara dunia, hanya persinggahan sementara yang dilalui. Sehingga tidak adil jika kita hanya memperindah rumah kita di dunia, sementara sama sekali tidak memikirkan bagaimana rumah di akhirat nanti.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang berjalan menuju ke masjid (untuk salat) dan pulang setelahnya maka Allah akan menyediakan sebuah rumah di surga untuknya, baik ketika pergi maupun pulang.” (Shahih HR. Ahmad)

Satu Langkah Menghapus Satu Dosa

Cara sederhana ini ternyata memiliki keutamaan lain sebagai sarana menghapus dosa. Setiap satu langkahnya, Allah SWT menjanjikan penghapusan satu dosa. Selain itu, Allah juga akan mengangkat derajat mereka yang berjalan kaki ke masjid. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu pergi ke masjid untuk menunaikan salat yang telah Allah wajibkan kepadanya, maka setiap langkahnya menghapus satu dosa dan langkah yang satunya mengangkat satu tingkat derajatnya.” (HR.Muslim)

Ditinggikan Derajatnya

Coba perhatikan orang-orang yang rajin datang ke masjid untuk salat dengan berjalan kaki. Tidak bisa dimungkiri orang-orang ini selalu menjadi bagian penting dalam suatu sistem kemasyarakatan. Baik itu sebagai pengurus masjid, imam dan lain sebagainya.

Rasulullah SAW bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”  Para sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasulullah”, Rasulullah SAW bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang tidak disukai (seperti di saat dingin), banyak melangkahkan kakinya menuju ke masjid, dan menunggu salat setelah salat, itulah yang namanya ribath (mencurahkan diri dalam ketaatan).” (HR. Muslim)

Dilipatgandakan Pahalanya

Keutamaan lainnya yang akan didapatkan dengan berjalan kaki menuju masjid adalah Allah SWT melipatgandakan pahala untuknya. Abu Musa berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,  “Sesungguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam salat adalah yang paling jauh berjalan menujunya. Maka orang yang paling jauh dan ‘orang yang menunggu salat sampai ia melaksanakannya bersama imam’ lebih besar pahalanya daripada orang yang salat kemudian tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

https://islamindonesia.id

 

Keutamaan Orang yang Melangkahkan Kaki ke Masjid

 Keutamaan Orang yang Melangkahkan Kaki ke Masjid

 

SEORANG muslim wajib melaksanakan ibadah shalat lima waktu. Apalagi bagi kaum Adam yang dianjurkan melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Terkadang bagi mereka yang rumahnya jauh dari masjid, rasa malas membuat seseorang enggan berangkat ke masjid.

Padahal, banyak keutamaan yang didapatkan bagi seseorang yang senantiasa melangkahkan kakinya ke masjid. Apalagi bagi mereka yang letaknya jauh dari masjid.

Ada sebuah hadits yang menjelaskan tentang keutamaan orang yang jauh dari masjid namun masih tetap menjalankan shalat di masjid.

 

عن أبي موسى – رضي الله عنه – ، قَالَ : قال رَسُول اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( إنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أجْراً في الصَّلاةِ أبْعَدُهُمْ إلَيْهَا مَمْشىً ، فَأَبْعَدُهُمْ ، وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإمَامِ أعظَمُ أجْراً مِنَ الَّذِي يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ )) متفقٌ عَلَيْهِ .

 

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam shalat adalah yang paling jauh berjalan menuju shalat, lalu yang jauh berikutnya. Dan orang yang menunggu shalat sampai ia melaksanakannya bersama imam lebih besar pahalanya daripada orang yang shalat kemudian tidur.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 651 dan Muslim, no. 669)

Dalam hadits tersebut, dapat kita ketahui bahwa ada beberapa keutamaan, di antaranya:

1. Makin banyak langkah ke masjid, makin banyak pahala yang diperoleh.

2. Makin jauh dari masjid berarti makin banyak langkah dan makin berat, itulah yang membuat pahala semakin besar.

3. Hendaknya yang jaraknya jauh dari masjid lebih semangat untuk ke masjid karena pahalanya lebih besar dibandingkan dengan orang yang rumahnya dekat dengan masjid karena orang yang dekat mudah sekali untuk ke masjid.

4. Sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk memilih masjid yang lebih jauh. Namun yang lebih tepat, shalat di masjid terdekat lebih utama agar bisa berinteraksi dan bersosialisasi hingga mendakwahi tetangga dan orang dekat rumah. Lihat bahasan di sini.

5. Hadits ini menunjukkan keutamaan menunggu shalat.

6. Hadits ini membicarakan tentang shalat Isya’. Hal ini menunjukkan bahwa boleh mengundur waktu shalat tersebut, ditunjukkan dalam hadits lainnya hingga sepertiga malam.

7. Shalat bersama imam dengan menunggunya lebih utama daripada seseorang lebih dahulu shalat kemudian tidur.

8. Shalat berjamaah bersama imam lebih utama dibandingkan shalat di awal waktu seorang diri.

9. Imam haruslah orang yang paling fakih dan paham akan kitabullah, dialah yang didahulukan dari yang lain dalam shalat.

10. Shalat bersama imam tanda bahwa kaum muslimin itu berjumlah sangat besar (sawadul a’zhom). Shalat berjamaah dengan imam menunjukkan persatuan kaum muslimin dan akan semakin membuat takut musuh-musuh mereka. Inilah yang menunjukkan faedah besar dari shalat berjamaah. []

 

Sumber: Rumaysho

https://www.islampos.com

 

Kamis, 26 November 2020

MANFAAT RENDAMAN AIR KURMA

 MANFAAT RENDAMAN AIR KURMA

 

Air rendaman kurma merupakan kurma yang di rendam dalam air matang selama satu malam di dalam wadah tertutup yang kemudian akan di minum keesokan paginya. Air rendaman kurma ini pada dasarnya sama dengan infuse water, akan tetapi bukan aneka jenis buah yang digunakan namun memakai kurma berkualitas baik. Dengan mengkonsumsi air rendaman kurma secara rutin, maka akan banyak khasiat yang anda dapatkan.

Kandungan Air Rendaman Kurma

Seperti yang kita ketahui, dalam kurma sendiri sudah memiliki begitu banyak kandungan gizi bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan mengatasi berbagai penyakit dari mulai yang ringan sampai berat. Dalam buah kurma terdapat nutrisi penting seperti energi, air, protein, serat, karbohidrat, gula, lemak, kolesterol, vitamin B5, vitamin B9, vitamin B6, vitamin C, vitamin E, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin K, zat besi, magnesium, kalium, fosfor, sodium dan juga seng.

Manfaat Air Rendaman Kurma

Sesudah mengetahui apa saja nutrisi yang terkandung di dalam buah kurma, berikut ini akan kami berikan beberapa kegunaan dari air rendaman kurma untuk kesehatan dan berbagai penyakit.

Menyembuhkan Masalah Pencernaan

Air rendaman kurma atau air naqi’ ini merupakan minuman yang mengandung alkali sehingga bisa membuang kelebihan asam yang ada pada perut sekaligus menyembuhkan masalah pada pencernaan.

Membantu Proses Detoksifikasi

Minuman ini juga berguna untuk meningkatkan proses detoksifikasi tubuh sehingga berbagai racun yang menumpuk di dalam tubuh bisa disingkirkan lewat urine dan juga tinja secara mudah.

Menstabilkan Tekanan Darah

Karena terdapat kandungan kalium di dalam air rendaman kurma, maka minuman ini bisa digunakan untuk membuat tekanan darah menjadi stabil dan juga menjaga kinerja jantung lebih baik lagi. Kalium merupakan salah satu zat penting yang dibutuhkan tubuh sehingga akan terus berada dalam keadaan prima dan tidak mudah lelah sehingga air rendaman kurma ini juga sangat cocok untuk di konsumsi saat sahur dan berbuka puasa.

Menurunkan Kolesterol Jahat

Dalam air rendaman kurma ini juga mengandung kadar serat tinggi yang berasal dari buah kurma sehingga sangat baik menurunkan kolesterol jahat yang ada di dalam tubuh kamu. Konsumsi minuman ini secara rutin agar anda bisa terbebas dari segala macam penyakit berbahaya yang diakibatkan dari kolesterol jahat tersebut.

Baik Untuk Ibu Hamil

Air kurma juga sangat baik untuk dikonsumsi ibu yang sedang hamil. Kandungan di dalam kurma ini sudah dipercaya dalam memperkuat otot rahim serta meningkatkan kualitas ASI. Minuman ini juga baik dikonsumsi ibu hamil di saat bulan puasa.

Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Dalam air rendaman kurma mengandung zat besi yang berguna untuk menjaga stabilnya metabolisme protein, menjaga produksi hemoglobin serta sel darah merah dan juga meningkatkan daya tahan tubuh.

Mencegah dan Meringankan Sembelit

Kurma juga sudah dikenal sebagai obat pencahar yang bisa meringankan masalah pencernaan yakni sembelit. Kegunaan dari air rendaman kurma lainnya adalah membuang segala macam limbah atau kotoran di dalam tubuh. Untuk membuatnya juga sama seperti cara lain yakni dengan merendam kurma pada air matang selama 1 malam.

Sumber: manfaat.co.id

https://www.rumahzakat.org

 

Keutamaan Berjalan Menuju Masjid

 Keutamaan Berjalan Menuju Masjid

 

Terdapat keutamaan yang besar dalam amal berupa berjalan menuju masjid.

Pahala Besar dengan Berjalan Menuju Masjid

Sesungguhnya, pahala yang paling besar adalah yang paling jauh rumahnya dari masjid.  Para fuqaha (ulama ahli fiqih) rahimahumullah menegaskan dianjurkannya memperpendek langkah menuju masjid dan tidak tergesa-gesa (alias berjalan dengan tenang) ketika menuju masjid. Hal ini untuk memperbanyak pahala kebaikan ketika berjalan menuju masjid, berdasarkan berbagai dalil yang menunjukkan adanya keutamaan memperbanyak langkah menuju masjid. [1]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

 

“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah ar-ribath (kebaikan yang banyak).” (HR. Muslim no. 251)

Berjalan Kaki Ke masjid Meskipun Jauh

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلاَةِ أَبْعَدُهُمْ، فَأَبْعَدُهُمْ مَمْشًى وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِي يُصَلِّي، ثُمَّ يَنَامُ

 

“Orang yang paling banyak mendapatkan pahala dalam shalat adalah mereka yang paling jauh (jarak rumahnya ke masjid), karena paling jauh jarak perjalanannya menuju masjid. Dan orang yang menunggu shalat hingga dia melaksanakan shalat bersama imam itu lebih besar pahalanya dari orang yang melaksanakan shalat kemudian tidur.” (HR. Bukhari no. 651 dan Muslim no. 662)

Hadits-hadits tersebut menunjukkan keutamaan rumah yang jauh dari masjid, karena banyaknya langkah menuju masjid yang membuahkan pahala yang besar. Besarnya pahala itu karena jauhnya rumah dari masjid dan juga karena bolak-balik pergi ke masjid.

Dari ‘Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

 

كَانَ رَجُلٌ لَا أَعْلَمُ رَجُلًا أَبْعَدَ مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ، وَكَانَ لَا تُخْطِئُهُ صَلَاةٌ، قَالَ: فَقِيلَ لَهُ: أَوْ قُلْتُ لَهُ: لَوْ اشْتَرَيْتَ حِمَارًا تَرْكَبُهُ فِي الظَّلْمَاءِ، وَفِي الرَّمْضَاءِ، قَالَ: مَا يَسُرُّنِي أَنَّ مَنْزِلِي إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ، إِنِّي أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لِي مَمْشَايَ إِلَى الْمَسْجِدِ، وَرُجُوعِي إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ جَمَعَ اللهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ

 

“Seseorang yang setahuku tidak ada lagi yang lebih jauh (rumahnya) dari masjid, dan dia tidak pernah ketinggalan dari shalat. ‘Ubay berkata, maka ia diberi saran atau kusarankan, “Bagaimana sekiranya jika kamu membeli keledai untuk kamu kendarai saat gelap atau saat panas terik?” Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak ingin rumahku di samping masjid, sebab aku ingin jalanku ke masjid dan kepulanganku ke rumah semua dicatat (pahala).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala telah kumpulkan untukmu semuanya tadi.” (HR. Muslim no. 663)

Lihatlah saudaraku, adanya pahala yang besar dari Allah Ta’ala bagi orang-orang yang pergi menuju masjid dan juga ketika berjalan pulang dari masjid. Oleh karena itu, sahabat tersebut lebih memilih untuk berjalan kaki meskipun rumahnya jauh dari masjid.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مَنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

 

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.” (HR. Muslim no. 666)

Dalam hadits-hadits tersebut dan yang lainnya, terdapat motivasi untuk bersungguh-sungguh mendatangi masjid dengan berjalan kaki, bukan dengan naik kendaraan, meskipun rumahnya agak jauh. Hal ini dengan catatan, selama hal itu tidak menimbulkan masyaqqah (kesulitan) dan juga selama tidak ada ‘udzur (misalnya, sudah tua renta dan yang lainnya). Juga motivasi agar tidak membiasakan diri naik kendaraan ketika menuju masjid, jika jarak masjid tersebut masih bisa terjangkau dengan berjalan kaki. [2]

***

Penulis: dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D

Artikel: Muslim.or.id

https://muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Anjuran seperti ini tentu bukan pada tempatnya karena hanya akan membebani diri sendiri. Karena yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah langkah berjalan biasa (normal), bukan langkah yang dibuat-buat sengaja lebih pendek agar lebih banyak jumlah langkah menuju ke masjid. Karena jika memperpendek langkah ini yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan, tentu akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan dengan perbuatan beliau atau minimal akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan kepada para sahabatnya.

[2] Pembahasan ini kami sarikan dari kitab Ahkaam Khudhuuril Masaajid karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan hafidzahullah, hal. 62-63 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA).

 

 

Manfaat Utama Membiasakan Dzikir kepada Allah

 Manfaat Utama Membiasakan Dzikir kepada Allah

 

Manfaat utama membiasakan Dzikir kepada Allah. (Foto: Pinterest)

Surat Al-Baqarah Ayat 152  فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

(Fażkurụnī ażkurkum wasykurụ lī wa lā takfurụn), artinya: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Ayat ini membahas tentang dzikir kepada Allah. Termasuk sekian banyak amal yang bisa menyambungkan kita dengan Allah atau mendekatkan kita dengan kekuatannya Allah yakni berdzikir. Ada banyak lafadz dzikir, intinya menyebut kalimat-kalimat thayyibah, menyebut asma-asma Allah, bersholawat dan lain sebagainya.

Bahkan semua amal shalih yang kita lakukan juga termasuk dzikir. Dzikir bisa berupa lisan, berupa hati, fikiran dan berupa tindakan. Apabila kaki kita dipakai untuk melangkah ke majelis ta’lim, ke masjid atau ke hal-hal yang baik maka langkah kaki kita ini termasuk dihitung dzikir kepada Allah.

Jika tangan kita gunakan untuk menolong orang lain, untuk bersedekah itu akan juga dihitung dzikir kepada Allah, bahkan semua makhluk di alam semesta ini bertasbih kepada Allah.

Hanya saja cara dan wujudnya berbeda. dzikirnya kilat atau petir dengan bersuara keras.  Dzikirnya hewan dengan berkicau. Kita memang tidak paham, namun pada hakikatnya itu juga termasuk berdzikir.

Orang yang sudah sampai ditingkatan shalih, berdzikir merupakan bagian dari hidup mereka, mereka diberi kelebihan oleh Allah bisa mendengar dzikirnya makhluk-makhluk Allah yang lain.

Tumbuh-tumbuhan yang masih hidup, mereka pun berdzikir kepada Allah. Ada sahabat Nabi Muhammad ketika akan memetik sayuran namun diurungkan, karena beliau mendengar sayuran yang akan dipetik tersebut sedang berdzikir kepada Allah.

Jadi jika semua makhluk itu berdzikir kepada Allah, namun kita sebagai manusia kita tidak berdzikir, maka kita akan termasuk orang-orang yang merugi.

Memang kita tidak harus selalu memegang tasbih, tapi jika dengan itu membuat kita lebih mudah berdzikir dan tidak khawatir dikira suka pamer maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Jika di dalam mobil kita ada tasbihnya, maka menurut Quraish Shihab, itu termasuk cara untuk mengingatkan diri kita agar ketika kita berkendara untuk berdzikir kepada Allah.

Kalimat tayyibah, bahasa-bahasa yang baik, sopan santun dan lain sebagainya hakikatnya juga termasuk berdzikir. Orang yang berdzikir akan diberi imbalan khusus dari Allah. Hadiahnya bisa bermacam-macam bentuknya.

Menurut Ibnu Abbas, cara yang terbaik untuk berdzikir kepada Allah adalah dengan taat kepada Allah. Orang yang taat kepada Allah menurut Imam al Ghazali akan menghadapi 4 macam godaan. Kita harus selalu berhati-hati dan meminta pertolongan kepada Allah, karena banyak orang yang sebenarnya sudah tergoda oleh 4 perkara ini namun tidak merasa, ini yang berbahaya.

Pertama, harta benda. Mungkin banyak yang bertanya, “Mungkinkah uang bisa melupakan, hingga tidak taat kepada Allah?”

Pertanyaannya, apakah ada orang yang bekerja hingga melupakan sholat? Jawabannya pasti ada. Bahkan bisa jadi banyak jumlahnya.

Kita niati setiap hari kita adalah waktu-waktu untuk menanti sholat, setelah kita melakukan sholat Isya’ adalah saat-saat kita untuk menanti sholat Shubuh, karena rahmat Allah, saat menanti dari Isya’ ke Shubuh itu cukup lama maka diperbolehkan tidur. Boleh juga mencari hiburan dan lain sebagainya, tidak ada perintah untuk terjaga sepanjang malam untuk menanti datangnya Shubuh.

Setiap hari yang kita lalui adalah waktu untuk menanti sholat. Waktu yang sangat diridhoi Allah. Jadi setelah kita melakukan sholat Isya’ akan dihitung Allah menanti waktu Shubuh. Itu kalau melakukan sholat Isya’ di awal waktu. Ini adalah sebagian hadiah dari melakukan sholat di awal waktu.

Untuk itu setelah melakukan sholat Isya’ niat saja, “Yaa Allah aku ingin menanti datangnya waktu sholat Shubuh”.

Ketika selesai melakukan sholat Shubuh, kita menanti datangnya sholat Dhuhur, karena waktu dari Shubuh ke Dhuhur cukup lama, maka kita disunahkan untuk bekerja. Bahkan bisa sampai ke taraf wajib untuk bekerja jika tanpa bekerja kebutuhan kita tidak terpenuhi, kita bekerja dihitung sebagai menanti datangnya sholat Dhuhur.

Usai melakukan sholat Dhuhur kita menanti datangnya sholat Ashar. Setelah Ashar kita menanti datangnya Maghrib, seterusnya hingga waktu Isya’ tiba. Begitu seterusnya hingga seluruh hidup kita akan dihitung Allah sebagai ibadah karena menanti sholat yang diwajibkan Allah. Begitu luar biasanya sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Orang yang sholat Shubuh berjama’ah, maka mereka dalam tanggungan Allah, jadi tidak perlu khawatir. Semua urusan kita akan dimudahkan Allah, syaratnya kita harus siap terlebih dahulu. Siap apa? Apapun yang terjadi kita harus bisa menerima dengan senang hati. Semua dipahami sebagai anugerah dari Allah. Walaupun tidak selalu cocok dengan apa yang kita inginkan.

Sekali lagi dzikir yang pertama adalah dengan taat, orang yang berniat untuk taat, orang yang menunggu sholat dalam waktu yang digunakan untuk bekerja juga termasuk ibadah,dipakai untuk aktifitas lainnya juga dihitung sebagai ibadah. Maka Allah akan memberi hadiah berupa pertolongannya.

Apabila kita sudah mendapat pertolongan dari Allah, maka jaminannya sejak dari dunia hingga akhirat, namun jika ditolong Allah juga harus paham, jangan sampai dengan banyaknya harta benda malah melupakan Allah. Sholat kita tidak terperhatikan dengan baik.

Seorang sufi menulis “jika dengan secangkir air kamu sudah bisa menghilangkan dahagamu maka kamu tidak perlu mengharapkan air sebanyak lautan, karena itu akan membuat kamu tenggelam.”

Itu jika maqamnya orang-orang sufi, bagi kita kadang belum siap, pertanyaannya, apakah ketika kita diuji dengan harta benda kita masih ingat Allah? Apakah kewajiban zakat sudah ditunaikan? “Mencari uang itu susah, koq harus mengeluarkan zakat?”

”Apakah dengan harta benda ini jadi sebab dapat ridhanya Allah? Apakah kemudian kita menjadi giat untuk ke masjid? Belum tentu, apakah jika kita diberi kelebihan Allah dengan materi itu akan membuat kita makin merunduk? Atau sebaliknya? Malah jadi tinggi hati?

Sebenarnya jika mau dipahami dengan baik, ketika kita makan hanya meghabiskan satu piring saja, dengan satu bakul kita tidak mungkin menghabiskannya seorang diri.

Pandangan orang sufi hidup didunia ini benar-benar jadi sarana untuk mencari ridha Allah, jika tidak diniatkan mencari ridho Allah pasti salah, kita pasti termasuk tertipu dengan dunia ini.

Orang-orang yang berlomba menumpuk harta yang akhirnya tidak bisa menikmati, mereka bahagia manakala bisa menumpuk dan menghimpun harta sebanyak-banyaknya. Pada akhirnya ditinggal mati begitu saja. Ternyata banyak kewajiban yang tidak dijalankan, banyak orang yang didzalimi, apalagi jika sampai mengambil hak orang lain. Bekerjanya tidak mendatangkan rahmat, malah sebaliknya mendatangkan laknat.

Orang yang dimurkai Allah adalah orang yang diberi kelebihan harta mestinya dia lebih dekat ke Allah, namun ia tidak mengambil peluang itu. Inilah harta benda yang termasuk hal yang jika tidak bisa menggunakan dengan baik, maka termasuk hal yang menghambat untuk dekat dengan Allah.

Sebaliknya jika kita bisa menggunakan maka akan mendapat upah surga paling awal, itulah hidup, hidup adalah pilihan.

Kedua nafsu, sebenarnya nafsu juga ada manfaatnya, Jika kita tidak diberi nafsu, kita tidak mungkin mau bekerja, Jika kita lapar maka kita akan membeli bahan makanan, beras, lauk pauk dan lain sebagainya. Itulah nafsu.

Dengan nafsu ini maka Bani Adam diperintah Allah untuk mengelola bumi, maka jika seseorng tidak mempunya nafsu tidak akan jalan, sebab dengan nafsu juga, bumi ini bisa dikelola dan diberdayakan. Nafsu ini pula jadi sebab masakan jadi enak dan tidak enak, karena nafsu, ketika kita menanam singkong maka kita tergerak untuk memasaknya dengan banyak varian rasa.

Tapi kita harus berhati-hati karena nafsu juga bisa menjatuhkan kita sebagai manusia yang mulia menjadi manusia yang hina bahkan lebih hina daripada binatang. Dengan mengendalikan nafsu sebenarnya kita bisa berbuat baik, namun jika kita dikendalikan nafsu maka yang terjadi adalah sebaliknya.

Ketiga adalah manusia disekeliling kita, termasuk anugerah dari Allah adalah bisa hidup bersama-sama, namun jika tidak bisa menggunakaan dengan baik akan membuat kita penuh dengan dosa. Dengan hidup bersama jadi sarana bagaimana hidup kita bisa lebih bermanfaat dan mendapat ridha Allah, jangan sampai hidup bersama malah menjadikan banyak dosa.

Kita mempunyai istri atau suami, itu adalah sarana untuk mencari ridha Allah, jangan sampai malah menjadi musuh. Jika berbicara kasar, malah ada juga yang sampai menganiaya. Dengan adanya anak tidak mengantarkan mereka mendapat ridha Allah, namun malah dapat celaka. Karena apa? Karena anaknya tidak dididik dengan baik. Sebagai orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik dan mengarahkan dengan baik. Untuk hasilnya seperti apa, kita kembalikan Kepada Allah.

Keempat adalah setan. Sebenarnya faktor setan ini lebih mudah, asal tidak kita ikuti bisikannya maka sudah selesai. Setan adalah makhluk yang tidak nampak, hanya dengan membaca ta’awudz saja sudah hilang, setan hanya menggoda yang mau saja, yang tidak mau, tidak digoda.

Dengan begitu, kita mesti bisa bersikap dengan baik, jika menurut kita sesuatu itu tidak baik maka harus kita jauhi agar hidup kita mendapat ridha Allah.

Jika kita ingin memperbaiki diri, ingin berbuat baik maka ketika baru berniat saja itu sudah mandatangkan pertolongan Allah, setiap niat baik maka akan mendatangkan 70 pertolongan Allah.

Sebisa mungkin kita memposisikan diri sebagai manusia yang baik dunia maupun akhirat. Berusaha untuk selalu dzikir kepada Allah, paling tidak ketika ingin mengerjakan sesuatu selalu membaca basmallah terlebih dahulu dan ketika selesai tidak lupa untuk membaca hamdallah.

Jika ini dibiasakan maka ketika kita mempunyai dosa sebanyak buih di lautan, namun dengan sering menyebut asma Allah dan istighar maka dosa-dosa kita akan diampuni Allah.

https://surakartadaily.com

 

Bacaan Doa Asmaul Husna yang Perlu Diamalkan

Bacaan Doa Asmaul Husna yang Perlu Diamalkan

 

Suara.com - Tentu umat Islam tahu apa itu Asmaul Husna. Tapi apakah Anda juga mengetahui bagaimana doa Asmaul Husna? Simak bacaan doa asmaul husna berikut ini yang lengkap dengan terjemahannya.

Terdapat sepenggal ayat yang menunjukkan bahwa Allah memiliki asmaul husna (nama-nama yang baik dan indah). Di dalam Surah Al-A'raf ayat 180, Allah SWT berfirman yang artinya:

"Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf: 180).

Menurut para ulama, asmaul husna berjumlah 99. Asmaul husna adalah kalimat thayyibah dan merupakan nama-nama Allah yang Mulia.

Sehingga, bagi kaum muslimin yang ingin mendekatkan diri kepada sang Pencipta Alam semesta ini, salah satunya bisa dengan dengan cara membaca bacaan doa asmaul husna. Karena dengan berdzikir menyebut nama-nama Allah tersebut, kita akan selalu dekat dengan Allah dan mendapatkan fadhilah, khasiat, dan manfaatnya.

Doa Setelah Membaca Asmaul Husna

Terdapat sebuah doa yang bisa dibaca setelah membaca asmaul husna. Doa tersebut tercantum dalam kitab Fadhlu Dzikrillah wa Al-Shalatu ‘ala Nabiyyirrahmah min Wahyi Al-Kitabi wa AL-Sunnah.

Di dalam kitab tersebut, Abdussalam Al-Amrani Al-Khalidi menulis doa yang diwasiatkan oleh Imam Ahmad bin Idris, seperti berikut.

Allohumma yaa man huwa haakadzaa walaa yazaalu haakadzaa wala yakuunu haakadzaa ahadun siwaahu as-aluka ilaahii wa sayyidii wa mawlaaya wa tsiqotii wa rojaa-ii bi ma’aaqidil ‘izzi min ‘arsyika wa muntaharrohmati min kitaabika wa wajhikal akromi wasmikal a’zhomi wa jaddikal a’laa wa kalimaatikat taammati kullihaa al-mubaarokatil latii laa yujaawizuhunna barrun walaa faajirun an tusholliya

Bacaan Doa Setelah Sholat Dhuha dan Artinya

wa tusallima wa tubaarika ‘alaa mawlaanaa muhammadin wa ‘alaa aalihi, wa an tarzuqonii ghoyata ladzdzatin nazhri ilaa wajhikal kariimi wa ghoyatasy syauqi ilaa liqoo-ika wa ghooyata ma’rifatika wa ghooyata mahabbatika wa ghooyata musyahadatika wa ghooyata mukaalamatika wa ghooyata ‘aafiyatika wa ghooyata ‘inaayatika wa ghooyata ‘uluumika wa ghooyata anwaarika

wa ghooyata asroorika, al-ghooyatal latii a’thoitahaa nabiyyaka sayyidanaa wa mawlaanaa muhammadin min kulli dzaalika fi ghoiri dhorro-in wala mudhirrotin walaa fitnatin mudhillatin wa an tuqowwiyanii fi dzaalika kamaa qowwaitahuu wa tu-awwidanii kamaa ayyadtahuu innaka ‘alaa kulli syai-in qodiir, wa bil-ijaabati jadiir, yaa ni’mal mawlaa wa ni’man nashiir.

Arti Doa Setelah Membaca Asmaul Husna

"Ya Allah, wahai Zat yang seperti ini dan selalu seperti ini dan tak seorang pun seperti ini selain Dia. Aku memohon kepada-Mu, wahai Tuhaku, junjunganku, tuanku, kepercayaanku, dan harapanku melalui ketetapan kemuliaan dari Arsy-Mu, puncak rahmat dari kitab-Mu dan Zat-Mu yang agung, nama-Mu yang agung, kedermawanan-Mu yang luhur, dan kalimat-kalimat-Mu yang semuanya diberkahi yang tidak bisa dilewati oleh orang baik dan orang buruk, agar Engkau melimpahkan rahmat, salam dan keberkahan pada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, juga Engkau memberikan aku rezeki puncak kenikmatan melihat pada Zat-Mu yang mulia, puncak kerinduan bertemu dengan-Mu, puncak pengetahuan kepada-Mu, puncak mencintai-Mu, puncak penyaksian kepada-Mu, puncak berdialog dengan-Mu, puncak keselematan-Mu, puncak perhatian-Mu, puncak ilmu-Mu, puncak cahaya-Mu, puncak rahasia-Mu, puncak yang Engkau berikan kepada junjungan kami Nabi Muhammad dari semua itu tanpa ada kesusahan dan fitnah yang menyesatkan, serta Engkau memberikan kekuatan kepadaku sebagaimana memberik kekutana padanya. Sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu Maha Kuasa, dan pantas mengabulkan, wahai Zat Maha Penolong."

Nah, itulah bacaan doa Asmaul Husna yang dapat diamalkan setelah menyebut nama-nama yang baik dan indah dari Allah SWT.

 

Rifan Aditya

Kontributor : Rishna Maulina Pratama

https://www.suara.com