Kantor Sekretariat Rumah Sajada

Alamat : Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman D.I. Yogyakarta

Tampak Depan PAPP Rumah Sajada

Komplek Kantor dan Asrama Putri Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman

Pendopo Rumah Sajada

Komplek Asrama Putra Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putri Rumah Sajada

Komplek Asarama Putri Wirokraman Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putra

Alamat : Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Tampilkan postingan dengan label kisah kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juli 2021

Kisah Rasulullah SAW Mengganjal Perutnya dengan Batu

Kisah Rasulullah SAW Mengganjal Perutnya dengan Batu

 

Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) patut diteladani semua manusia. Meski mengemban panglima tertinggi dan pemegang otoritas agama, Beliau SAW tidak pernah memikirkan kesenangan sendiri.

Bahkan untuk menahan rasa lapar, Beliau mengganjal perutnya dengan batu. Sebuah sikap yang tidak lazim dilakukan oleh pemimpin kepala negara sekelas Rasulullah. Berikut kisahnya.

Dikisahkan, pada suatu malam, para sahabat berbaris rapi di belakang Rasulullah SAW hendak melaksanakan Salat Isya. Di antara mereka ada Umar Bin Khattab RA dan sahabat lainnya.

Malam itu ada sesuatu yang tidak biasa, mereka mendengar suara gesekan tulang-tulang sendi, hingga terdengar suara-suara memilukan yaitu krek, krek, krek saat ruku' dan sujud yang bersumber dari arah imam, manusia agung Nabi Muhammad SAW.

Selesai salat, para sahabat saling pandang dengan firasat yang sama, mereka mengira Nabi sedang sakit. Maka, selesai salat mereka bergerombol mengelilingi Nabi. Saat itu Sayidina Umar memberanikan diri bertanya pada Nabi SAW: "Wahai Rasulullah, apakah Anda sedang sakit?" "Tidak" jawab Nabi.

Sayyidna Umar kembali bertanya: "Wahai Rasulullah apakah Anda sedang sakit?" "Tidak," jawab Nabi.

Sayidina Umar melanjutkan pertanyaannya: "Tapi wahai Rasulullah, saat salat tadi kami mendengar ada bunyi sendi yang saling bergesekan dari tubuhmu."

"Tidak, aku tidak sedang sakit," jawab Nabi meyakinkan para sahabat.

Para sahabat tak henti-hentinya memastikan Nabi dalam keadaan sehat dengan bertanya keadaan beliau, namun jawaban yang keluar dari Nabi tetap sama, beliau menegaskan kalau beliau tidak sakit.

Para sahabat tidak putus asa, mereka terus bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, apakah beliau sedang sakit atau tidak, karena telinga mereka telah menjadi saksi atas suara gemeretak batu ketika Nabi menggerakkan badan saat salat. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada diri Rasulullah, yang sangat sangat mereka cintai.

Karena pertanyaan sahabat tidak berkesudahan, akhirnya dalam keadaan sangat terpaksa Nabi memperjelas jawabannya dengan membuka bajunya. Perlahan Nabi membuka kain yang menutupi perut indahnya. Dan betapa kagetnya para sahabat melihat ada batu-batu kecil seukuran kerikil dalam kain itu.

Umar pun bertanya: "Wahai Rasulullah, untuk apakah Anda membalut perut dengan batu?" "Aku lapar, dan Aku tidak memiliki apa-apa untuk dimakan," kata Rasulullah menjawab.

Dengan suara bergetar karena sedih Sayyidina Umar berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang kami? Jika Anda kelaparan, tidak mungkin kami tidak akan memberikan makanan paling lezat. Dengan merendahkan suaranya, Umar kembali berkata, "Wahai Rasulullah, kami semua ya Rasulullah, sahabatmu ini, hidup dalam kemakmuran".

"Tidak wahai Umar," jawab Nabi SAW.

Nabi melanjutkan penjelasannya: "Aku tahu bahwa kalian tidak hanya akan memberikan makanan lezat padaku, tapi juga harta bahkan nyawa kalian untukku sebagai bukti rasa cinta. Tapi Umar, bagaimanakah nantinya aku akan menghadap Allah Ta'ala dan bagaimana caraku menyembunyikan malu, jika sebagai pemimpin aku menjadi beban atas orang yang aku pimpin."

"Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak." demikian kata Rasulullah yang membuat sahabat tertegun tak sanggup berkata-kata lagi.

Nabi Muhammad SAW adalah sosok teladan dalam segala hal. Untuk urusan perut saja, Beliau jarang merasakan kenyang dan tidak suka bermewah-mewahan dalam hal makanan dan minuman.

Sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim, Beliau SAW pernah memakan buah kurma yang buruk untuk mengganjal perutnya dari rasa lapar.

Itulah mengapa risalah yang dibawa Beliau bisa eksis hingga saat ini tentu karena akhlaknya yang mulia. Andai Nabi SAW ingin memikirkan dirinya sendiri, Beliau cukup berucap satu kata kepada sahabat untuk memenuhi perutnya dengan makanan lezat. Dan apa yang diinginkannya pasti akan tersedia.

Hikmah dan Pelajaran Berharga

Habib Quraisy Baharun mengatakan, kisah ini menyimpan pelajaran berharga betapa Rasulullah SAW telah menunjukkan akhlah yang begitu agung. Nabi Muhammad SAW mengajarkan pada manusia cara untuk berpuasa, imsak, menahan nafsu dan diri.

Beliau mengajarkan tentang bagaimana berpuasa yang indah, yaitu menahan diri untuk tidak memanfaatkan apa yang menjadi amanahnya hanya untuk kelangsungan hidupnya.

Bagi orang beriman sama saja, hidup miskin atau kaya seharusnya tetap tampil sederhana. Kerena begitulah yang dicontohkan panutan dan junjungan Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh mengagumkan untuk setiap perkara yang menimpa orang beriman, semuanya adalah baik baginya. Tidaklah hal tersebut terjadi kecuali untuk orang yang beriman. Jika mendapat kebahagiaan dia bersyukur, itu adalah yang terbaik untuknya. Jika ia ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan, dia bersabar. Maka itulah yang terbaik baginya." (HR Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah)

(rhs)

Rusman Siregar

https://kalam.sindonews.com

 

Senin, 23 November 2020

Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid

 Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid

 

Dia adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay al-Quraisyiah al-Asadiyah. Ibunya bernama Fatimah binti Zaidah bin Jundub. Beliau dilahirkan di Mekah tahun 68 sebelum hijrah. Ia berasal dari keluarga bangsawan Quraisy. Khadijah dididik dengan akhlak mulia dan terhormat sebagai seorang wanita. Sehingga tumbuhlah ia dengan karakter yang kuat, cerdas, dan menjaga kehormatan.

Nasab Khadijah bertemu dengan nasab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek kelima, Qushay. Ia adalah wanita pertama yang dinikahi oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang pertama yang menerima dakwah Islam. Dan wanita yang paling dicintai beliau.

Khadijah di Masa Jahiliyah

Di masa jahiliyah, sebelum kenal dengan Rasulullah, Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anhu dikenal sebagai seorang wanita yang kaya dan seorang pedagang besar. Ia bekerja sama dengan laki-laki untuk bagi hasil barang dagangannya. Karena laki-lakilah yang terbiasa bersafar ke Syam untuk berdagang. Sedangkan wanita-wanita di masa itu tidak terbiasa keluar-keluar menuju tempat yang jauh. Inilah tradisi Arab kala itu, hal ini juga sesuai dengan sifat menjaga kesucian diri yang beliau miliki.

Hari-hari terus berlalu, hingga beliau mendengar kisah tentang seseorang yang bernama Muhammad bin Abdullah. Seorang laki-laki yang berakhlak mulia. Jujur lagi terpercaya. Jarang sekali terdengar di masa jahiliyah ada seorang laki-laki memiliki sifat sedemikian mulia. Ia kirim seseorang untuk menawarkan kerja sama dagang menuju Syam. Ia berikan barang kualitas super, yang tidak ia percayakan kepada pedagang lainnya.

Ketika Khadijah dan Muhammad telah sepakat bekerja sama, Khadijah menyertakan seorang budak laki-lakinya yang bernama Maisaroh untuk membawa barang dagangan itu hingga ke Syam. Di daerah Romawi itu, Muhammad bin Abdullah berteduh di bawah pohon dekat dengan kuil milik seorang pendeta. Si pendeta datang mendekati Maisaroh. Ia berkata, “Siapa laki-laki yang berteduh di bawah pohon itu?” “Ia seorang laki-laki Quraisy dari penduduk al-Haram”, jawab Maisaroh. Si pendeta berkata lagi, “Tak seorang pun yang singgah di bahwa pohon ini kecuali seorang nabi.”

Kemudian Rasulullah mulai menjual barang dagangannya dan membeli barang lainnya yang beliau inginkan. Sesampainya di Mekah, beliau menemui Khadijah dengan hasil keuntungan dagangnya. Kemudian Khadijah membeli barang bawaannya. Beliau pun mendapatkan untung berkali lipat.

Maisaroh mengabarkan tentang kemuliaan akhlak Muhammad bin Abdullah dan sifat-sifatnya yang istimewa, yang ia lihat saat bersafar bersama. Demikianlah safar, ia menampakkan sesuatu yang tersembunyi dari perangai manusia. Terlebih safar di masa itu yang kendaraan dan keadaannya tidak senyaman sekarang.

Membuka Hati Untuk Laki-Laki Mulia

Sebelumnya Khadijah telah menikah dua kali. Pertama menikah dengan Atiq bin A’id al-Makhzumi, kemudian ia meninggal. Dan yang kedua, dengan Abu Halah bin Nabbasy at-Tamimi, yang juga meninggal. Tapi dari Abu Halah, ia mendapatkan seorang putra yang bernama Hind bin Abu Halah. Setelah itu, Khadijah menutup hatinya dari semua laki-laki. Ia tak ingin lagi menikah dan memutuskan hidup sendiri. Tapi, cerita-cerita tentang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ia dengar dari orang-orang dan dari Maisaroh menggoyahkan keteguhannya. Ia begitu kagum dengan seorang laki-laki yang begitu mulia akhlaknya. Tidak hanya mendengar, ia pun membuktikkan dan “mengujinya” dengan mengajak kerja sama dalam masalah uang. Semakin tampaklah amanahnya dan sifat-sifat mulia lainnya.

Dari sini dapat kita petik pelajaran, saat tertarik dengan seorang laki-laki atau perempuan, jangan tergesa-gesa menyatakan perasaan padanya. Uji dulu akhlaknya, apakah kebaikan yang disampaikan seseorang tentangnya benar atau hanya kabar burung saja. Khadijah adalah wanita yang cerdas, ia tidak tergesa-gesa. Emosinya stabil. Sehingga ia bisa mengetahui kabar tentang Nabi Muhammad, tanpa membuatnya merasa malu atau jatuh harga dirinya.

Singkat cerita, terjadilah pernikahan antara dua orang yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Khadijah binti Khuwailid. Maharnya adalah 500 dirham. Hal ini semakin menegaskan bahwa jodoh seseorang sesuai dengan keadaan dirinya. Pernikahan ini berlangsung saat Muhammad bin Abdullah belum mendapatkan kedudukan istimewa sebagai seorang nabi dan rasul. Sebelum Muhammad dikenal dan memiliki banyak pengikut. Sebelum Muhammad kaya dan menjadi pemimpin negara. Rumah tangga keduanya berlangsung kurang lebih selama 25 tahun. Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun.

Kedua pasangan mulia ini terus bersama hingga Khadijah wafat di usia 65 tahun. Dan Rasulullah berusia 50 tahun. Ini adalah masa terlama kebersamaan nabi bersama istrinya, dibanding dengan istri-istri yang lain. Nabi tak menikahi wanita lain saat bersama Khadijah. Hal itu karena kemuliaan yang dimiliki Khadijah. Ia juga memberi beliau putra dan putri. Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan si bungsu Fatimah adalah buah dari pernikahan keduanya.

Memeluk Islam

Allah Ta’ala menganugerahkan Ummul Mukminin Khadijah hati dan ruh yang suci dan cahaya keimanan. Sehingga ia begitu siap ketika kebaikan datang menghampirinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama:

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” [Quran Al-Alaq: 1].

Nabi segera pulang dalam keadaan takut dan gemetar. Kemudian beliau bertemu dengan istrinya. “Selimuti aku. Selimuti aku.”, kata Nabi. Khadijah menyelimutinya sampai rasa cemasnya sirna. Nabi berkata,

 

أَيْ خديجة، ما لي لقد خشيت على نفسي

 

“Khadijah, apa yang terjadi padaku? Aku khawatir terjadi apa-apa pada diriku.” Khadijah menanggapi dengan kalimat yang sangat berarti bagi pskisi Nabi, ia berkata,

 

كلا أبشر، فوالله لا يخزيك الله أبدًا، فوالله إنك لتصل الرحم، وتصدق الحديث، وتحمل الكلَّ، وتكسب المعدوم، وتقري الضيف، وتعين على نوائب الحق

 

“Tidak. Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, engkau adalah seorang yang menyambung silaturahim, jujur ucapannya, memikul kesulitan orang lain, menanggung orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan mendukung usaha-usaha kebenaran.”

Kemudian ia mengajak Nabi menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal. Di masa jahiliyah, Waraqah adalah seorang laki-laki Nasrani. Ia menulis Injil dengan Bahasa Arab. Dan ia sudah tua sampai-sampai buta karena ketuaannya. Ia memberi kabar baik kepada Nabi. Waraqah bercerita bahwa apa yang baru saja beliau jumpai adlaah an-Namus (Jibril) yang juga datang menemui Musa.

Dalam keadaan yang aneh dan membingungkan itu, Khadijah lah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentu hal ini semakin meringankan beban psikis Nabi. Nabi tak pernah mendengar sesuatu pun dari Khadijah yang membuat beliau tidak suka. Tidak mendustakannya dan membuatnya bersedih. Melalui wanita mulia ini, Allah berikan banyak jalan keluar dan kemudahan untuk beliau. Saat ia pulang mendakwahkan risalahnya, Khadijah selalu membuatnya jiwa kembali teguh dan bersemangat. Meringankan dan membenarkannya di saat orang-orang mendustakannya.

Membayangkan keadaan tersebut. Dan sulitnya merintis dakwah di tengah orang-orang yang mengingkari. Tidak hanya mengingkari, mereka juga memusuhi dan merespon dakwah dengan gangguan. Tapi beliau memiliki istri seperti Khadijah. Yang melapangkan dan tak pernah mengecewakannya sedikit pun. Dari sini kita tahu, mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikahi wanita lain selain dirinya saat ia masih hidup.

Wanita Yang Cerdas

Semua sumber-sumber sejarah yang menceritakan biografi Khadijah pasti menukilkan bahwa beliau adalah wanita yang cerdas. Hal itu terlihat dari bagaimana Khadijah meneliti sifat Muhammad bin Abdullah sebelum menjadi nabi dan bagaimana ia mampu bernegosiasi membersarkan usahanya.

Kecerdasarnnya yang lain adalah saat ia ingin menikah dengan Nabi. Ia memilih seorang utusan yang bernama Nafisah bin Maniyah. Wanita ini ia pilih dan tugaskan meneliti Nabi Muhammad setelah pulang dari Syam. Agar ia tidak merasa malu -karena umumnya wanita malu menyatakan perasaan terlebih dahulu-, tampaklah seolah-olah Nabi Muhammad lah yang menginginkan Khadijah dan meminta dirinya untuk menikah dengan beliau.

Setelah menikah, kembali Khadijah memberi ketaladanan dalam kematangan akal dan pikiran. Ia tidak panik tatkala suaminya dalam kebingunan menerima wahyu pertama. Ia jawab dengan yakin bahwa Allah tidak akan menghinakan suaminya. Jawaban itu ia kuatkan dengan alasan-alasan. Sehingga sang suami benar-benar merasa tenang. Tidak cukup sampai di situ, ia bawa suaminya ke Waraqah agar semakin tenang dengan peristiwa ajaib yang tengah terjadi. Perhatikanlah tahapan-tahapan Khadijah dalam menenangkan suaminya dalam menerima wahyu, pasti semakin tampaklah kecerdasan dan kematangan jiwanya.

Membantu Dakwah Islam

Bantuan Ummul Mukminin -setelah taufik dari Allah- terhadap dakwah amatlah banyak. Kalau seandainya kita sebutkan satu saja, sebagai orang pertama yang beriman, tentu itu sudah cukup sebagai keutamaan beliau. Itu sangat penting bagi Rasulullah. Sangat penting untuk beliau diterima di lingkungannya. Karena istrinya adalah orang pertama yang beriman.

Setelah memeluk Islam, beliau korbankan hidupnya. Kehidupan yang tenang dan nyaman, berubah menjadi kehidupan yang menantang dan penuh gangguan. Kehidupan dakwah, jihad, dan pengepungan. Keadaan tersebut sama sekali tak mengurangi cintanya kepada suaminya, bahkan ia bertambah cinta kepada sang suami. Bertambah cinta pula terhadap agama yang ia bawa. Ia senantiasa mendampingi dan mendukungnya mencapai tujuan yang diperintahkan Allah Ta’ala.

Ketika orang-orang Quraisy memboikot dan mengasingkan bani Hasyim ke pinggiran Mekah, Khadijah tak ragu pergi bersama suaminya. Waktu pengasingan dan boikot tersebut bukanlah waktu yang singkat. Bani Hasyim begitu menderita, kekurangan makanan, sampai-sampai mereka makan dedaunan karena tak ada makanan. Mereka seolah-olah akan mati kelaparan. Bayangkan! Quraisy memboikot mereka dengan tidak menikahi mereka, tidak membeli atau menjual sesuatu kepada mereka selama tiga tahun. Penderitaan seperti apa yang akan terjadi kalau demikian keadaannya? Dalam keadaan tersebut, Khadijah yang bukan bagian dari Bani Hasyim, tetap menemani sang suami. Padahal ia dulunya wanita kaya dan berkecukupan. Inilah jalan dakwah, tidak mudah. Sehingga pasangan hidup orang-orang yang meniti jalan dakwah pun adalah orang-orang yang tangguh. Sekali lagi, inilah di antara alasan nabi senantiasa mengenangnya dan tidak melakukan poligami saat bersamanya. Sekali lagi kita renungkan pula, jodoh seseorang itu sekadar kualitas dirinya.

Keutamaan Khadijah

Pertama: Wanita terbaik

Tidak diragukan lagi, wanita dengan keadaan demikian adalah wanita yang terbaik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lisannya sendiri memuji kemuliaan Khadijah. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ العَالَمِينَ: مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

 

“Cukup bagimu 4 wanita terbaik di dunia: Maryam bintu Imran (Ibunda nabi Isa), Khadijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, dan Asiyah Istri Firaun.” (HR. Ahmad 12391, Turmudzi 3878, dan sanadnya dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)

Kedua: Allah menitip salam untuknya melalui Jibril

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: ‘Pada suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sambil mengatakan pada beliau:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

 

“Wahai Rasulallah shalallahu’alaihi wa sallam, Ini Khadijah telah datang. Bersamanya sebuah bejana yang berisi lauk, makanan, dan minuman. Jika dirinya sampai katakan padanya bahwa Rabbnya dan diriku mengucapkan salam untuknya. Dan kabarkan pula bahwa untuknya rumah di surga dari emas yang nyaman tidak bising dan merasa capai.” (HR. Bukhari no: 3820. Muslim no: 2432).

Ketiga: Nabi menganggap mencintainya adalah karunia.

Setelah mengetahui bagaimana setianya ibunda Khadijah menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu kita paham bagaimana kedudukan beliau di sisinya. Hal itu juga tampak dari riwayat-riwayat betapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering menyebut namanya. Memuliakan teman-temannya sepeninggal beliau. Sampai-sampai Rasulullah ucapkan sebuah kalimat di hadapan Aisyah, yang menjelaskan kedudukan Khadijah di hati beliau.

 

إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

 

“Sungguh Allah telah menganugrahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah.” (HR. Muslim no 2435).

Wafatnya

Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu ‘anhu wafat tiga tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah. Saat itu beliau berusia 65 tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang turun memakamkan jenazah sang istri tercinta. Dengan tangannya yang mulia, beliau memasukkan jenazahnya ke kuburnya.

Wafatnya Ummul Mukminin Khadijah sangat berdekatan waktunya dengan wafatnya Abu Thalib. Rasulullah benar-benar merasa sedih dengan wafatnya dua orang yang beliau cintai ini. Dua orang penolong dakwahnya. Ditambah lagi, sang paman wafat dalam keadaan berada di atas agama nenek moyangnya. Karena begitu sedihnya Rasulullah, tahun ini pun dinamakan Tahun Kesedihan.

 

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Artikel www.KisahMuslim.com

 

 

Rabu, 18 November 2020

Putri Nabi Muhammad: Fatimah Az Zahra

 Putri Nabi Muhammad: Fatimah Az Zahra

 

''Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku, siapa yang membuatnya gembira maka ia telah membahagiakanku.'' (Al Hadis).

Di kalangan suku Quraisy, Fatimah dikenal fasih dan pintar. Ia meriwayatkan hadis dari ayahnya kepada kedua putranya Hasan dan Husein, suaminya Ali bin Abi Thalib, Aisyah, Ummu Salamah, Salma Ummu Rafi', dan Anas bin Malik.

Kata 'Fatimah' berasal dari suku kata 'Fathama' yang berarti menyapih atau menghentikan atau menjauhkan.

Sebuah riwayat marfu' menyebutkan, dinamakan 'Fatimah' karena Allah Ta'ala menjamin menjauhkan putri bungsu Nabi SAW berikut seluruh keturunannya dari neraka. Riwayat ini diketengahkan oleh al Hafidz ad-Dimasyqi.

Sementara riwayat versi an-Nasa-i menyebutkan bahwa Allah Ta'ala akan membebaskan Fatimah beserta orang-orang yang mencintainya dari neraka.

Fatimah juga disebut al-Battul yang berarti memisahkan, karena kenyataannya ia memang terpisah atau berbeda dari wanita-wanita lain sesamanya, baik dari segi keutamaan, agama dan kecantikannya.

Ada yang mengatakan, karena ia memisahkan diri dari keduniaan untuk mendekat kepada Allah Ta'ala. Fatimah Az-Zahra sangat terkenal di dunia Islam, karena hidup paling dekat dan paling lama bersama Nabi Muhammad SAW. Dari dialah keturunan Nabi Muhammad berkembang yang tersebar di hampir semua negeri Islam.

Fatimah dilahirkan di Makkah pada 20 Jumadil Akhir, 18 tahun sebelum Nabi Muhammad hijrah atau di tahun kelima dari kerasulannya. Dia adalah putri bungsu Nabi Muhammad SAW setelah Zainab, Ruqayah dan Ummu Kaltsum.

Saudara laki-lakinya yang tertua Qasim dan Abdullah, meninggal dunia pada usia muda. Setahun setelah hijrah, Fatimah dinikahkan dengan Ali bin bi Thalib. Banyak yang ingin menikahinya kala itu. Maklum saja, selain rupawan, ia adalah perempuan terhormat, anak Rasulullah SAW. Dia pernah hendak dilamar oleh Abu Bakar dan Umar, keduanya sahabat Nabi Muhammad SAW, namun ditolak secara halus oleh Rasulullah SAW.

Sementara itu, Ali tidak berani melamar Fatimah karena kemiskinannya. Namun Nabi Muhammad SAW mendorongnya dengan memberi bantuan sekadarnya untuk persiapan rumah tangga mereka. Maskawinnya sebesar 500 dirham (10 gram emas), sebagian diperolehnya dengan menjual baju besinya.

Nabi Muhammad SAW memilih Ali sebagai suami Fatimah karena ia adalah anggota keluarga yang sangat arif dan terpelajar, di samping merupakan orang pertama yang memeluk Islam.

Dari perkawinan Fatimah dan Ali, lahirlah Hasan dan Husein. Tak lama kemudian lahir berturut-turut: Muhsin serta tiga orang putri, Zaenab, Ummu Kaltsum, dan Ruqoyyah. Kehidupan rumah tangga Fatimah sangatlah sederhana, bahkan sering juga kekurangan. Beberapa kali ia harus menggadaikan barang-barang keperluan rumah tangga mereka untuk membeli makanan, sampai-sampai kerudung Fatimah pernah digadaikan kepada seorang Yahudi Madinah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

Namun demikian, mereka tetap bahagia, lestari sebagai suami istri sampai akhir hayat. Fatimah adalah putri kesayangan Rasulullah SAW.

Suatu waktu Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan kepada Ali, ''Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku, siapa yang membuatnya gembira, maka ia telah membahagiakanku.''

Ini dikatakan oleh Rasulullah SAW sehubungan dengan keinginan seorang tokoh Quraisy untuk menikahkan anak perempuannya kepada Ali. Ali tidak menolak tetapi segera dicegah oleh Rasulullah SAW. Sikap Nabi Muhammad SAW semakin keras ketika Abu Jahal manawarkan anak perempuannya kepada Ali. Nabi Muhammad SAW mengatakan, ''Ceraikan dulu Fatimah jika Ali berniat untuk menikahkannya.'' Ini merupakan bukti kuat akan kecintaan Rasulullah SAW kepada putri bungsunya ini. Memang Nabi Muhammad SAW sangat sayang kepada Fatimah.

Sewaktu Nabi Muhammad SAW sakit keras menjelang wafatnya, Fatimah tiada hentinya menangis. Nabi Muhammad SAW memanggilnya dan berbisik kepadanya, tangisannya semakin bertambah, lalu Rasulullah SAW berbisik lagi dan dia pun tersenyum.

Kemudian hal tersebut ditanyakan orang kepada Fatimah, dan dia menjawab bahwa dia menangis karena ayahnya memberitahukan kepadanya bahwa tak lama lagi sang ayah akan meninggal, tapi dia tersenyum karena seperti kata ayahnya, dialah yang pertama akan menjumpainya di akhirat nanti.

Fatimah meninggal tak sampai selang setahun dari ayahnya. Diriwayatkan dari Aisyah RA, ''Fatimah wafat setelah enam bulan ayahnya, Rasulullah SAW, tepatnya pada hari Selasa bulan Ramadhan tahun 11 Hijriyah. Fatimah RA wafat dalam usia 28 tahun.

Merasa ajal seudah dekat, dia membersihkan dirinya, memakai pakaian yang terbaik, memakai wewangian dibantu oleh iparnya, Asma bin Abi Thalib. Dia meninggal dengan satu pesan; hanya Ali, suaminya, yang boleh menyentuh tubuhnya.''

Fatimah adalah seorang wanita yang agung, seorang ahli hukum Islam. Dia adalah tokoh wanita dalam bidang kemasyarakatan, orangnya sangat sabar dan bersahaja, dan akhlaknya sangat mulia. 

Rep: Syahrudin el-Fikri/ Red: Elba Damhuri

Oleh: Syahrudin El-Fikri

https://republika.co.id

 

Kisah Fatimah Putri Salihah Rasulullah yang Dirindukan Surga

 Kisah Fatimah Putri Salihah Rasulullah yang Dirindukan Surga

 

Jakarta - Sosok Fatimah Az Zahra, putri bungsu Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khadijah, tidak asing bagi kaum muslim di seluruh dunia. Allah SWT telah menjanjikan surga kepada Fatimah yang juga menjadi role model perempuan Islam tersebut.

 

سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ

 

Artinya: "Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah." (HR Muslim).

Istri khalifah Ali bin Abi Thalib RA dengan julukan Az Zahra ini memiliki karakter yang sangat mirip dengan Rasulullah SAW. Sifat Fatimah Az Zahra juga sangat pemalu, hingga permintaan kedua sebelum meninggal adalah dikubur pada malam hari.

"Ketika kau menguburku maka tutuplah seluruh tubuhku dengan baik. Saya tidak ingin siapa saja melihat bagian tubuhnya. Selain itu, kuburkanlah pada malam hari karena aku malu karena kelahiran banyak orang," kata Fatimah dikutip dari situs As-Sunna Foundation of America.

Sedangkan permintaan pertamanya adalah terkait suaminya yang kelak menjadi satu dari empat khalifah. Fatimah ingin suaminya menikah lagi sehingga bisa meneruskan tugas terkait Islam dan mengasuh putra mereka.

Ali sepeninggal Fatimah menikahi Umamah, anak perempuan dari salah seorang saudaranya, yang dikenal menyayangi Hasan dan Husain. Anak Fatimah Az Zahra dengan Ali selain Hasan dan Husain adalah Muhsin, Zaynab, dan Ummu Kultsum.

Fatimah meninggal di usia 29 tahun atau 6 bulan setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Dia dimakamkan pada Kamis 20 Ramadhan di pemakaman Jannat al-Baqee.`

Kisah teladan Fatimah Az Zahra yang menerima kebenaran wahyu Allah SWT pada usia lima tahun dan menjadi muslim termuda, sudah seharusnya menjadi inspirasi kaum muslim.

Keunggulan sifat dan karakter tersebut seolah melengkapi kecantikan Fatimah Az Zahra yang bersinar. Wajah Fatimah Az Zahra kerap digambarkan berkulit putih dengan pipi yang kemerahan. Berikut kisah singkat Fatimah Az Zahra di berbagai tingkatan usia:

a. Di usia 6-7 tahun

Fatimah selalu menemani, membantu, dan melindungi ayahnya setelah menerima Islam. Fatimah dikisahkan melihat `Uqbah ibn Abi Mu`ayt menaruh isi perut binatang di punggung Rasulullah saat sedang sujud. Sambil menangis, Fatimah lari dan membersihkan kotoran tersebut dari punggung Rasulullah. Dia kemudian berkata tak perlu menangis karena Allah SWT akan memenangkan Islam dari musuhnya.

b. Di usia 10 tahun

Pada usia beranjak remaja, Fatimah memiliki kesabaran luar biasa di tengah tekanan Quraisy pada periode Mihna. Dia telah kehilangan tiga saudara perempuan, laki-laki, dan harus melihat ayahnya terus disiksa. Kesabaran yang seolah tidak pernah habis ini menjadi karakter Fatimah bahkan setelah ia menikah dan hidup miskin bersama Ali.

c. Di usia 13 tahun

Ketika remaja, Fatimah melihat orang tuanya diisolasi di Shi'b Abi Talib yang seperti penjara di tengah gurun pasir. Selama tiga tahun, Fatimah dan orang tuanya hanya bisa makan daun-daunan bersama para muslim dalam penjara tersebut. Di usia 16 tahun, Fatimah kaget saat tahu kondisi ibunya hingga meninggal 2-3 bulan kemudian usai periode penjara.

d. Di usia 18 tahun

Fatimah harus menyaksikan ayahnya hijrah lebih dulu ke Madinah meninggalkannya sendirian di Makkah. Pertimbangannya, membawa Fatimah membuat rombongan hijrah makin besar hingga mudah diketahui Quraisy. Hal ini berisiko buruk bagi keselamatan Nabi Muhammad SAW dan Fatimah, sehingga dia pergi bersama rombongan berikutnya.

Di usia 18 tahun, Fatimah juga menyaksikan ayahnya memiliki pendamping lain sepeninggal Khadijah. Tawaran pernikahan mulai diterima Fatimah dari para sahabat Nabi Muhammad SAW. Pilihan Rasulullah SAW jatuh pada Ali yang melamarnya lewat pelindung tubuh saat perang seharga 250 dirham. Uang tersebut untuk membeli mas kawin dan keperluan pernikahan lainnya.

e. Menjalani pernikahan dan hidup seadanya

Pasangan Ali dan Fatimah hidup seadanya, dengan pekerjaan sebagai pembawa air serta pembuat roti. Suatu hari, Ali mengeluh punggungnya sakit sedangkan Fatimah merasakan hal yang sama pada tangannya. Keduanya kemudian pergi ke rumah Nabi Muhammad SAW untuk meminta seorang budak. Rasulullah SAW menolak permintaan tersebut dan mendatangi rumah keduanya.

Saat itu Ali membukakan pintu sedangkan Fatimah masih di tempat tidur. Nabi Muhammad SAW kemudian duduk di antara mereka dan menyarankan membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali menjelang tidur. Nabi Muhammad SAW mengatakan, kebutuhan mereka akan terpenuhi atas izin Allah SWT. Ali kemudian mengatakan, kekuatan mereka meningkat hingga tak perlu lagi budak atas izin Allah SWT.

f. Di usia 28 tahun

Menjelang usia 28 tahun berbagai pengalaman hidup memperkuat karakter Fatimah sebagai pribadi yang dewasa, sabar, dan bijak. Dia sempat bertengkar dengan Ali, karena suaminya ditawari menikah lagi dengan Juwayriyah binti Abu Jahal. Ali mengatakan tidak menerima tawaran tersebut, sehingga pasangan ini rukun dan menyelesaikan masalahnya.

Di usia ini, Fatimah juga harus menghadapi kehilangan Rasulullah SAW. Fatimah tahu karena Rasulullah tak lagi mencium keningnya seperti biasa karena kondisi yang makin menurun.

Saat itu, Fatimah harus mendekatkan telinganya pada Nabi Muhammad SAW untuk mendengar yang dikatakan. Nabi dikisahkan mengatakan waktu meninggal dan Fatimah akan menyusul dalam waktu tidak lama. Fatimah juga dijanjikan surga bersama Khadijah, Asiyah, dan Maryam. Fatimah kemudian menyaksikan ayahnya berpulang dan menyusul setengah tahun setelahnya.

detikers nikmati kumpulan berita harian Hikmah terbaru dan terlengkap seputar Islam dan kisah inspiratif di sini.

Rosmha Widiyani

https://news.detik.com

 

Jumat, 13 November 2020

Kisah Kesederhanaan Fatimah Az Zahra Putri Rasulullah SAW

 Kisah Kesederhanaan Fatimah Az Zahra Putri Rasulullah SAW

 

Menjadi anak raja hampir selalu membawa takdir keberuntungan. Kekuasaan puncak sang ayah tak hanya memungkinkan dia hidup serba kecukupan tapi juga berlumuran kemewahan. Lantas, bagaimana dengan putri Nabi Muhammad SAW Fatimah Az Zahra, pemimpin tertinggi dan pelaksana risalah ilahi?

Suatu hari Fatimah Az Zahra, dihampiri Abdurrahman bin ‘Auf. Dia mengabarkan bahwa Rasulullah tengah menangis sedih selepas menerima wahyu dari Jibril. Abdurrahman datang dalam rangka mencari obat bagi suasana hati Nabi yang kalut pada waktu itu. Satu hal yang selalu membuat Rasulullah bahagia adalah melihat putrinya.

“Baik. Tolong menyingkirlah sejenak hingga aku selesai ganti pakaian.” Demikian diceritakan dalam kitab al-Aqthaf ad-Daniyyah melalui riwayat Umar bin Khattab.

Keduanya lalu berangkat ke tempat Rasulullah. Saat itu Fathimah menyelimuti tubuhnya dengan pakaian yang usang. Ada 12 jahitan dalam lembar kain tersebut. Serpihan dedaunan kurma juga tampak menempel di sela-selanya.

Sayidina Umar bin Khattab menepuk kepala ketika menyaksikan penampilan Fathimah. “Betapa nelangsa putri Muhammad SAW. Para putri kaisar dan raja mengenakan sutra-sutra halus sementara Fatimah anak perempuan utusan Allah puas dengan selimut bulu dengan 12 jahitan dan dedaunan kurma.”

Sesampainya menghadap ayahandanya, Fathimah bertutur, “Ya Rasulullah, tahukah bahwa Umar terheran-heran dengan pakaianku? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kemuliaan, aku dan Ali (Sayyidina Ali bin Abi Thalib, suaminya) selama lima tahun tak pernah menggunakan kasur kecuali kulit kambing.”

Fathimah menceritakan, keluarganya menggunakan kulit kambing tersebut hanya pada malam hari. Sementara pada siang hari kulit ini menjelma sebagai tempat makan untuk unta. Bantal mereka hanya terbuat dari kulit yang berisi serpihan dedaunan kurma.

“Wahai Umar, tinggalkan putriku. Mungkin Fatimah sedang menjadi kuda pacu yang unggul (al-khailus sabiq),” sabda Nabi kepada sahabatnya itu.

Analogi kuda pacu merujuk pada pengertian keutamaan sikap Fathimah yang mengungguli seluruh putri-putri raja lainnya. “Tebusanmu (wahai Ayah) adalah diriku,” sahut Fatimah.

Dengan kedudukan dan kharisma ayahandanya yang luar biasa, Fatimah Az Zahra sesungguhnya bisa memperoleh apa saja yang ia kehendaki, lebih dari sekadar pakaian dan kasur yang bagus. Namun, kepribadian Rasulullah yang bersahaja tampaknya memang mewaris ke dalam dirinya. Fathimah tetap tampil sederhana, dengan segenap kebesaran dan kemewahan jiwanya.[]

https://www.islampos.com

Kisah Teladan Siti Fatimah Az Zahra, Putri Rasulullah yang Jadi Ahli Surga

 Kisah Teladan Siti Fatimah Az Zahra, Putri Rasulullah yang Jadi Ahli Surga

 

Siti Fatimah Az Zahra merupakan putri bungsu Rasullah SAW dengan Siti Khadijah. Ia lahir di Mekah pada tanggal 20 Jumadil Akhir, lima tahun sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul. 

Getirnya hidup harus ia rasakan ketika masih belia. Di awal kenabian Nabi Muhammad, keluarganya harus menerima caci maki dan perundungan dari kaum Quraisy. Selain itu, ibunya, Siti Khadijah, wafat ketika Fatimah masih anak-anak. 

Meski demikian, pahitnya hidup yang harus ia alami tidak menjadikan Fatimah sosok yang lemah dan pendendam. Nabi Muhammad membimbing Fatimah hingga ia dapat meneladani akhlak dan ilmu yang diberikan.

Hasilnya, Fatimah Az Zahra menjadi sosok yang tegar dan bersahaja, yang menjadikannya sebagai panutan bagi perempuan Islam. 

Nah, berikut adalah kisah teladan Fatimah Az Zahra yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran. 

Tak Gentar Menemani Rasulullah

Di usia belia, Fatimah dihadapkan pada kenyataan bahwa ayahnya mengemban tugas berat sebagai rasul Allah. Setelah Khadijah meninggal, Fatimah dengan setia mendampingi ayahnya untuk menggantikan peran ibunya. Itulah sebabnya ia terkenal dengan sebutan Ummu Abiha (anak yang menjadi seperti ibu bagi ayahnya). 

Di awal kenabian saat Rasulullah menunaikan ibadah di depan Ka'bah, ia diganggu oleh sekumpulan orang Quraisy. Ketika Nabi Muhammad bersujud, orang-orang itu menumpahkan kotoran unta di punggungnya. Fatimah yang saat itu masih kecil segera berlari menuju ayahnya. Tanpa rasa takut, ia menghardik orang Quraisy yang mengganggu ayahnya. 

Tidak berhenti sampai di situ, Fatimah juga terjun ke medan perang, termasuk saat perang Uhud.  Ia membantu kaum muslimin dengan mempersiapkan logistik, menyediakan air minum, serta merawat yang terluka. 

Ketaatannya kepada Allah SWT ia wujudkan dengan perilakunya sehari-hari terhadap sesama manusia. Fatimah bahkan pernah menyedekahkan kalung hadiah pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib kepada seorang musafir. 

Suatu hari, seorang musafir menemui Rasulullah di sebuah masjid. Musafir itu meminta belas kasih Rasulullah karena bekal makanan dan seluruh hartanya telah habis. Namun, saat itu, Rasulullah tidak memiliki makanan dan barang-barang yang bisa diberikan kepada si musafir. 

Nabi Muhammad kemudian menyuruhnya untuk pergi ke rumahnya dengan maksud menemui Fatimah. "Pergilah ke tempat yang dicintai Allah dan Rasulnya. Dia lebih mengutamakan Allah daripada dirinya sendiri, itu lah Fatimah, putriku." 

Si musafir pun menemui Fatimah. Sayangnya, Fatimah saat itu tidak memiliki makanan dan uang untuk diberikan kepada si musafir. Fatimah Az Zahra kemudian ingat ia memiliki kalung hadiah pernikahan dari sang suami. Dengan ikhlas, Fatimah menyedekahkan kalung tersebut.  

Setelah menerima kalung dari Fatimah, musafir tersebut menemui Rasulullah dan menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. Rasulullah pun sangat bangga kepada Fatimah. Saat itu, salah satu sahabat Nabi, Amar bin Yassir turut mendengar cerita si musafir. Tanpa ragu, ia membeli kalung tersebut seharga 20 dinar ditambah sebuah pakaian dan seekor unta. 

Alih-alih menyimpannya, Amar malah mengutus budaknya, Asham, untuk memberikan kalung tersebut kepada Fatimah. Ammar berkata "Pergilah engkau menghadap Rasulullah dan katakan aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. Jadi, mulai hari ini kamu bukan budakku lagi tetapi budak Rasulullah."

Fatimah sangat bahagia ketika menerima kalungnya kembali. Meski Amar telah berpesan bahwa Asham akan menjadi budak Rasulullah, Fatimah malah membebaskannya sebagai manusia merdeka. 

Nama Az-Zahra yang dimiliki Fatimah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya putriku Fatimah adalah penghulu kaum perempuan dari awal hingga akhir zaman. Fatimah adalah bidadari berwujud manusia, yang kapanpun mendirikan shalat di hadapan Tuhannya, sinarnya menyinari langit bagi para malaikat, seperti bintang-bintang menyinari manusia di bumi.”

Faktanya, Az-Zahra bukanlah satu-satunya gelar yang dimiliki oleh Fatimah. Abu Abdillah berkata, “Fatimah memiliki sembilan nama di sisi Allah SWT, yaitu Fatimah, ash-Shiddiqah (wanita yang terpercaya), al-Mubarakah (wanita yang selalu kelimpahan berkah), ath-Thahirah (wanita yang suci), az-Zakiyyah (wanita yang senantiasa menjaga kesucian), ar-Radhiyyah (ridha atas apa saja yang telah ditetapkan), al-Mardhiyyah (orang yang diridhai), al-Muhaditsah (wanita yang menggunakan kata yang cermat), dan az-Zahra (yang berkilauan)."

Dijanjikan Masuk Surga

Fatimah Az Zahra meninggal di usia yang terbilang masih muda, yakni 29 tahun. Ia dimakamkan pada Kamis 20 Ramadhan di pemakaman Jannat al-Baqee.

Atas ketaatan dan kebaikan semasa hidupnya, Fatimah Az Zahra telah dijanjikan akan masuk surga. "Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah." (HR Muslim).

https://kumparan.com

 

3 Keistimewaan Fatimah Az Zahra yang Patut Diteladani

 3 Keistimewaan Fatimah Az Zahra yang Patut Diteladani

 

SAYYIDAH Fatimah Az-Zahra merupakan sosok teladan muslimah yang begitu mulia. Dikenal sebagai sosok putri dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Ia juga mewariskan sifat yang dapat diteladani, seperti kesabaran dan kegigihannya sangat luar biasa di dalam memperjuangkan Islam.

Dai muda Nahdlatul Ulama (NU), Habib Ahmad bin Hasan Alaydrus mengungkap tiga keistimewaan dari sosok Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang bisa diteladani.

Dilansir dari channel YouTubenya, Habib Ahmad menjelaskan, hal pertama yang membuat Siti Fatimah menjadi sosok istimewa ialah gemar memandang wajah Rasulullah.

Diceritakan ketika Rasulullah hendak keluar kota, kemudian ia menyempatkan diri untuk bersilaturahmi mengunjungi rumah kerabatnya satu per satu, di rumah Fatimah menjadi tempat yang terlama paling ia kunjungi.

Rasulullah senang menciumi kepalanya, hingga Aisyah pun bertanya: "Wahai Rasullullah apa yang membuat engkau begitu senang dari menciumi Siti Fatimah?"

Rasulullah menjawab: "Tidaklah kamu tahu bahwa Fatimah ini adalah manusia bidadari, setiap aku menciumi kepalanya, sama seperti aku mencium wangi surga," jawab Rasulullah.

Menjelang ajal menjemput Rasulullah, Fatimah menangis tersedu-sedu. Nabi membisikkan kepadanya dua kali, pada saat bisikan pertama Fatimah masih menangis, namun Fatimah tersenyum ketika Nabi selesai membisikkan hal kedua kepadanya.

Adapun, bisikan pertama Nabi memberitahukan bahwa ajalnya sudah tiba dan dekat, ia akan dipanggil oleh Allah Ta'ala. Kali kedua, bahwa Nabi memberitahukan keluarga pertamanya ialah orang-orang pertama yang akan menyusul ke hadapan Allah.

"Dicatatkan dalam sejarah, bahwa sejak 75 hari setelah kematian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kemudian putrinya ikut menyusul," ujar Habib Ahmad dalam ceramahnya.

Hal yang dapat kita teladani, sebagaimana kisah tersebut apabila kita ingin berjumpa dengan Rasullullah kelak, yaitu jauhkanlah pandangan mata dari apa yang diharamkan Allah.

Habib Ahmad melanjutkan, keistimewaan kedua yang bisa diteladani ialah Fatimah sangat gemar membaca Alquran. Hingga akhir hayatnya pun ia selalu dekat dengan Alquran.

Tak dapat dipungkiri lagi, Alquran diturunkan sebagai pedoman kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang sering membacanya kelak, usahanya akan sukses dan akan dikumpulkan dengan orang-orang shalih.

"Bacalah, walaupun hanya selembar setiap hari, ketika membukanya (Alquran) maka akan ada cahaya yang menerangi batin," tuturnya.

Keistimewaan ketiga, Fatimah merupakan sosok yang tabah, ikhlas dan memiliki kesabaran luar biasanya. Habib Ahmad mengatakan, tidak ada yang menginfaqkan lebih hartanya selain dari Sayyidah Fatimah.

Dikisahkan seorang pengemis datang dan meminta kepada Rasulullah sehabis mengunjungi rumah Sayyidah Fatimah. Saat itu, Rasulullah tidak memiliki apapun untuk disedekahkan. Akan tetapi, ia menuntun kepada pengemis tersebut untuk memintanya kepada Siti Fatimah.

Kala itu hanya ada sebuah alas tidur dari bahan berkulit kambing milik putranya Hasan dan Husein. Ketika ia memberikannya, sang pengemis pun marah karena apa yang didapatkannya tidak dapat mengisi perutnya yang kosong tersebut.

Sayyidah Fatimah menyadari, ternyata masih ada harta yang tersisa dari dirinya. Kalung pemberian dari suaminya tersebut, Sayyidina Ali, sebuah hadiah yang berharga tersebut ia serahkan kepada si pengemis.

Namun, tak disangka melalui perlelangan di Makkah, kalung tersebut mampu membiayai makanan untuk berbulan-berbulan bagi seorang manusia. Dan pada akhirnya kalung itu pun kembali pada Sayyidah Fatimah dengan keberkahan yang berlipat ganda.

Subhanallah, Maha Besar Allah telah menciptakan sosok yang mulia seperti Sayyidah Fatimah Az-Zahra sebagai salah satu suri teladan.

"Maka dari itu, berinfaqlah, dan sedekah untuk membersihkan harta dan jiwamu, karena perbuatan tersebut adalah perbuatan yang mulia dan baik. Mudah mudahan, istri-istri kita, ibu-ibu kita, anak-anak perempuan kita, kakak-kakak dan adik-adik perempuan kita, dapat meneladani sifat Fatimah Az-Zahra," tutupnya.

 

(put)

Sarah Nurjannah

https://muslim.okezone.com

 

 

Kamis, 12 November 2020

10 Kisah Teladan dari Siti Khadijah, Wanita yang Dinantikan Surga

 10 Kisah Teladan dari Siti Khadijah, Wanita yang Dinantikan Surga

 

Jakarta - Siti Khadijah RA menjadi satu dari empat wanita yang menjadi teladan dalam kehidupan muslim. Keempatnya dijanjikan surga sesuai hadist yang dinarasikan Ad-Dzahabi.

 

سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ

 

Artinya: "Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam bintu Imran, Fatimah bintu Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam, Khadijah bintu Khuwailid, dan Asiyah." (HR Muslim).

Kisah teladan Siti Khadijah tidak hanya saat dia mengakui kebenaran wahyu Allah SWT dan mendampingi Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai biografi Siti Khadijah disebutkan karakter unggulnya, yang telah terlihat sebelum dia menerima Islam dan menjadi istri Rasulullah SAW.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut 10 poin keistimewaan Siti Khadijah yang punya julukan Ummul Mukminin.

1. Lahir dari keluarga revolusioner

Khadijah lahir dari keluarga revolusioner yang sangat dihormati di kalangan Quraisy. Ayahnya, Khuwaylid, tidak melakukan kebiasaan suku tersebut yang dinilai merugikan misal mengubur bayi perempuan hidup-hidup.

Sebagai salah satu pemimpin suku, ayah Khadijah memilih membesarkan dan memberi pendidikan yang baik pada putrinya. Khadijah menjadi seseorang yang pintar, sukses meneruskan usaha perdagangan ayahnya, beretika, dan punya keyakinan kuat.

2. Julukan Khadijah

Dikutip dari Encyclopedia Britannica, Siti Khadijah dikatakan memiliki karakter mulia dan tegas. Karakter tersebut melukiskan besarnya penghormatan kaum Quraisy pada sosok Khadijah seperti ditulis dalam buku Sirah dari Abd al-Malik ibn Hishām.

Keunggulan karakter menjadikan kaum Quraisy memberi julukan At-Taahirah, atau yang suci (the pure) pada sosok Khadijah. Tak heran jika Khadijah diinginkan banyak pemuka Quraisy menjadi istri dari putranya.

3. Tidak menyembah berhala

Dikutip dari AboutIslam, Khadijah diceritakan tidak ikut menyembah berhala Suku Quraisy. Hal ini terungkap saat Khadijah menghadiri festival yang diadakan Quraisy di sekitar Kakbah. Peserta acara yang kebanyakan perempuan menyembah berhala Hubal yang dianggap dewa ramalan. Walau ikut dalam festival, Khadijah tidak ikut menyembah Hubal meski datang ke festival.

Saat di festival itulah, ada orang tua yang menyeru kepada peserta acara. Dalam seruannya dia mengatakan, telah hadir seorang utusan Tuhan di antara Quraisy. Jika mereka punya kesempatan menikahinya, maka lebih baik segera dilakukan. Seruan orang tua ini disambut ejekan, lemparan batu, dan tidakan tak menyenangkan lain dari para peserta.

4. Khadijah mempertimbangkan seruan adanya utusan Tuhan

Khadijah tidak ikut melakukan hal kurang menyenangkan pada orang tua di festival tersebut. Dia justru terlihat tenang, bijak, dan mempertimbangkan tiap kata dari orang tua Yahudi yang identitasnya tak dijelaskan detail tersebut. Momen ini seolah menandai takdir Khadijah selanjutnya menjadi yang pertama meyakini kebenaran wahyu Allah SWT dan memeluk Islam.

Ketika peristiwa ini terjadi, Khadijah telah menjadi pedagang sukses yang kaya dan rendah hati. Dia juga dermawan terhadap hartanya pada orang lain yang membutuhkan. Sosoknya menjadi inspirasi di kalangan Quraisy untuk memiliki karakter jujur, bijak, dan pekerja keras.

5. Melamar Rasulullah SAW

Jika umumnya laki-laki melamar perempuan, maka Khadijah menempuh cara sebaliknya saat menikahi Rasulullah SAW. Khadijah melamar Nabi Muhammad SAW melalui orang ketiga Nafisah binti Munyah, yang merupakan sahabat saudagar wanita tersebut. Nafisah kemudian menyampaikan maksud Khadijah pada Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW.

Peran orang ketiga diperlukan karena tradisi Quraisy tidak mengenal perempuan melamar laki-laki. Selain itu, Khadijah sempat tidak pede meski kaya dan berasal dari keluarga ternama. Krisis pede terjadi karena perbedaan usia yang besar, Khadijah 40 tahun dan Nabi Muhammad SAW 25 tahun.

6. Pendukung utama Nabi Muhammad SAW

Setelah proses lamaran, Ameerat Quraysh atau Puteri Quraisy tersebut akhirnya resmi menjadi istri Rasulullah SAW. Nabi SAW awalnya adalah pegawai Khadijah yang memimpin rombongan dagang menuju Suriah. Pernikahan Khadijah dengan Muhammad bin Abdullah terjadi sebelum turunnya wahyu dari Allah SWT.

Dukungan utama Khadijah terlihat saat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira. Saat itu dia menemani Rasulullah SAW yang ketakutan, seperti diceritakan Aisyah putri Nabi Muhammad SAW.

 

فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضى الله عنها فَقَالَ ‏"‏ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي ‏"‏‏.‏ فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ ‏"‏ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي ‏"‏‏.‏ فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ‏

 

Artinya: "Beliaupun pulang dalam kondisi gemetar dan bergegas hingga masuk ke rumah Khadijah. Kemudian Nabi berkata kepadanya: Selimuti aku, selimuti aku. Maka Khadijah pun menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kemudian Nabi bertanya: 'wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku ini?'. Lalu Nabi menceritakan kejadian yang beliau alamai kemudian mengatakan, 'aku amat khawatir terhadap diriku'. Maka Khadijah mengatakan, 'sekali-kali janganlah takut! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang lain yang susah, pemberi orang yang miskin, penjamu tamu serta penolong orang yang menegakkan kebenaran." (HR Bukhari).

7. Membenarkan wahyu dari Allah SWT

Keistimewaan Siti Khadijah juga terlihat saat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira. Khadijah tidak bersikap masa bodoh, namun ikut mencari tahu kebenaran wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW.

Saat itu Khadijah mendatangi pamannya Waraqah bin Naufal yang bisa bahasa Ibrani. Waraqah diceritakan sebagai orang tua yang kehilangan penglihatan, namun dipercaya Khadijah. Kisah ini dituliskan dalam hadist seperti diceritakan Siti Aisyah.

 

فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ ـ وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ ـ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ‏.‏ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَبَرَ مَا رَأَى‏.‏ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى صلى الله عليه وسلم يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا، لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ ‏"‏‏.‏ قَالَ نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا‏.‏ ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ‏

 

Artinya: "Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin Naufal, ia adalah saudara dari ayahnya Khadijah. Waraqah telah memeluk agama Nasrani sejak zaman jahiliyah. Ia pandai menulis Al Kitab dalam bahasa Arab. Maka disalinnya Kitab Injil dalam bahasa Arab seberapa yang dikehendaki Allah untuk dapat ditulis. Namun usianya ketika itu telah lanjut dan matanya telah buta.

Khadijah berkata kepada Waraqah, "wahai paman. Dengarkan kabar dari anak saudaramu ini". Waraqah berkata, "Wahai anak saudaraku. Apa yang terjadi atas dirimu?". Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Waraqah berkata, "(Jibril) ini adalah Namus yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Duhai, semoga saya masih hidup ketika kamu diusir oleh kaummu". Nabi bertanya, "Apakah mereka akan mengusir aku?" Waraqah menjawab, "Ya, betul. Tidak ada seorang pun yang diberi wahyu seperti engkau kecuali pasti dimusuhi orang. Jika aku masih mendapati hari itu niscaya aku akan menolongmu sekuat-kuatnya". Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia." (HR Bukhari).

8. Meminta sorban Rasulullah SAW untuk kain kafan

Dalam Kitab Al-Busyro dari Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Miliki Al-Hasani, Khadijah diceritakan menggunakan seluruh hartanya untuk penyebaran Islam. Khadijah yang awalnya kaya jatuh miskin, hingga tak punya kain kafan untuk membungkus mayatnya jika meninggal.

Saat itu, Khadijah dikisahkan meminta sorban yang biasa digunakan Nabi Muhammad SAW untuk menerima wahyu sebagai kafan. Namun sorban tersebut urung digunakan karena Khadijah menerima sorban yang dikirim Malaikat Jibril. Kelak ada lima orang yang menggunakan kain kafan istimewa tersebut yaitu Siti Khadijah, Nabi Muhammad SAW, Siti Fatimah, Ali bin Abi Thalib, dan Hasan cucu Rasulullah SAW.

9. Kisah sedih Rasulullah dan Khadijah

Kisah sedih pasangan ini terangkum dalam amul huzni (tahun kesedihan) pada kehidupan Rasulullah SAW. Saat itu, Rasulullah SAW kehilangan pamannya Abu Tholib dan Khadijah karena menghadap Allah SWT. Keduanya adalah pendukung utama Nabi Muhammad SAW saat pertama kali menerima wahyu dari Allah SWT hingga berpulang.

Khadijah yang lahir pada 555 AD atau Sebelum Masehi, berpulang pada 11 Ramadhan tahun ketiga sebelum hijrah. Momen tersebut kira-kira sama dengan 22 November 619 Setelah Masehi. Menjelang wafat, Khadijah kembali menegaskan kesetiaan pada Rasulullah SAW dan kebenaran atas wahyu Allah SWT. Khadijah dikisahkan meninggal di pangkuan Rasulullah SAW.

10. Anak Khadijah dan Rasulullah

Pasangan Khadijah dan Rasulullah SAW diceritakan memiliki dua anak laki-laki dan empat anak perempuan. Namun Qasim dan Abdullah meninggal saat masih berusia anak-anak, selanjutnya pasangan tersebut tak lagi dikarunai anak laki-laki.

Sementara anak perempuan Khadijah dan Rasulullah tumbuh dewasa, ikut dalam penyebaran Islam, dan menjadi contoh untuk para muslim. Mereka adalah Zainab, Fatimah, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum.

 

(row/erd)

Rosmha Widiyani

https://news.detik.com