Kantor Sekretariat Rumah Sajada

Alamat : Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman D.I. Yogyakarta

Tampak Depan PAPP Rumah Sajada

Komplek Kantor dan Asrama Putri Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman

Pendopo Rumah Sajada

Komplek Asrama Putra Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putri Rumah Sajada

Komplek Asarama Putri Wirokraman Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putra

Alamat : Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2018

Kisah Manisnya Iman dari Zaid dan Abdullah


Kisah Manisnya Iman dari Zaid dan Abdullah

"Jika kami kembali ke Madinah, tentu kaum yang mulia akan mengusir kaum yang hina," kata Abdullah bin Ubay, gembong munafik yang membenci Nabi sallallaahu alaihi wasallam.

Zaid bin Arqam mendengar ucapan itu. Ia segera melaporkannya kepada pamannya, lalu pamannya melaporkannya kepada Nabi.

Saat mendengar hal itu, Umar bin Khaththab sangat marah. "Perintahkan Ubbad bin Bisyr untuk membunuhnya!"

"Umar," ujar Nabi. "Bagaimana jika orang-orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya?" Nabi pun memerintahkan kepada pasukannya untuk melanjutkan perjalanannya meski belum waktunya.

Pasukan muslim yang baru saja mengalahkan bani Mustaliq itu berjalan sehari semalam hingga matahari memanggang ubun-ubun mereka di pagi hari. Mereka baru berhenti dan beristirahat. Nabi memerintahkan hal itu agar mereka melupakan pertikaian antara Anshar dan Muhajirin yang menjadi penyebab Abdullah bin Ubay mengucapkan ancaman itu.

Saat mengetahui, Zaid bin Arqam mengadukan ucapannya, Abdullah bin Ubay segera menemui Nabi Muhammad. "Aku tidak mengatakan sebagaimana yang dia katakan. Aku tidak mengatakannya," kata gembong munafik itu berdusta.

"Rasulullah," kata seorang Anshar. "Karena yang mengucapkan seorang anak kecil, mungkin sekali dia salah tafsir atau tidak ingat benar apa yang dikatakan orang itu."

Nabi membenarkannya. Mendengar hal itu, Zaid bin Arqam merasa sedih. Belum pernah dia merasa sesedih itu.

Allah Ta'aala menurunkan surah Al-Munafiqun ayat 1-8. Nabi mengutus seseorang untuk membacakan ayat itu kepada Zaid bin Arqam. Nabi mengatakan, "Sesungguhnya, Allah telah membenarkanmu."

Setibanya mereka di Madinah, Abdullah putra Abdullah bin Ubay menghadang ayahnya di pintu masuk kota Madinah seraya menghunus pedang ke arah ayahnya.

"Demi Allah," kata Abdullah bin Abdullah. "Ayah tidak boleh lewat di sini kecuali diizinkan oleh Rasulullah karena beliau orang yang mulia, sementara Ayah orang yang hina!"

Abdullah bin Ubay tercengang menyaksikan sikap anaknya yang lebih membela Nabi daripada dirinya.

Ketika Rasulullah datang, beliau memberikan izin bagi Abdullah bin Ubay untuk masuk ke kota Madinah. Saat itu, Abdullah bin Abdullah berkata kepada Rasulullah, "Jika Anda ingin membunuhnya, biarkan aku yang melakukannya. Demi Allah, akan kubawa kepalanya ke hadapan Anda!"

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan rasa manisnya iman, yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang selain keduanya, apabila ia mencintai seseorang, namun ia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan apabila ia membenci untuk kembali ke dalam kekafiran sesudah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, seperti halnya ia membenci jika ia dilemparkan ke dalam api.” (HR Muttafaqun 'alaih)

Begitulah pelajaran al-wala dan al-baro (cinta dan benci karena Allah) dari dua sahabat mulia, Zaid bin Arqam dan Abdullah bin Abdullah bin Ubay. Zaid tidak rela seseorang menghina Nabi, bahkan Abdullah menghadang ayahnya yang telah menghina Nabi seraya mengacungkan pedang kepada ayahnya itu.

Demikianlah dua sahabat yang telah mengecap manisnya iman. Semoga kita termasuk ke dalam barisan orang-orang yang bisa menikmati manisnya iman.

Ditulis Oleh : DENNY PRABOWO 




Rabu, 07 Februari 2018

Ketahui 6 Cara Tidur Sehat Seperti Nabi Muhammad SAW

Ketahui 6 Cara Tidur Sehat Seperti Nabi Muhammad SAW

Demi menjaga kesehatan Anda dan keluarga, mulai sekarang singkirkan rasa malas.
Liputan6.com, Jakarta Ada banyak cara yang dilakukan umat Islam dalam peringatan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada hari ini, Jumat (1/12/2017). Alangkah baiknya ada ilmu atau pelajaran yang bisa dipetik dari kisah teladan Rasulullah SAW. Salah satu yang sangat menginspirasi adalah mengetahui seperti apa cara tidur sehat yang pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Sebaik-baiknya tempat tidur adalah sarana istirahat yang nyaman. Ternyata pola tidur Nabi Muhammad SAW adalah cara tidur yang paling sehat dan telah diakui oleh berbagai pakar kesehatan. Salah satunya adalah memadamkan lampu ketika tidur. Mengapa? Kita cari tahu yuk.

1. Memadamkan lampu

Seperti yang diterangkan dalam program Karamah (Kamus Ramadan Membawa Hikmah) yang pernah ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, 2 tahun lalu, mematikan lampu menjelang tidur merupakan salah satu ajaran Rasulullah SAW. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur malam, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan dan minuman."

Apa hikmah di balik ajaran Rasulullah SAW ini? Ternyata mematikan lampu pada saat tidur bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Sebuah penelitian yang dilakukan ahli biologi Joan Robert menujukkan, tubuh baru bisa memproduksi hormon melatonin pada saat tidak ada cahaya. Hormon melatonin diproduksi oleh kelenjar pineal dan antara lain berfungsi untuk mengatur ritme tidur, meningkatkan kekebalan tubuh, menjaga kesehatan jantung, menghambat peningkatan kolesterol, dan berfungsi sebagai antikanker.

Dampak serius bisa kita lihat dalam jurnal Cancer Genetics and Cytogenetics. Tulisan tersebut mengulas jika penerangan yang menggunakan cahaya buatan akan berdampak pada jam biologis tubuh dan dapat menjadi pemicu ekspresi berlebihan dari sel-sel yang dikaitkan dengan pembentukan sel kanker.

Begitu juga dengan penelitian dari Society for Neuroscience, di San Diego tahun 2010. Temuan menjelaskan tentang korelasi antara cahaya lampu dan tingkat depresi. Pekerja shift malam dan orang lain yang selalu terkena cahaya di malam hari akan meningkatkan risiko gangguan mood atau depresi.

Semua penelitian ilmuan barat ini tentu menjadi penguat dari Hadist Nabi Muhammad SAW tentang perintah tidur di dalam gelap. "Padamkanlah lampu saat akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman" (HR.Muttafaq'alaih).

Menurut beberapa peneliti di Universitas Stanford di California, Amerika Serikat, cahaya lampu yang menyala saat tidur dapat mempengaruhi hormon dalam tubuh, mengganggu kesehatan mata, dan bahkan berisiko meningkatkan pertumbuhan sel kanker dalam tubuh. Dilansir dari Vemale, ada fakta mengejutkan bahwa wanita yang tidur dengan lampu menyala bisa memiliki risiko kanker payudara lebih tinggi dibandingkan mereka yang memilih gelap atau memakai cahaya remang-remang saat tidur.

2. Posisi Tidur Miring ke Arah Kanan

Jika kita belum mempunya pasangan hidup, maka sesuai dengan sunnah Rasullullah SAW, posisi tidur yang sangat dianjurkan adalah miring ke kanan. Lalu bagaimana jika suami tidur bersama istrinya sesuai sunnah Rasullullah SAW? Dilansir dari laman bersamadakwah.net, Ustazah Ida Nur Laila penulis buku Seri Materi Keakhwatan dalam sebuah talk Show bertajuk Meraih Surga Bersama Keluarga, menjelaskan bagaimana anjuran posisi tidur yang baik bagi pasangan suami istri sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.

"Posisi tidur suami istri yang sesuai sunnah Nabi, suami istri tetap miring ke kanan. Sang istri ada di depan, sang suami ada di belakang sambil memeluk istrinya. Jadi keduanya dapat sunnah posisi tidur miring ke kanan,” ungkapnya.

Berdasar studi yang dilakukan pada 2003 dan dimuat The Journal of American College of Cardiologi –yang dimuat New York Times 21 Februari 2011, tidur dengan posisi miring ke kanan lebih aman daripada miring ke kiri. Tidur dengan posisi miring ke kanan bisa mengurangi risiko kegagalan fungsi jantung. Sebab, saat posisi tubuh miring ke kanan, membuat jantung yang berada di bagian kiri tidak tertindih oleh organ yang lainnya.

Dalam HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710, Nabi Muhammad SAW mengatakan agar ‘Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu,’. Pada zaman dahulu, orang mungkin berpikiran bahwa Islam memang mengutamakan kanan dibanding kiri, sehingga anjuran ini merujuk pada keutamaan tadi. Namun ternyata, perintah Nabi ini memberikan efek medis yang begitu menakjubkan. Ilmuan menemukan manfaat-manfaat ini di jaman now, padahal Nabi sudah mengetahuinya sejak 1400 tahun silam.

3. Tidak Tidur dengan Posisi Tengkurap

Rasulullah SAW melarang umatnya tidur tengkurap. Larangan itu muncul dari kisah Ya'isy bin Thikhfah Al-Ghifari. Dalam suatu kesempatan dia bercerita, “Bapakku menceritakan kepadaku bahwa ketika aku tidur di masjid di atas perutku (tengkurap), tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan kakiku dan berkata, ‘Sesungguhnya tidur yang seperti ini dimurkai Allah.’ Bapakku berkata, ‘Setelah aku melihat ternyata Beliau adalah Rasulullah SAW’,” (HR. Thabrani).

Tidur secara tengkurap, kata Imam Tirmidzi, membawakan hadis yang didapat Abu Hurairah. Saat Nabi melihat seorang Muslim tidur tengkurap, Nabi berkata, " Ini adalah cara tidur yang tidak disukai oleh Allah." Ulama sekaligus pakar kedokteran, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, berkata, tidur dengan posisi miring dan ke sebelah kiri juga kurang baik bagi kesehatan. Sebab, tidur dengan posisi miring dapat membahayakan jantung.

Ilmu kedokteran modern membuktikan tidur tengkurap berbahaya. Apalagi saat tidur pulas dan lama, tengkurap otomatis membuat otot dada atau otot pernafasan tidak dapat mengembangkan dada secara baik dan maksimal. Sehingga aliran oksigen menjadi lebih sedikit dan berakibat sesak nafas. Tidur pada sisi kiri badan juga berbahaya. Sebab, organ-organ bisa menghimpit jantung sehingga sirkulasi darah terganggu dan mengurangi pasokan darah ke otak.

Seseorang yang tidur dengan cara tengkurap di atas perutnya setelah suatu periode tertentu akan mengalami kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya akan menekan ke arah dada yang menghalangi dada untuk merenggang dan berkonstraksi saat bernafas. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya kekurangan asupan oksigen yang dapat mempengaruhi kinerja jantung dan otak

Peneliti dari Australia, Dr. Zafir al-Attar menyatakan bahwa terjadi peningkatan kematian pada anak-anak sebesar tiga kali lipat saat mereka tidur tengkurap dibandingkan jika mereka tidur dengan posisi menyamping. Tidur dengan posisi tengkurap pada periode tertentu akan menyebabkan perut kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya menekan ke arah dada.

4. Tidak Tidur dengan Posisi Terlentang

Nabi Muhammad SAW juga melarang umatnya untuk berlama-lama tidur terlentang. Setelah dikaji secara media, ternyata tidur deng posisi ini menekan atau menyesakkan tulang punggung, bahkan kadangkala bisa menyebabkan kita ingin ke toilet.

Selain itu, menurut penelitian Dr. Zafir al-Attar, seseorang tidur dengan cara terlentang akan menyebabkan seseorang bernafas melalui mulutnya. Padahal manusia harusnya bernafas melalui hidung, bukan mulut. Hal ini dikarenakan pada hidung terdapat bulu-bulu halus dan lendir yang dapat menyaring kotoran yang ikut terhisap bersama udara yang kita hirup.
Bernafas melalui mulut merupakan salah satu penyebab seseorang rawan terkena flu. Selain itu bernafas lewat mulut akan menyebabkan keringnya rongga mulut sehingga dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada gusi.

5. Meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan

Ternyata Nabi lebih senang tidur dengan beralaskan tikar yang terbuat dari dari kulit binatang yang diisi dengan sabut. Posisi tubuhnya jika tidur menghadap ke arah kanan dan tidak pernah bertelungkup. Kepalanya diberi alas sebagai bantal. Namun kadang-kadang menggunakan salah satu tangannya yang diletakkan di bawah pipinya, seperti dilansir dari laman Infoyunik.com, Jumat (1/12/2017).

Ternyata dibalik kesederhanaan ini, ada manfaat medis yang coba diajarkan Nabi Muhammad. Ternyata tidur beralaskan tangan akan membuat posisi kepala, leher dan punggung tercipta garis lurus. Memang, leher yang tidak lurus pada saat tidur menyebabkan sakit leher pada saat bangun atau biasa disebut tengengen dan hal ini terkadang sampai berhari–hari lamanya, sehingga mengganggu aktifitas.

6. Tidur lebih awal Selepas Sholat Isya

Nabi Muhammad menganjurkan agar umat islam secepatnya tidur setelah Isya jika tidak ada urusan lain. Jika dikaji dari segi kesehatan, malam adalah ekskresi hati dalam menetralkan racun, sehingga perlu kadaan yang tenang. Namun apabila kita begadang maka sekresi ini tak berjalan lancar sebagaimana mestinya. Sehingga dalam kurun waktu yang panjang dapat menyebabkan penyakit kanker hati.




Nabi Muhammad di Mata Pembesar Yahudi dan Nasrani

Nabi Muhammad di Mata Pembesar Yahudi dan Nasrani

VIVA –Thola'al Badru 'alaina Min Tsaniyatil Wada' Wajaba syukru 'alaina Ma da'a lillahi da'. Begitu syair nasyid yang dilantunkan kaum Anshar saat menyambut kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) di Madinah.

Kaum Anshar melantunkan nasyid ini diiringi tabuhan rebana, menyambut gembira kedatangan Rasulullah beserta sahabat dari Mekah ke Madinah. Konon, nasyid Thola 'al Badru ini merupakan nyanyian tertua dalam sejarah Islam dan tonggak sejarah munculnya nasyid hingga saat ini.

Nasyid itu pula yang sering didengungkan sebagian besar kaum Muslimin setiap kali memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 Rabi'ul Awal. Peringatan Maulid semakin semarak dengan selingan bacaan Banzanji dan Burdah.

Ya, kelahiran Nabi Muhammad SAW sangat istimewa. Sebab itu, kaum Muslimin selalu memperingatinya dengan memperbanyak bacaan selawat kepada Nabi.

Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Mekah pada hari Senin subuh tanggal 12 Rabi’ul Awal, permulaan tahun dari peristiwa penyerangan Tentara Gajah terhadap Ka'bah, atau bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi. Lahir dalam keadaan yatim, ditinggalkan sang ayah sejak masih enam bulan dalam kandungan.

Kelahiran Nabi Muhammad ini diikuti beberapa peristiwa penting yang mendukung kerasulannya. Dalam kitab Arahiq Al Makhtum karangan Syeikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, disebutkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad bertepatan dengan runtuhnya 14 balkon Istana Kisra Anusyirwan (Raja Persia).

Kemudian padamnya api yang biasa disembah orang-orang Majusi, serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhaira. Gereja-gereja itu tiba-tiba ambles ke tanah.

Nabi Muhammad tumbuh dan besar tanpa kasih sayang orangtuanya. Sang ibu wafat saat Muhammad masih berusia 6 tahun. Kemudian ia diasuh kakeknya hingga berusia 8 tahun. Sepeninggal kakeknya, Muhammad diasuh oleh pamannya hingga berusia dewasa.

Sifat-sifat kebaikan sudah tertanam dalam diri Nabi Muhammad semenjak kecil. Ia selalu unggul dalam pemikiran, pandangannya yang lurus, paling bagus akhlaknya, paling bisa dipercaya, paling terhormat dalam pergaulan dengan tetangganya dan lembut tutur katanya. Hingga kaumnya menjulukinya 'Al Amin'

Nabi tidak suka terhadap sesuatu hal yang berbau khurafat. Tak meminum khamar, tidak makan daging yang disembelih untuk sesembahan, juga tak mau menghadiri upacara-upacara menyembah berhala. Nabi selalu terjaga dari perbuatan-perbuatan buruk

Ketika usia Nabi Muhammad mendekati 40 tahun, ia lebih sering mengasingkan diri di Gua Hira. Keputusan itu diambil Nabi setelah melalui perenungan lama atas apa yang terjadi selama ini terhadap kaumnya. Mereka dipenuhi kemusyrikan dan takhayul.

Di sisi lain, Nabi tidak memiliki batasan-batasan yang jelas bagi kaumnya, untuk bisa menghantarkan keridhaan dan kepuasan batinnya.

Sampai pada akhirnya di tahun ketiga perenungan Nabi di Gua Hira, Malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad. Saat itu Nabi genap berusia 40 tahun. Menurut Syeikh Shafiyyurrahman, wahyu kerasulan ini turun pertama kali pada hari Senin, 21 malam bulan Ramadhan atau bertepatan 10 Agustus tahun 610 Masehi. 

Risalah Nabi Muhammad SAW inilah yang kemudian mengubah dunia. Meski awal-awal dakwah Rasul ditentang oleh kaumnya, namun perlahan orang-orang yang semula menentang ajaran Nabi berbalik menyatakan imannya kepada agama yang dibawa Nabi Muhammad. Rasulullah menjalani suka duka dakwah ini selama lebih kurang 23 tahun.

Rasulullah Muhammad SAW wafat pada hari Senin waktu Dhuha 12 Robi'ul Awal tahun 11 Hijriah, pada usia 63 tahun. Rasul berpulang ke Rahmatullah dalam pangkuan istrinya, Siti Aisyah dengan disaksikan para sahabat.

Berikut pengakuan pembesar Yahudi dan Nasrani tentang sosok Nabi Muhammad SAW:

1. Waraqah bin Naufal (seorang Nasrani dan penulis Injil dengan Bahasa Ibrani)

Istri Nabi Muhammad SAW, Khadijah datang membawa suaminya menemui Waraqah yang tak lain anak pamannya, menceritakan apa yang terjadi pada suaminya ketika berada di Gua Hira (awal permulaan mendapat wahyu). Nabi bercerita tentang apa yang dilihatnya di Gua Hira. Nabi berkata 'Ada makhluk memelukku dan memerintahkanku untuk membaca' Aku jawab 'Aku tidak bisa membaca'

Waraqah berkata 'Itu adalah Namus (Malaikat) yang diturunkan Allah kepada Musa. Andaikan aku masih muda pada masa itu. Andaikan saja aku masih hidup saat tatkala kaummu mungusirmu'

Nabi bertanya 'Benarkan mereka (kaumku) akan mengusirku?'   

 Waraqah menjawab 'Benar. Tidak seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup di masamu nanti, tentu aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh' Waraqah meneguhkan hati Muhammad bahwa kelak Ia akan menjadi nabi umat ini.

Darimana Waraqah bahwa apa yang ditemui Nabi Muhammad adalah malaikat? Berdasarkan Kitab Yesaya (bagian dari Perjanjian Lama) 29:12, yang isinya 'Dan apabila kita ini diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan "Baiklah baca ini" Ia menjawab "Aku tidak dapat membaca".

Waraqah meninggal dunia pada saat-saat turun wahyu kepada Nabi Muhammad.

2. Rahib Bahira

Saat usia Nabi Muhammad menginjak 12 tahun, diajak pamannya, Abu Thalib, berdagang ke Syam. Rombongan Abu Thalib sempat singgah di Bushra, suatu daerah di Syam yang berada dalam kekuasaan Romawi. Di negeri ini ada seorang Rahib yang dikenal dikenal dengan sebutan Bahira, nama aslinya Jurjis.

Bahira menghampiri rombongan Abu Thalib dan mempersilakan mereka mampir ke tempat tinggalnya sebagai tamu kehormatan. Padahal sebelumnya disebutkan, Bahira tidak pernah keluar rumah. Tapi kali itu dia keluar karena turut merasakan keistimewaan Nabi Muhammad.

Sambil memegang tangan Nabi Muhammad, Sang Rahib berkata "Orang ini adalah pemimpin alam semesta alam. Anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam"

Abu Thalib bertanya "Dari mana engkau tahu hal itu?"

Rahib Bahira menjawab "Sebenarnya sejak kalian tiba di Aqabah, tidak ada bebatuan dan pepohonan melainkan mereka tunduk bersujud. Mereka tidak sujud melainkan kepada seorang nabi. Aku bisa mengetahuinya dari cincin nubuwah yang berada di bagian bawah tulang rawan bahunya yang menyerupai buah apel. Kami juga mendapati tanda itu di dalam Kitab kami"

Kemudian sang Rahib meminta Abu Thalib kembali lagi ke Mekah bersama Nabi Muhammad SAW tanpa melanjutkan perjalanan ke Syam, karena Bahira takut gangguan Yahudi kepada mereka.

3. Raja Romawi Heraklius (Hercules)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwasanya Abu Sufyan bin Harp saat berada di Syam untuk berniaga, dipanggil Raja Heraklius untuk hadir di kerajaannya. Sang raja yang ditemani pembesar kerajaan, memanggil seorang penerjemah untuk menerjemahkan dialognya dengan Abu Sufyan.

Raja Heraklius ingin bertanya seputar sosok Nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai Rasul. Kabar kerasulan Muhammad itu sudah tersiar seantero jazirah Arab, Raja Heraklius yang beragama Nasrani pun penasaran dengan sosok Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, ketika rombongan Abu Sufyan tiba di Syam, Ia mengundang kabilah itu untuk menjelaskan hal tersebut.

Sejumlah pertanyaan dilontarkan Raja Heraklius kepada Abu Sufyan, yang dianggap nasabnya paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Berikut beberapa dialog percakapan Heraklius dengan Abu Sufyan:

Heraklius bertanya, "Apakah dia (Nabi Muhammad)berasal dari keturunan raja?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak"

Heraklius bertanya, "Apakah pengikutnya adalah orang-orang mulia dan para pembesar?"
Abu Sufyan menjawab, "Tidak, para pengikutnya adalah orang-orang miskin dan orang-orang yang lemah"

Heraklius bertanya, "Apakah pengikutnya itu bertambah terus atau semakin berkurang?"
Abu Sufyan menjawab, "Pengikutnya semakin hari semakin bertambah dan tidak pernah berkurang"

Heraklius bertanya lagi, "Apakah di antara mereka ada yang meninggalkan agama mereka karena membenci agama itu?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak ada"

Raja Romawi itu bertanya lagi, "Apakah kalian menuduh dia berdusta atas apa yang diucapkannya dengan mengaku sebagai Nabi? Apakah sebelum menjadi seorang nabi, dahulunya dia adalah seorang pendusta?"

Abu Sufyan menjawab, "Tidak"

Heraklius bertanya lagi, "Dia telah mengaku sebagai seorang Nabi kepada kalian. Lalu apa yang diperintahkan Muhammad kepada kalian?"

Abu Sufyan menjawab, "Muhammad mengajak kami dan menyuruh kami bersaksi, 'Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun' Muhammad juga menyeru kami untuk meninggalkan apa yang diucapkan oleh nenek moyang kami (menyembah berhala). Dia juga menyeru kami untuk menegakkan Salat, membayar zakat, berlaku jujur, bersikap sederhana dan hidup bersahaja, serta menyambung silaturahim"

Heraklius lalu berkata kepada Abu Sufyan dan rombongannya, disaksikan seluruh petinggi kerajaan, "Wahai Abu Sufyan, jika semua yang telah kau sampaikan itu benar, maka pastilah dia (Muhammad) akan menguasai sampai ke tempatku berpijak di kedua telapak kakiku ini (Damaskus-Syiria)"

"Sesungguhnya, aku telah tahu (ramalan) bahwa dia akan lahir. Namun, aku tidak mengira bahwa dia akan lahir dari bangsa kalian (Arab). Sekiranya aku mengetahui, walaupun dengan susah payah, aku akan berusaha untuk menemuinya. Andai aku berada di dekatnya, aku akan membasuh kedua telapak kakinya" (HR Bukhari)

4. Hushain bin Salam bin Harits (Pendeta Yahudi di Madinah)

Hushain bin Salam bin Harits adalah seorang pendeta dan ulama Yahudi dari Bani Qainuqa, yang paling dalam pengetahuannya tentang kitab suci Taurat. Sewaktu Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, Hushain mendapat berita bahwa orang yang di nanti-nanti dan diharap-harap kedatangannya itu telah sampai di Madinah.

Ya, Hushain memang tengah menanti-nanti kedatangan 'Pesuruh Tuhan' yang terakhir, yang sifat-sifatnya termaktub dalam Taurat dan Injil. Kedatangan 'Pesuruh Tuhan' itu telah dijanjikan dalam kitab-kitab tersebut.

Ia pun meyakini sosok 'Pesuruh Tuhan' ada pada sosok Nabi Muhammad SAW. Setelah diam-diam menemui Nabi Muhammad, Hushain mencocokkan sifat-sifat Nabi Muhammad dengan sifat-sifat yang telah disebutkan dalam Taurat dan Injil.

Setelah diketahuinya bahwa sifat-sifat dan tanda-tanda itu cocok pada diri Nabi Muhammad, seketika itu juga Hushain masuk Islam, dan mengajak seluruh keluarganya menjadi pengikut agama Muhammad. Hushain kemudian berganti nama menjadi Abdullah bin Salam.

Dari Abdullah bin Salam "Tatkala Rasulullah SAW tiba di Madinah, manusia berjejalan menemui beliau dan saya termasuk di antara mereka. Setelah saya mengamati Rasulullah, saya langsung mengetahui melalui sinar wajahnya yang menunjukkan beliau bukan seorang pendusta. Ucapan pertama kali yang aku dengar langsung dari lisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kala itu beliau mengucapkan, 'Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makanan (sedekah), sambunglah tali silaturrahmi, salat lah di malam hari tatkala manusia terlelap tidur maka kalian akan masuk surga dengan selamat.’ (HR.Ibnu Majah)

5. Gubernur Mesir, Muqauqis (Kristen Koptik)

 Muqauqis pernah menerima kedatangan utusan Nabi Muhammad SAW, bernama Hathib bin Abu Baltha'ah dengan membawa surat dari Nabi SAW. Muqauqis menyambutnya dengan ramah dan penuh perhatian. Setelah Muqauqis membaca surat dakwah dari Nabi Muhammad SAW itu lalu ia bertanya kepada Hathib.

"Jika dia (Muhammad) itu seorang Nabi, kenapa tidak mendoakan buruk kepada orang yang menentang seruannya itu dan yang telah mengusirnya keluar dari negerinya?"

Pertanyaan ini lalu dijawab oleh Hathib, "Bukankah tuan menyaksikan bahwa 'Isa bin Maryam itu utusan Allah? Mengapa 'Isa tidak mendoakan buruk kepada kaumnya ketika mereka akan menangkap dan membunuhnya supaya Allah membinasakan mereka, sehingga Allah mengangkat kepada-Nya?"

Mendengar jawaban Hathib yang baik itu, lalu Muqauqis berkata, "Sungguh baik kamu ini, kamu seorang yang bijaksana, datang dari sisi seorang yang bijaksana"

Hathib bin Abu Baltha'ah lantas menjelaskan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dan Muqauqis mendengarkan dan mengakui akan kebenarannya. Muqauqis mengakui pula kebenaran diutusnya nabi Muhammad SAW, tapi ia belum bisa mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.

Sesudah itu Muqauqis memanggil seorang penulis untuk menuliskan surat balasan kepada Nabi Muhammad SAW, dan surat itu diserahkan kepada Hathib bin Abu Baltha'ah untuk disampaikan kepada Nabi beserta beberapa macam hadiah. Bunyi surat jawaban Muqauqis itu demikian :

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kepada Muhammad bin Abdullah dari Muqauqis pembesar Qibthi.
Semoga keselamatan atas engkau. Adapun sesudah itu, sesungguhnya saya telah membaca surat engkau, dan saya telah mengerti apa yang telah engkau sebutkan di dalamnya dan apa yang engkau mengajak kepadanya. Dan sesungguhnya saya mengerti, bahwa Nabi telah muncul, dan dulu saya menyangka bahwa Nabi itu akan lahir di negeri Syam. Sesungguhnya saya telah menghormati utusan engkau, dan saya mengirimkan untuk engkau dua gadis, yang keduanya mempunyai kedudukan yang tinggi dalam lingkungan bangsa Qibthi, dan membawa beberapa pakaian, dan saya mengirimkan hadiah seekor baghal kepada engkau untuk engkau kendarai.

Semoga keselamatan atas engkau.



MEREKALAH ORANG ORANG YANG MENCINTAI NABI

MEREKALAH ORANG ORANG YANG MENCINTAI NABI

Cinta Nabi. Kalimat sederhana yang begitu dalam maknanya. Dua kata yang bisa membuat orang menebusnya dengan dunia dan seisinya. Karena memang demikianlah hakikinya. Nabi Muhammad wajib lebih dicintai dari orang tua, istri, anak, dan siapapun juga.

Namun, kecintaan kepada Nabi Muhammad bukanlah sesuatu yang bebas ekspresi. Tetap ada aturan yang indah dan elegan. Tidak boleh berlebihan dan juga menyepelekan. Tidak boleh mengada-ada. Karena beliau begitu mulia untuk dipuja dengan sesuatu yang bukan dari ajarannya.

Allah berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 69).

Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini turun terkait dengan kisah Tsauban bin Bujdad radhiallahu ‘anhu bekas budak Rasulullah . Ia sangat mencintai Nabi . Suatu hari ia menemui Nabi , rona wajahnya berbeda. Menyiratkan kekhawatiran dan rasa sedih yang bergemuruh.

Rasulullah bertanya, ‘Apa yang membuat raut wajahmu berbeda (dari biasa)’?

‘Aku tidak sedang sakit atau kurang enak badan. Aku hanya berpikir, jika tak melihatmu, aku sangat takut berpisah denganmu. Perasaan itu tetap ada, hingga aku melihatmu. Kemudian aku teringat akhirat. Aku takut kalau aku tak berjumpa denganmu. Karena engkau di kedudukan tinggi bersama para nabi. Dan aku, seandainya masuk surga, aku berada di tingkatan yang lebih rendah darimu. Seandainya aku tidak masuk surga, maka aku takkan melihatmu selamanya’, kata Tsauban radhiallahu ‘anhu.

Kemudian Allah menurunkan ayat ini.

Mereka Yang Mencintai Nabi

Suatu hari, Abdullah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, sedang berkebun di perkebunannya. Kemudian anaknya datang, mengabarkan kalau Nabi telah wafat. Ia berucap,

اللهم أذهب بصري تى لا أرى بعد حبيبي محمدًا أحدًا

“Ya Allah, hilangkanlah penglihatanku. Sehingga aku tidak melihat seorang pun setelah kekasihku, Muhammad.” Ia katupkan dua tapak tangannya ke wajah. Dan Allah mengabulkan doanya (Syarah az-Zarqani ‘ala al-Mawahib ad-Diniyah bi al-Manhi al-Muhammadiyah, Juz: 8 Hal: 84).

Tak ada pemandangan yang lebih indah bagi para sahabat melebihi memandang wajah Rasulullah . Abdullah bin Zaid ingin, pandangan terakhirnya adalah wajah Nabi. Saat memejamkan mata, ia tak ingin ada bayangan lain di benaknya. Ia hanya ingin muncul wajah yang mulia itu.

Bilal radhillahu ‘anhu, seorang sahabat dari Habasyah. Muadzin Rasulullah . Cintanya pada sang Nabi terus bertumbuh hingga maut datang padanya. Sadar akan kehilangan Bilal, keluarganya bersedih dan mengatakan, “Betapa besar musibah”!

Bilal menanggapi, “Betapa bahagia! Esok aku berjumpa dengan kekasih; Muhammad dan sahabat-sahabatnya.” (Rajulun Yatazawwaju al-Mar-ata walahu Ghairuha, No: 285)

Cinta sahabat Nabi telah membuat kita malu. Cinta mereka begitu tulus. Tak jarang cinta kita hanya mengaku-ngaku.

Al-Hawari, Abdullah bin Zubair. Apabila ada yang menyebut Nabi di sisi Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhu, ia menangis tersedu, hingga matanya tak mampu lagi meneteskan rindu dan kesedihan (asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Hal: 402).

Demikian juga dengan sahabiyat (sahabat wanita). Cinta mereka kepada Rasululllah tak kalah hebatnya dari sahabat laki-laki. Ada seorang wanita Anshar; ayah, suami, saudara laki-lakinya gugur di medan Perang Uhud. Bayangkan! Bagaimana perasaan seorang wanita kehilangan ayah, tempat ia mengadu. Kehilangan suami, tulang punggung keluarga dan tempat berbagi. Dan saudara laki-laki yang melindungi. Ditambah, ketiganya pergi secara bersamaan. Alangkah sedih keadaannya.

Mendengar tiga orang kerabatnya gugur, sahabiyah ini bertanya, “Apa yang terjadi dengan Rasulullah ”?

Orang-orang menjawab, “Beliau dalam keadaan baik.”

Wanita Anshar itu memuji Allah dan mengatakan, “Izinkan aku melihat beliau.” Saat melihatnya ia berucap,

كل مصيبة بعدك جلل يا رسول الله

“Semua musibah (selain yang menimpamu) adalah ringan, wahai Rasullah.” (Sirah Ibnu Hisyam, Juz: 3 Hal: 43).

Maksudnya apabila musibah itu menimpamu; kematian dll. Itulah musibah yang berat.
Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Taka da seorang pun yang lebih aku cintai melebih Rasulullah. Dan tak ada seorang pun yang lebih mulia bagiku selain dirinya. Aku tidak pernah menyorotkan penuh pandanganku padanya, karena begitu menghormatinya. Sampai-sampai jika aku ditanya, tentang perawakannya, aku tak mampu menggambarkannya. Karena mataku tak pernah memandangnya dengan pandangan utuh.” (Riwayat Muslim dalam Kitab al-Iman No: 121).

Sebagaimana kita saksikan, seorang pengawal kerajaan menundukkan wajahnya ketika berbicara dengan sang raja. Karena menghormati dan memuliakan rajanya. Amr bin al-Ash lebih-lebih lagi dalam memuliakan dan mengagungkan Nabi .

Adakah pengagungan yang lebih hebat dan lebih luar biasa. Selain pengagungan para sahabat Nabi Muhammad terhadap beliau?

Cinta Nabi Harus Mencintai Sahabatnya

Mencintai Nabi berkonsekuensi mencintai sahabatnya. Abdullah bin al-Mubarak mengatakan, “Ada dua jalan, siapa yang berada di atasnya, ia selamat. Ash-shidqu (jujur) dan mencintai sahabat Muhammad .” (asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Hal: 413).
Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah (tokoh tabi’in) mengatakan, “Siapa yang mencintai Abu Bakar, ia telah menegakkan agama. Siapa yang mencintai Umar, ia telah memperjelas tujuan. Siapa yang mencintai Utsman, ia telah meminta penerangan dengan cahaya Allah. Dan siapa yang mencintai Ali, ia telah mengambil tali yang kokoh. Siapa bagus sikapnya terhadap sahabat Muhammad , ia telah berlepas diri dari kemunafikan. Siapa yang merendahkan salah seorang dari mereka, ia adalah seorang ahli bid’ah yang menyelisihi Sunnah dan salaf ash-shaleh. Aku khawatir amalnya tidak naik ke langit (tidak diterima), hingga ia mencintai semua sahabat. Dan hatinya bersih terhadap mereka.” (ats-Tiqat oleh Ibnu Hibban No:680).

Mencintai Rasulullah adalah kedudukan mulia. Umat Islam berlomba-lomba mencintai beliau. Kecintaan kepada beliau menguatkan hati. Gizi bagi ruh. Dan penyejuk jiwa. Mencintai beliau adalah cahaya. Tak ada kehidupan bagi hati kecuali dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Kita melihat orang-orang yang cinta nabi, mata mereka berbinar bahagia. Jiwa mereka syahdu. Hati mereka tenang. Mereka menikmati rasa cinta itu. mereka menjadi mulia di dunia dan berbahagia di akhirat. Mereka tahu bagaimana rasa yang namanya bahagia itu. Keadaan sebaliknya bagi mereka yang tidak mencintai Nabi. Mereka merasakan kegundahan. Jiwa yang hampa. Perasaan yang sakit. Dan rugi.

Dalam Zadul Ma’ad, Ibnul Qayyim rahimahullah, mengatakan, “Maksudnya adalah sekadar mana seseorang mengikuti Rasul. Setingkat itu pula kadar kemuliaan dan pertolongan. Sebatas itu pula kualitas hidayah, kemenangan, dan kesuksesan. Allah memberi hubungan sebab-akibat, kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan mengikuti Nabi. Dia menjadikan kesengsaraan di dunia dan akhirat bagi yang menyelisihi sang Nabi. Mengikutinya adalah petunjuk, keamanan, kemenangan, kemuliaan, kecukupan, kenikmatan. Mengikutinya adalah kekuasaan, teguh di atasnya, kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Menyelisihinya adalah kehinaan, ketakutan, kesesatan, kesengsaraan di dunia dan akhirat.”

Renungan

Setelah mengetahui bagaimana hebatnya cinta dan pengagungan para sahabat terhadap Rasulullah , tentunya kita semakin bersemangat untuk meneladani cara mereka mencintai Nabi. Cara yang tidak berlebihan dan tidak menyepelekan. Cara mereka mencintai diridhai oleh Nabi.

Mereka menangis, tidak berani menyorotkan pandangan, bahagia dengan keselamatan beliau, dll. tapi mereka tak pernah melakukan perayaan maulid Nabi yang dianggap bukti cinta padanya. Mereka tak pernah merayakan suatu ‘amalan’ di hari kelahiran sang tauladan yang katanya adalah pengagungan.

Apakah kita yang belajar dari mereka cara mencintai Nabi ataukah sebaliknya?

Demikianlah kita anak-anak akhir zaman. Sering menyebut cinta, tapi kita tak tahu apa artinya mencintai. Akhirnya, semakin marak perayaan, umat tak kunjung juga mengkaji hadits-hadits Nabi. Lihatlah sekitar kita sebagai renungan dan bukti.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)