Kantor Sekretariat Rumah Sajada

Alamat : Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman D.I. Yogyakarta

Tampak Depan PAPP Rumah Sajada

Komplek Kantor dan Asrama Putri Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman

Pendopo Rumah Sajada

Komplek Asrama Putra Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putri Rumah Sajada

Komplek Asarama Putri Wirokraman Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putra

Alamat : Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Selasa, 03 April 2018

Kelebihan Menghafal AI Quran


Kelebihan Menghafal AI Quran

Menghafal Al-Qur’an adalah amalan yang sangat ditakuti Iblis, dan sekaligus merupakan senjata paling ampuh melawan serta melumpuhkannya. Allah SWT telah menjanjikan kelebihan bagi mereka yang menghafal Al-Qur’an seperti yang digambarkan seperti berikut. (sumber dari hadis-hadis).

Mereka Adalah Keluarga Allah

Sabda Rasulullah s.a.w. dalam hadis yang bersumber daripada Anas r.a. : “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia.” Kemudian Anas bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Iaitu ahli Qur’an (orang yang membaca atau menghafal Al-Qur’an dan mengamalkan isinya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa di sisi Allah.”

Ditempatkan di Syurga Yang Paling Tinggi

Sabda Rasulullah s.a.w. dan Abdullah Bin Amru Bin AlAsh r.a. dari Nabi, beliau bersabda: “Di akhirat nanti para ahli Al Qur’an diperintahkan, “Bacalah dan naiklah ke syurga. Dan bacalah Al Qur’an dengan tartil seperti engkau membacanya dengan tartil pada waktu di dunia. Tempat tinggal mu di syurga berdasarkan ayat paling akhir yang engkau baca.”

Ahli Al-Qur’an adalah Orang Yang Arif di Syurga

Sabda Rasulullah s.a.w. dari Anas r.a. bahawasanya Rasulullah bersabda: “Para pembaca Al Quran itu adalah orang-orang yang arif di antara penghuni Syurga.”

Menghormati Orang Yang Menghafal Al-Qur’an Bererti Mengagungkan Allah
Sabda Rasulullah s.a.w. dari Abu Musa Al Asya’ari r.a. ia berkata bahawasanya Rasulullah bersabda: “Di antara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al-Qur’an tidak diamalkan, serta menghormati penguasa yang adil.

Hati Penghafal Al-Qur’an Tidak Diseksa

Sabda Rasulullah s.a.w. dan Abdullah Bin Mas’ud r.a.: “Bacalah AlQur’an kerana Allah tidak akan menyeksa hati orang yang hafal Al-Qur’an. Sesungguhnya Al-Quran adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkannya dia akan aman. Dan barangsiapa yang mencintai Al-Qur’an maka hendaklah dia bergembira.”

Mereka Lebih Berhak Menjadi Imam Dalam Solat

Sabda Rasulullah s.a.w. dari Ibnu Mas’ud r.a: “Yang menjadi imam dalam solat suatu kaum hendaknya yang paling pandai membaca Al-Qur’an.”

Disayangi Rasulullah

Sabda Rasulullah s.a.w. dan Jabir bin Abdullah r.a. bahawa Nabi menyatukan dua orang daripada orang-orang yang gugur dalam perang Uhud dalam satu liang lahad. Kemudian Nabi bertanya, “Daripada mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al Qur’an? Apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka Nabi memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad.

Dapat Memberikan Syafaat Kepada Anggota Keluarga

Sabda Rasulullah s.a.w. danipada Ali bin Abi Thalib r.a.: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam syurga dan memberikannya hak syafaat untuk 10 anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah ditetapkan untuk masuk neraka.”

Penghafal Al-Qur’an Akan Memakai Mahkota Kehormatan

Sabdar Rasulullah s.a.w. danipada Abu Hurairah r.a: Orang yang hafal Al-Qur’an nanti pada hari kiamat akan datang dan Al-Qur’an akan berkata; “Wahai Tuhan, pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru.” Maka orang tersebut diberikan mahkota kehormatan. AlQur’an berkata lagi: “Wahai Tuhan tambahlah pakaiannya.” Maka orang itu diberi pakaian kehormatannya. Al-Quran lalu berkata lagi, “Wahai Tuhan, redhailah dia.” Maka kepadanya dikatakan; “Bacalah dan naiklah.” Dan untuk setiap ayat, dia diberi tambahan satu kebajikan.

Hafal Al-Qur’an Merupakan Bekal Paling Baik

Sabda Rasulullah s.a.w. daripada Jabir bin Nufair: “Sesungguhnya kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling baik dari sesuatu yang berasal dariNya iaitu Al-Qur’an”.

Ma'had Tahfiz Al-Quran Nusratul Ulum (MATAN)


PENTINGNYA PENYEMBUHAN DENGAN ALQURAN DAN AS SUNNAH


PENTINGNYA PENYEMBUHAN DENGAN ALQURAN DAN AS SUNNAH

Tidak diragukan lagi bahwa penyembuhan dengan Al-Qur’an dan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa ruqyah [1], merupakan penyembuhan yang bermanfaat sekaligus penawar yang sempurna.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

“Katakanlah ; Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman” [Fushshilat/41 : 44]

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” [Al-Israa/17 : 82]
Pengertian “dari Al-Qur’an”, pada ayat di atas adalah Al-Qur’an itu sendiri. Karena Al-Qur’an secara keseluruhan adalah penyembuh, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas [2]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” [Yunus/10 : 57]

Dengan demikian, Al-Qur’an merupakan penyembuh yang sempurna di antara seluruh obat hati dan juga obat fisik, sekaligus sebagai obat bagi seluruh penyakit dunia dan akhirat. Tidak setiap orang mampu dan mempunyai kemampuan untuk melakukan penyembuhan dengan Al-Qur’an. Jika pengobatan dan penyembuhan itu dilakukan secara baik terhadap penyakit, dengan didasari kepercayaan dan keimanan, penerimaan yang penuh, keyakinan yang pasti, terpenuhi syarat-syaratnya, maka tidak ada satu penyakit pun yang mampu melawan Al-Qur’an untuk selamanya. Bagaimana mungkin penyakit-penyakit itu akan menentang dan melawan firman-firman Rabb bumi dan langit yang jika (firman-firman itu) turun ke gunung, maka ia akan memporak-porandakan gunung-gunung tersebut, atau jika turun ke bumi, niscaya ia akan membelahnya.

Oleh karena itu, tidak ada satu penyakit hati dan juga penyakit fisik pun melainkan di dalam Al-Qur’an terdapat jalan penyembuhannya, sebab kesembuhan, serta pencegahan terhadapnya bagi orang yang dikaruniai pemahaman oleh Allah terhadap Kitab-Nya. Dan Allah Azza wa Jalla (Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung) telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an beberapa penyakit hati dan fisik, juga disertai penyebutan penyembuhan hati dan juga fisik.

Adapun penyakit-penyakit hati terdiri dari dua macam, yaitu : penyakit syubhat (kesamaran) atau ragu, dan penyakit syahwat atau hawa nafsu. Allah yang Mahasuci telah menyebutkan beberapa penyakit hati secara terperinci yang disertai dengan beberapa sebab, sekaligus cara penyembuhan penyakit-penyakit tersebut. [3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka, bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman” [Al-Ankabuut/ 29 : 51]

Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengemukakan. “Barangsiapa yang tidak dapat disembuhkan oleh Al-Qur’an, berarti Allah tidak memberikan kesembuhan kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak dicukupkan oleh Al-Qur’an, maka Allah tidak memberikan kecukupan kepadanya” [4]

Mengenai penyakit-penyakit badan atau fisik, Al-Qur’an telah membimbing dan menunjukkan kita kepada pokok-pokok pengobatan dan penyembuhannya, dan juga kaidah-kaidah yang dimilikinya. Yakni, bahwa kaidah pengobatan penyakit badan secara keseluruhan terdapat di dalam Al-Qur’an, yaitu ada tiga point.

1. Menjaga kesehatan

2. Melindungi diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit

3. Mengeluarkan unsur-unsur yang merusak badan. [5]

Jika seorang hamba melakukan penyembuhan dengan Al-Qur’an secara baik dan benar, niscaya dia akan melihat pengaruh yang sangat menakjubkan dalam penyembuhan yang cepat.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat Al-Faatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zamzam dan membacakan padanya surat Al-Faatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku mendapatkan kesembuhan total. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar. Kemudian aku beritahukan kepada orang banyak yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat”[6]

Demikian juga pengobatan dengan ruqaa (jama’ dari ruqyah) Nabawi yang riwayatnya shahih merupakan obat yang sangat bermanfaat. Dengan ayat dan do’a yang dipanjatkan. Apabila do’a tersebut terhindar dari penghalang-penghalang terkabulnya do’a itu, maka ia merupakan sebab yang sangat bermanfaat dalam menolak hal-hal yang tidak disenangi dan akan tercapai hal-hal yang diinginkan. Yang demikian itu termasuk salah satu obat yang sangat bermanfaat, khususnya yang dilakukan berkali-kali. Dan do’a pun berfungsi sebagai penangkal bala’ (musibah), mencegah dan menyembuhkannya, menghalangi turunnya, atau meringankannya jika ternyata sudah sempat turun. [7]

“Tidak ada yang dapat mencegah qadha’ (takdir) kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat memberi tambahan pada umur kecuali kebajikan” [8]

Tetapi yang harus dimengerti dengan cermat, yaitu bahwa ayat-ayat, dzikir-dzikir, do’a-do’a dan beberapa ta’awudz (permohonan perlindungan kepada Allah) yang dipergunakan untuk mengobati atau untuk ruqyah pada hakikatnya pada semua ayat, dzikir-dzikir, do’a-do’a dan ta’awwudz itu sendiri memberi manfaat yang besar dan juga dapat menyembuhkan. Namun, ia memerlukan penerimaan (dari orang yang sakit) dan kekuatan orang yang mengobati dan pengaruhnya. Jika suatu penyembuhan itu gagal, maka yang demikian itu disebabkan oleh lemahnya pengaruh pelaku, atau karena tidak adanya penerimaan oleh pihak yang diobati, atau adanya rintangan yang kuat di dalamnya yang menghalangi reaksi obat.

Pengobatan dengan ruqyah ini dapat dicapai dengan adanya dua aspek, yaitu dari pihak pasien (orang yang sakit) dan dari pihak orang yang mengobati

Yang berasal dari pihak pasien adalah berupa kekuatan dirinya dan kesungguhan bergantung kepada Allah, serta keyakinannya yang pasti bahwa Al-Qur’an itu memang penyembuh sekaligus rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ta’awwudz yang benar yang sesuai antara hati dan lisan, maka yang demikian itu merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap penyakit. Dan seseorang yang melakukan perlawanan tidak akan memperoleh kemenangan dari musuh kecuali dengan dua hal, yaitu :

Pertama : Keadaan senjata yang dipergunakan haruslah benar, bagus dan kedua tangan yang menggunakannya pun harus kuat. Jika salah satu dari keduanya hilang, maka senjata itu tidak banyak berarti, apalagi jika kedua hal di atas tidak ada, yaitu, hatinya kosong dari tauhid, tawakkal, takwa, tawajjuh (menghadap, bergantung sepenuhnya kepada Allah) dan tidak memiliki senjata.

Kedua : Dari pihak yang mengobati dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah juga harus memenuhi kedua hal di atas [9]. Oleh karena itu, Ibnut Tiin rahimahullah berkata : “Ruqyah dengan menggunakan beberapa kalimat ta’awwudz dan juga yang lainnya dari Nama-Nama Allah adalah pengobatan rohani. Jika dilakukan oleh lisan orang-orang yang baik, maka dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala kesembuhan tersebut akan terwujud” [10]

Para ulama telah sepakat membolehkan ruqyah dengan tiga syarat, yaitu : [11]

1. Ruqyah itu dengan menggunakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau Asma dan sifat-Nya, atau sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

2. Ruqyah itu boleh diucapkan dalam bahasa Arab atau bahasa lain yang difahami maknanya.

3. Harus diyakini bahwa bukanlah dzat ruqyah itu sendiri yang memberikan pengaruh, tetapi yang memberi pengaruh itu adalah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan ruqyah hanya merupakan salah satu sebab saja. [12]

[Disalin dari buku Do’a & Wirid Mengobati Guna-Guna Dan Sihir Menurut Al-Qur’an Dan As-Sunnah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cetakan Keenam Dzulhijjah 1426H/Januari 2006M]
_______
Footnote
[1]. Ruqyah jama’nya adalah ruqaa, yaitu bacaan-bacaan untuk pengobatan yang syar’i (yaitu berdasarkan pada riwayat yang shahih, atau sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para ulama).
[2]. Lihat Al-Jawaabul Kaafi Liman Sa’ala Anid Dawaa-isy Syaafi (jawaban yang memadai bagi orang yang bertanya tentang obat penyembuh yang mujarab) atau Ad-Daa’wad Dawaa’ (penyakit dan obatnya) karya Ibnul Qayyim (hal.7)
[3]. Lihat Zaadul Ma’aad karya Ibnul Qayyim (IV/6, IV/352)
[4]. Lihat Zaadul Ma’aad (IV/352)
[5]. Lihat sumber-sumber sebelumnya Zaadul Ma’aad (IV/6, 352)
[6]. Lihat Zaadul Ma’aad (IV/178) dan Al-Jawaabul Kaafi (hal. 23)
[7]. Lihat Al-Jawaabul Kaafi (hal. 22-25)
[8]. HR Al-Hakim I/493, Ibnu Majah no. 4022, Ahmad V/277, 280, 282 dan Ath-Thahawi no. 3069 dari Tsauban dan At-Tirmidzi no. 2139, Ath-Thahawi dalam Musykilul Autsaar VIII/78 no 3068 dari Salman dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahiihah no. 154
[9]. Lihat Zaadul Ma’aad IV/67-68
[10]. Fathul Baari (X/196)
[11]. Lihat Fathul Baari (X/195), juga Fataawa Al-Allamah Ibni Baaz (II/384)
[12]. Lihat Al-Ilaaj bir Ruqaa Minal Kitaab wa Sunnah hal. 83

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Di balik KESULITAN ada KEMUDAHAN


Di balik KESULITAN ada KEMUDAHAN

Satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan.
”Para pembaca pasti sudah seringkali mendengar ayat berikut

,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
(QS. Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Alam Nasyroh: 6).

Kita sering mendengar ayat ini, namun kadang hati ini lalai, sehingga tidak betul-betul merenungkannya. Atau mungkin kita pun belum memahaminya. Padahal jika ayat tersebut betul-betul direnungkan sungguh luar biasa faedah yang dapat kita petik. Jika kita benar-benar mentadabburi ayat di atas, sungguh berbagai kesempitan akan terasa ringan dan semakin mudah kita pikul.

Marilah kita coba merenungkan bagaimanakah tanggapan para pakar tafsir mengenai ayat di atas.Al Hasan Al Bashri mengatakan bahwa ketika turun surat Alam Nasyroh ayat 5-6,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kabarkanlah bahwa akan datang pada kalian kemudahan. Karena Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.

Ibnu Katsir mengatakan, “Janji Allah itu pasti, tidak mungkin Allah menyelisihinya” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/42)Yakinlah bahwa dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan yang begitu dekat.

Sabar menanti adanya kelapangan adalah solusi paling ampuh dalam menghadapi masalah, bukan dengan mengeluh dan berkeluh kesah. Imam Asy Syafi’i pernah berkata dalam bait syair,

Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat.

Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan,
maka ia pasti akan selamat.

Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.
Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/ 392)

Semoga Allah senantiasa memudahkan kita meraih kelapangan dari kesempitan yang ada. Haruslah kita yakin badai pasti berlalu: “After a storm comes a calm”. Hanya Allah yang memberi taufik.

Laa Haula Quwata illa billah (Tiada daya dan upaya kecuali pertolongan ALLOH SUBHANAHU WATA’ALA)




Senin, 02 April 2018

Di Balik Kesusahan Ada Kemudahan


Di Balik Kesusahan Ada Kemudahan


Suatu hari ada seorang  pengusaha yang bernama Khalid bermaksud mengadakan perjalanan bisnis keluar pulau. Bisnis ini sangat penting bagi kemajuan  perusahaannya. Ketika hendak ke bandara tiba-tiba teleponnya berdering. Rupanya Haji Somad yang merupakan tetangganya minta tolong untuk diantar karena arah tujuan Pak Haji Somad juga menuju ke bandara. Karena arahnya sama maka Pak Khalid setuju untuk mengantar Pak Haji Somad. Kebetulan juga cuaca pada saat itu agak mendung.

Di perjalanan mereka ngobrol tentang berbagai hal... tiba-tiba terdengar suara Adzan Dhuhur bergema maka Pak Haji Somad meminta Pak Khalid untuk berhenti dan melaksanakan sholat Dhuhur secara berjamaah. Ketika mendengar hal itu Pak khalid melirik jam tangannya dan dia perhatikan kayaknya kalau dia melaksanakan sholat Dhuhur berjamaah maka dia akan ketinggalan pesawat... dan bisnis bisa berantakan.

 Dengan terpaksa Pak Khalid berhenti dan sholat berjamaah Dhuhur dengan Pak Haji Somad. Tapi rasa was-was terus mengelayuti hatinya ketika sholat... "Apakah saya tidak terlambat?" tanyanya dalam hati.

Setelah selesai sholat dan mengantar Pak Haji Somad... maka Pak Khalid memerintahkan sopirnya memacu mobilnya ke bandara mengejar pesawat yang akan dia tumpangi.

Tapi apa daya... pesawatnya telah berangkat. Pak Khalid terlambat. Gagal-lah bisnis besar yang akan dia bahas dengan kliennya dan betapa jengkel dan marahnya Pak Khalid kepada Pak Haji Somad. Dia merasa gara-gara Pak Haji Somad hancurlah perjalanan bisinisnya. Dia berkata kepada sopirnya, "Gara-gara Pak Haji Somad perjalanan bisnis kita hancur dan hancurlah keuntungan besar kita!"

Terus menerus Pak Khalid mengeluh dan marah-marah. Tiba-tiba teleponnya berdering. Ketika dia lihat ternyata boss-nya yang menelepon. Dengan perasaan berat dia mengangkat teleponnya sambil berkata dalam hati, 'Mungkin saya akan kena marah karena gagal mengemban tugas dari perusahaan.'

"Assalamu alaikum, bisa bicara dengan Pak Khalid?" tanya Pak Boss.

"Allaikumsalam. Ini saya, Pak! Khalid," jawab Pak Khalid.

"Apa betul ini Pak Khalid?" tanya Pak Boss lagi

"Iya, Pak. Saya Khalid dan ini nomor saya," kata Pak Khalid lagi.

"Betul ini dengan Khalid?" tanya Pak Boss lagi dengan sedikit keheranan.

"Iya, Pak. Saya minta maaf, Pak, saya tidak berangkat karena ketinggalan pesawat,." katanya.

"Alhamdulillah... Syukur kau terlambat! Pesawat yang hendak kau tumpangi tadi jatuh menabrak gunung karena cuaca yang tidak mendukung dan semua penumpangnya meninggal... Ini beritanya di TV!" seru Pak Boss dengan perasaan senang.

"Apa? Jatuh?" balas Pak Khalid tak percaya

"Iya!" jawab Pak Boss.

"Alhamdulillah! Untung Pak Haji Somad mengajak saya sholat berjamaah sehingga saya terlambat," katanya, "Kalau tidak... mungkin saya sudah meninggal!" katanya lagi.

Dengan perasaan senang Pak Khalid memuji Pak Haji Somad... Padahal baru beberapa menit yang lalu dia mengeluh dan menyalahkan Pak Haji Somad atas keterlambatannya...

Ajaib... Allah berkehendak atas Kehendak-Nya!

Dan tentunya dari Cerita Inspiratif - Di Balik Kesusahan Ada Kemudahan yang singkat di atas, kita dapat memetik hikmah bahwa:

Tak selamanya sesuatu yang kelihatan buruk itu mengandung keburukan...

Tapi terkadang mengandung kebaikan dari Allah Azza Wa Jalla...

Dibalik kesusahan ada kemudahan...



Yakinlah Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan yang Begitu Dekat


Yakinlah Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan yang Begitu Dekat

Dibalik Kesusahan Ada Kemudahan Setelah Kesulitan Pasti Ada Kemudahan Ayat Sesudah Kesulitan Ada Kemudahan Didalam Kesulitan Ada Kemudahan Ayat Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

Seringkali kita berputus asa tatkala mendapatkan kesulitan atau cobaan. Padahal Allah telah memberi janji bahwa di balik kesulitan, pasti ada jalan keluar yang begitu dekat.
Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)
Mengenai ayat di atas, ada beberapa faedah yang bisa kita ambil:

Pertama: Di balik satu kesulitan, ada dua kemudahan

Kata “al ‘usr (kesulitan)” yang diulang dalam surat Alam Nasyroh hanyalah satu. Al ‘usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr dalam ayat berikutnya karena keduanya menggunakan isim ma’rifah (seperti kata yang diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Jika isim ma’rifah  diulang, maka kata yang kedua sama dengan kata yang pertama, terserah apakah isim ma’rifah tersebut menggunakan alif lam jinsi ataukah alif lam ‘ahdiyah.” Intinya, al ‘usr (kesulitan) pada ayat pertama sama dengan al ‘usr (kesulitan) pada ayat kedua.

Sedangkan kata “yusro (kemudahan)” dalam surat Alam Nasyroh itu ada dua. Yusro (kemudahan) pertama berbeda dengan yusro (kemudahan) kedua karena keduanya menggunakan isim nakiroh (seperti kata yang tidak diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Secara umum, jika isim nakiroh itu diulang, maka kata yang kedua berbeda dengan kata yang pertama.” Dengan demikian, kemudahan itu ada dua karena berulang.[1] Ini berarti ada satu kesulitan dan ada dua kemudahan.

Dari sini, para ulama pun seringkali mengatakan, “Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.” Asal perkataan ini dari hadits yang lemah, namun maknanya benar[2]. Jadi, di balik satu kesulitan ada dua kemudahan.

Note: Mungkin sebagian orang yang belum pernah mempelajari bahasa Arab kurang paham dengan istilah di atas. Namun itulah keunggulan orang yang paham bahasa Arab, dalam memahami ayat akan berbeda dengan orang yang tidak memahaminya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaklah membekali diri dengan ilmu alat ini. Di antara manfaatnya, seseorang akan memahami Al Qur’an lebih mudah dan pemahamannya pun begitu berbeda dengan orang yang tidak paham bahasa Arab. Semoga Allah memberi kemudahan.

Kedua: Akhir berbagai kesulitan adalah kemudahan

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”[3] Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran, “Badai pastilah berlalu (after a storm comes a calm), yaitu setelah ada kesulitan pasti ada jalan keluar.”

Ketiga: Di balik kesulitan, ada kemudahan yang begitu dekat

Dalam ayat  di atas, digunakan kata ma’a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan, “Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang dhob (yang berlika-liku dan sempit, pen), kemudahan akan turut serta memasuki lubang itu dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut.”[4] Padahal lubang binatang dhob begitu sempit dan sulit untuk dilewati karena berlika-liku (zig-zag). Namun kemudahan akan terus menemani kesulitan, walaupun di medan yang sesulit apapun.
Allah Ta’ala berfirman,

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7) Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan, “Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan.”[5] Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.”[6]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“Bersama kesulitan, ada kemudahan.”[7] Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan Rasul-Nya ini?

Rahasia Mengapa di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu Dekat
Ibnu Rajab telah mengisyaratkan hal ini. Beliau berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).”[8] Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya. Jadi intinya, tawakkal lah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang yang sabar dalam menghadapi setiap ketentuan-Mu. Jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang selalu bertawakkal dan bergantung pada-Mu. Amin Ya Mujibas Saa-ilin.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
-Begitu nikmat setiap hari dapat menggali faedah dari sebuah ayat. Semoga hati ini tidak lalai dari mengingat-Nya-

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Dua kaedah bahasa Arab ini disebutkan oleh Asy Syaukani dalam kitab tafsirnya Fathul Qodir, 8/22, Mawqi’ At Tafasir.
[2] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut adalah dho’if (lemah). Hadits tersebut termasuk hadits mursal dan mursal termasuk hadits dho’if (lemah). Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 4342
[3] Taisir Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 929, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H
[4] Asal perkataan ini adalah dari hadits yang dho’if (lemah), namun maknanya shahih (benar).
[5] Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 6/42, Mawqi’ At Tafasir dan Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/247, Mawqi’ At Tafasir.
[6] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/154, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.
[7] HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[8] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 238, Darul Muayyad, cetakan pertama, tahun 1424 H.
Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF




Doa Mustajab untuk Menghadapi Ujian dan Cobaan dari Allah


Doa Mustajab untuk Menghadapi Ujian dan Cobaan dari Allah

Kehidupan di dunia tentunya tidaklah panjang. Dunia akan berakhir dan semua yang ada di dunia ini akan hancur. Untuk itu, segala yang ada di dunia ini tidak lain hanyalah berupa ujian dan cobaan yang Allah berikan untuk mengetahui hamba-hambanya yang bertaqwa dan tidak.

Sering kali manusia lupa bahwa hidupnya di dunia sementara. Padahal manusia memiliki tugas untuk mencapai Tujuan Hidup Menurut Islam , Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Penciptaan Manusia , yang diusahakan oleh manusia. Terkadang timbul pemikiran seakan-akan manusia selalu hidup di dunia padahal semuanya akan berakhir dan yang kekal hanyalah kehidupan di akhirat.

Untuk itu, sejatinya yang ada di dunia ini adalah ujian untuk manusia. Tidak ada yang kekal dan seluruhnya baik suka ataupun duka akan Allah minta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Lantas bagaimana kehidupan akhirat semuanya bergantung kepada bagaimana manusia bisa menghadapi ujian yang ada selama hidup.

Fungsi Doa dalam Ujian

Setiap ujian Allah sampaikan pasti ada jalan keluarnya. Yang buruk tidak selalu buruk begitupun yang baik tidak selalu baik. Untuk itu, dalam ujian juga sebagai manusia kita membutuhkan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT.

Ada banyak doa yang bisa kita panjatkan misalnya saja Doa Mandi Haid , Doa Menguburkan Jenazah, Doa Puasa Ramadhan, Keutamaan Doa Nurbuat , dan Keutamaan Doa Kanzul Arasyi.

Begitupun doa untuk menghadapi ujian dan meminta kesabaran di dunia. Berikut adalah fungsi doa dalam kita menghadapi ujian kehidupan di dunia.

Menjauhi Rasa Putus Asa

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al Baqarah : 186)

Banyak keutamaan saat melakukan doa untuk menghadapi ujian. Dengan berdoa manusia akan terjauh dari rasa putus asa karena dihadapannya masih ada Allah SWT yang membantu dan memberikan kasih sayangnya. Dengan berdoa kita akan selalu mengingat sebagaimana ayat di atas bahwa Allah akan mengabulkan segala permohonan hambanya yang memohon kepada Allah asalkan mereka meyakini Allah dan berada di jalan kebenaran.

Untuk itu orang-orang beriman akan selalu optimis dalam menghadapi ujian dan tidak ada keraguan akan pertolongan Allah walaupun dari jalan yang tidak disangka sangka.

Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS An Naml : 62)

Dengan berdoa maka kita akan selalu mengingat Allah dan mendekatkan diri kepada Allah. Orang-orang yang merasa hidupnya merasa dalam ujian dan membutuhkan bekal kehidupan akhirat sakan selalu membutuhkan Allah.

Untuk itu, berikut adalah doa yang bisa dipanjatkan saat menghadapi ujian.

“Robbanaa Afrigh Alainaa Shobron, wa Tsabbit Aqdaamanaa, wanshurnaa ‘Alal Qoumil Kaafiriin.”Artinya: “Ya Tuhan, limpahkan kesabaran pada hati dan diri kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami dari orang-orang kafir.”

Doa yang lain adalah:

Allahummaj-‘alnii syakuuran, waj-‘alnii shabuuran, waj-‘alnii fii ‘ainii shaghii-ran, wafii a’yunin-naasi kabiiran. Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aku orang yang pandai bersyukur kepada-Mu, sabar menerima cobaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah aku kecil dalam pandanganku sendiri, tetapi besar dalam pandangan orang lain.”

Dalil Al-Quran Mengenai Ujian Hidup Manusia

Di dalam Al-Quran dijelaskan banyak hal mengenai ujian terhadap manusia. Allah menyampaikan berulang-ulang bahwa manusia sejatinya sedang diuji dan kelak manusia akan mendapatkan balasan atas apa yang dilakukannya di dunia. Bahkan nabi-nabi terdahulu pun selalu mendapat ujian dan cobaan yang keras, dan mereka diperintahkan untuk bisa memberikan teladan kepada manusia untuk bisa menghadapi berbagai cobaan tersebut.

Berikut adalah ayat-ayat Allah mengenai ujian hidup terhadap manusia.

Ujian adalah Keniscaayaan

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al-Baqarah : 214)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa ujian adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Manusia bisa mendapatkan ujian dalam berbagai bentuk. Hal ini terjadi di setiap zaman kehidupan manusia, yang berbeda hanyalah konteks ujian dan tantangan kehidupannya saja. Di sisi yang lain, manusia harus bisa survive dan bersabar untuk menghadapi berbagai goncangan dalam hidupnya.

Misalnya saja ujian kehidupan di masyarakat satu bisa berupa kekeringan, kelaparan, sedangkan di masyarakat lain bisa jadi tidak ada kelaparan dan kekeringan tetapi terjadinya ujian pemikiran yang memprogandakan kehidupan bebas tanpa Tuhan. Semuanya bergantung kepada masalah yang ada di masing-masing masyarakat dan diri masing-masing manusia.

Apa yang Dicintai adalah Ujian

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.(QS Al-Anfal : 28)

Apa yang manusia cintai sejatinya adalah ujian kehidupan. Sejauh apa kita mencintainya dan apakah sampai kepada meninggalkan perintah Allah? Contohnya seperti harta dan anak-anak yang dimiliki adalah ujian. Setiap manusia pasti bahagia memiliki harta dan anak-anak. Semua itu tentu adalah ujian, apakah fokus kita hanya pada tujuan tersebut atau justru menjadikan harta dan anak-anak sebagai bekal untuk ke akhirat.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS Al Baqarah : 155)

Hal ini disampaikan kembali dalam ayat di atas bahwa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, harta, dan jiwa adalah hal-hal yang menjadi ujian. Sering kali ada manusia yang meninggalkan kehidupan akhirat demi mengejar hal tersebut, bahkan menjadikannya sebagai tujuan utama. Sedangkan orang-orang yang bersabar menjalani kehidupan dunia dengan kesederhanaan, ketaqwaan, dan perasaan tawaqal menyerahkan kepada Allah SWT.

Yang Baik dan Buruk adalah Ujian

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS Al Anbiya : 21)

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa setiap baik dan buruk adalah ujian. Oleh karena itu dibutuhkan banyak doa untuk menghadapi ujian. Hakikatnya di dunia ini tidak ada yang abadi. Yang buruk maka hal ini menjadi ujian apakah orang tersebut bisa bersabar sedagkan yang baik tentu menjadi ujian apakah orang tersebut akan berlaku sombong dan angkuh. Semuanya memiliki nilai masing-masing di hadapan Allah dan baik buruk semuanya dihadapan Allah adalah yang paling bertaqwa.