Kantor Sekretariat Rumah Sajada

Alamat : Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman D.I. Yogyakarta

Tampak Depan PAPP Rumah Sajada

Komplek Kantor dan Asrama Putri Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman

Pendopo Rumah Sajada

Komplek Asrama Putra Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putri Rumah Sajada

Komplek Asarama Putri Wirokraman Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putra

Alamat : Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Selasa, 03 Maret 2020

Panduan Terapi Warna


Panduan Terapi Warna


Pelangi pelangi alangkah indahmu
Merah kuning hijau di langit yang biru
Pelukismu agung siapa gerangan
Pelangi pelangi ciptaan Tuhan

Masih ingat dengan lirik lagu Pelangi-pelangi di atas..? hehehe..
Sahabat, Kemanapun kita pergi ke alam semesta ini, bertebaran warna berbagai rupa yang memberi nuansa indah dalam diri kita. Dan ternyata, warna juga erat kaitannya dengan kesehatan kita.

Anne Woodheem dan Davids Peter dalam ensiklopedi Healing Therapies menyatakan bahwa efek warna biru dan hijau ternyata sangat bermanfaat bagi tubuh. Dimulai pada masa sejarah kuno dimana hijau diyakini sebagai warna pertumbuhan sedangkan biru sebagai warna kedamaian. Ternyata efek terapi yang ditimbulkan tidak jauh dari keyakinan tersebut.

Seorang ilmuwan dari India, Dinshah P. Ghadiali, kemudian berpendapat bahwa kekuatan dari warna terletak pada fakta bahwa mereka memancarkan getaran yang dapat memperbaiki mood dan suasana hati, sehingga mampu memberi efek penyembuhan.

Banyak penelitian dilakukan untuk mencari efek spesifik dari tiap warna.

Tahun 1948 di Jerman, dihasilkan data bahwa penggunaan warna biru, orange dan merah, mampu meningkatkan IQ siswa.

Penelitian di Amerika Serikat pada tahun 1973 mengatakan bahwa warna merah mengakibatkan peningkatan tekanan darah serta denyut nadi, sedangkan warna orange mengakibatkan rasa lapar. Warna biru, mengurangi rasa lapar, menurunkan tekanan darah, serta menjadikan seseorang merasa lebih rileks dan merasa damai. Sering digunakan sebagai terapi pada penderita insomnia, hipertiroid dan gangguan panik.

Donald Lapore dalam "The Ultimate Healing System" menggunakan warna biru ketika mengisi kuliah karena memberikan energi lebih pada area vokal serta mengakibatkan orang lebih memperhatikan apa yang disampaikan. Sedangkan warna hijau menghadirkan keseimbangan, simpati dan ketakziman cinta. Hijau membantu area hati terus stabil dengan menciptakan harmoni dan harapan, serta baik untuk relaksasi sesungguhnya karena menyeimbangkan emosi.

Dengan melihat berbagai warna di alam semesta, sesungguhnya kita telah memberikan terapi warna kepada tubuh kita. Maka betapa murah hatinya Tuhan yang telah memberikan berbagai terapi gratis yang tinggal dimanfaatkan menjaga kesehatan kita.

TERAPI WARNA

by. dr. Yuda Turana

Dalam kehidupan sehari-hari , tanpa sadar warna dapat mempengaruhi tubuh kita. Dapat dibayangkan bila anda tinggal di suatu ruangan yang berwarna hitam kelam atau coklat tua , pastilah tubuh dan pikiran anda enggan untuk berlama-lama tinggal di tempat tersebut. Contoh sederhana tersebut menjadi salah satu dasar dari terapi warna ini. Jika kombinasi warna tertentu dapat menyebabkan pikiran kita stress dan depresi maka pastilah ada kombinasi warna lain yang menyebabkan pikiran kita tenang dan rileks.

Penggunaan terapi warna ini sudah mempunyai sejarah yang cukup lama. Pada zaman mesir kuno sudah dibuat suatu bangunan penyembuhan dengan cahaya dan warna. Penggunaan warna pun digunakan secara luas di India dan China sampai saat ini sedangkan penggunaan terapi warna di AS dan Eropa mulai berkembang sejak pertengahan abad ke 19 , dimana Dr. Edwin Babbit mempublikasikan The Principles of light and colour. Dia merekomendasikan berbagai teknik penggunaan warna untuk penyembuhan.

Telah banyak penelitian yang dilakukan mengenai efek warna pada tubuh kita. Penelitian di Norwegia mencatat bahwa orang yang tinggal di ruangan berwarna biru mempunyai thermostat ( ambang suhu tubuh ) 3 derajat lebih tinggi dibanding dengan orang yang tinggal di ruangan berwarna merah. Nick Humprey dari universitas Cambridge menemukan bahwa paparan warna merah dapat mengakibatkan perubahan emosional, detak jantung, tahanan kulit, dan aktivitas listrik otak. Penelitian lain menunjukkan warna merah dapat pula menurunkan ambang rangsang nyeri, artinya pasien akan lebih sensitif terhadap nyeri.

Perlu diingat bahwa terapi warna ini dapat memberikan efek perubahan fisiologis lebih dari sekedar efek psikologis stimulus penglihatan. Sebagai contoh : warna merah dapat mengakibatkan terangsangnya sistem saraf otonom sedangkan warna biru mempunyai efek menenangkan. Anda mungkin juga masih ingat bahwa warna ultraviolet sering digunakan untuk bayi yang lahir ikterik atau berwarna kuning.

Praktisi terapi warna percaya bahwa karena semua bentuk materi merupakan bentuk dari energi, maka aplikasi energi ke dalam tubuh akan mempengaruhi keadaan sehat maupun sakit. Pada orang yang sakit , tubuhnya kekurangan satu atau beberapa warna tertentu.

Cahaya merupakan salah satu bentuk energi dan cahaya ini dapat dipecah menjadi beberapa warna dan inti dari terapi warna ini adalah mengaplikasikan satu atau lebih warna untuk menjaga keseimbangan energi dalam tubuh.

Ada berbagai cara untuk mengetahui kebutuhan warna bagi tubuh anda. Bila Anda berkunjung ke praktisi terapi warna maka ada beberapa praktisi yang mengatakan dapat melihat  aura  ( lapisan warna yang mengelilingi tubuh ) dan mengatakan langsung warna yang dibutuhkan oleh tubuh . Teknik fotografi pun telah digunakan untuk melihat aura. Teknik ini didasarkan pada fotografi Kirlian yaitu suatu teknik fotografi dengan frekuensi tinggi yang ditemukan di Rusia tahun 1940.

Pada bahasan ini saya tidak akan mendiskusikan kedua hal tersebut di atas, saya lebih menitikberatkan pada segi praktis yang dapat Anda terapkan sendiri . Banyak praktisi terapi warna percaya bahwa setiap orang mempunyai kemampuan naluri untuk menentukan sendiri warna apa yang mereka butuhkan untuk mengembalikan keseimbangan tubuh. Sebagai contoh : ada salah satu teknik terapi warna yang disebut dengan Aurasoma . Teknik ini menggunakan botol-botol kecil yang berisi lapisan warna dari minyak esensial dan ekstrak tumbuhan. Kebanyakan botol kecil ini terdiri dari dua warna dan ada 90 kombinasi. Tekniknya : Anda mengambil 4 botol yang berisi kombinasi warna yang anda sukai. Kemudian anda dapat menggunakan minyak esensial dalam botol tersebut untuk dipakai pada kulit . Tidak ada batasan waktu berapa lama Anda menggunakan terapi warna ini. Anda dapat melakukannya selama teknik ini baik menurut Anda.
Banyak praktisi mendasarkan terapi warna pada energi tubuh yang terfokus pada tujuh titik mayor yang disebut dengan   cakra . Setiap cakra ini berkorelasi dengan sistem organ dan warna tertentu. Hubungan antara cakra, organ dan warna tersebut adalah :

Warna merah : berhubungan dengan cakra dasar yang mempengaruhi vitalitas, kekuatan , seksualitas, dan kesadaran. Warna merah digunakan untuk mengatasi anemia, kekurangan energi, impotensi, tekanan darah rendah, penyakit kulit, infeksi saluran kencing.

Oranye : berhubungan dengan cakra limpa yang mengatur sirkulasi dan metabolisme. Warna oranye berhubungan dengan kegembiraan dan keceriaan. Warna ini digunakan untuk mengatasi depresi dan kelainan ginjal dan paru, seperti asma, bronchitis, obstipasi. Warna pelengkapnya adalah biru.

Kuning : berhubungan dengan cakra solar plexus yang mempengaruhi intelektual dan pengambilan keputusan. Warna kuning dapat menstimulasi konsentrasi. Warna ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit artritis dan dapat mengurangi keluhan penyakit yang berhubungan dengan stress, kejang otot,hipoglikemia, hipertiroid, batu empedu. Warna pelengkapnya adalah ungu.

Hijau : berhubungan dengan cakra jantung. Hijau merupakan warna yang alami dan menunjukan kemurnian dan harmoni. Warna ini dapat dikatakan penyembuh yang luar biasa . Hijau digunakan untuk menyeimbangkan dan menstabilisasi energi tubuh.

Biru : berhubungan dengan cakra tenggorokan . Warna biru merupakan warna yang menenangkan dan sangat baik digunakan untuk mengatasi insomnia, gastritis, artritis, nyeri pinggang bawah, sakit tenggorokan, asma dan migren. Warna pelengkapnya adalah oranye.

Ungu : merupakan warna dari cakra mahkota dan berhubungan dengan energi dari fungsi tertinggi pikiran. Warna ini sering digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi rasa ketidakberdayaan. Sering digunakan untuk mengobati kelainan mental dan saraf, juga dapat menekan nafsu makan, dan dapat digunakan untuk migren.

Hitam : warna ini seringkali digunakan untuk menekan nafsu makan. Bagi mereka yang berencana untuk menurunkan berat badan dapat mencoba dengan menggunakan kain alas meja berwarna hitam.

Bila anda tidak berencana untuk pergi ke praktisi terapi warna , gunakan naluri untuk memilih warna yang menurut Anda dapat membuat tubuh lebih rileks dan tenang. Janganlah ragu untuk menggunakan warna tersebut. Anda dapat pula menggunakan warna-warna dengan fungsi tertentu yang telah disebutkan di atas. Beberapa teknik terapi warna yang dapat Anda lakukan sendiri di rumah adalah :

Penyembuhan pelangi : teknik ini sangat sederhana dan murah . Prinsipnya : air ketika terkena sinar matahari di dalam wadah yang berwarna ( misalnya botol yang berwarna ) , maka akan menerima energi vibrasi dari warna tersebut. Anda dapat membeli wadah atau botol dalam beragam warna atau secara mudah Anda dapat menggunakan botol yang bening dan melapisinya dengan plastik kaca warna tertentu. Minumlah air ini dengan interval yang teratur sepanjang hari.

Pernafasan warna : teknik ini merupakan salah satu bentuk teknik visualisasi ( lihat bab metode relaksasi ) . Anda dapat membayangkan menghirup dan menghembuskan warna tertentu. Teknik ini dapat Anda lakukan sebelum tidur atau saat Anda bangun pagi hari.
Carilah tempat yang nyaman untuk duduk atau berbaring.

Bernafaslah dalam , teratur dan perlahan.

Bayangkan diri anda dikelilingi oleh warna tertentu yang anda inginkan.
Saat Anda bernafas, bayangkan tubuh anda menghirup warna ini dan bayangkan warna tersebut menyebar di seluruh tubuh anda.

Saat Anda menghembuskan nafas bayangkan Anda menghembuskan warna pasangannya (seperti saat Anda menghirup nafas berwarna biru maka hembuskan warna oranye. Warna kuning dengan ungu muda, hijau dengan ungu tua ).

Selain kedua teknik tersebut di atas bila memungkinkan Anda dapat pula menata kembali ruangan anda dengan warna yang sesuai. Misalnya saja Anda dapat memulainya dengan mengganti warna sprei maupun sarung bantal dengan warna biru bila saat ini Anda menderita stress dan ketegangan.

Terapi Warna Sesuai Jenis Penyakit

Cobalah memanfaatkan warna di sekitar Anda saat sedang mengalami gangguan emosi atau fisik. Terapi warna dinyatakan bisa membantu menyeimbangkan gangguan fisik, emosional dan spiritual. Masing-masing warna memengaruhi cakra tubuh yang berbeda, sehingga mengatasi masalah yang berbeda-beda pula.

Bagaimana cara menggunakannya? Terapis warna menggunakan satu atau beberapa objek untuk memancarkan warna ke dalam tubuh. Beberapa terapis menggunakan batu permata, lilin, lampu, kristal, prisma, kain, lensa mata berwarna, atau laser berwarna. Akan tetapi, cara menggunakan cahaya ini bukanlah faktor terpenting. Yang perlu Anda perhatikan adalah warna yang digunakan.

Sebagai contoh, terapis tidak akan menggunakan warna merah untuk memulihkan pasien dengan amarah. Terapi akan menggunakan warna biru atau warna tenang lainnya.

Untuk membantu Anda menggunakan terapi ini, berikut pilihan warna sesuai dengan gangguan yang Anda alami:

Merah

Menggambarkan api, kemarahan, dan hasrat. Warna ini menstimulasi akar cakra di pangkal tulang belakang. Merah, seperti diuraikan di situs hubpages.com, merupakan warna yang sangat kuat, sehingga mampu menstimulasi aliran darah ke anggota-anggota tubuh. Warna ini bermanfaat dalam mengatasi berbagai penyakit seperti tekanan darah rendah, rematik, kelumpuhan, anemia, serta tuberculosis stadium lanjut. Selain itu, warna ini juga membantu meredakan kekakuan, menstimulasi ovulasi dan menstruasi, melonggarkan hambatan dan menstimulasi pertumbuhan.

Oranye

Melambangkan kebanggan dan kemakmuran, menstimulasi cakra sakral. Oranye merupakan warna yang menguatkan energi dan menstimulasi saraf dan suplai darah. Warna ini bisa membantu menangani gangguan seperti batu ginjal, batu empedu, hernia, usus buntu dan produksi susu setelah melahirkan. Selain itu, warna ini juga menstimulasi kreativitas, meredakan ekspresi seksual berlebih, menstimulasi paru-paru, membantu pencernaan dan pernafasan, meredakan kram otot dan meningkatkan aktivitas tiroid.

Kuning

Melambangkan kebahagiaan dan menstimulasi solar plexus. Kuning merupakan warna yang bisa menstimulasi otak, perut, usus, limpa dan hati. Warna ini bisa membantu menangani diabetes, gangguan pencernaan, konstipasi, sipilis, impotensi, infeksi mata, infeksi tenggorokan, gangguan hati dan ginjal. Warna ini bisa berperan sebagai laksatif dan diuretik, menguatkan saraf, meredakan rasa sakit, meningkatkan kesehatan kulit dan menyembuhkan jaringan yang luka.

Hijau

Melambangkan harmoni dan alam. Warna ini menstimulasi cakra jantung. Hijau merupakan alat penenang ringan yang bisa membantu menangani kondisi seperti demam, mag, flu, malaria, gangguan seksual, kanker dan kondisi peradangan. Selain itu, warna ini juga berfungsi menguatkan mata dan daya panjang, ketidakseimbangan emosional, memurnikan tubuh dari kuman-kuman dan bakteri, menyembuhkan ginjal, menguatkan sistem kekebalan tubuh, dan membangun otot, tulang serta jaringan.

Biru

Melambangkan ketenangan dan kesedihan. Warna ini menstimulasi cakra tenggorokan. Biru merupakan warna yang bisa menenangkan. Warna ini bisa digunakan untuk meredakan rasa sakit, mengurangi perdarahan, menyembuhkan luka bakar, mengatasi asma, tekanan darah tinggi, gangguan kulit, dan gangguan pernafasan. Selain itu, warna biru juga membantu mengatasi peradangan, menghentikan perdarahan, meredakan demam, meredakan stres, rasa nyeri, serta menenangkan agresi dan histeria.

Nila

Menstimulasi cakra alis mata. Nila merupakan warna penyeimbang karena warna ini merupakan perpaduan antara merah dan biru. Nila membantu memurnikan aliran darah, membantu kondisi mental, menstimulasi kasih sayang yang mendalam, dan memulihkan penyakit mata dan telinga.

Ungu / Lemabayung

Melambangkan relaksasi dan keyakinan. Ungu merupakan stimulan yang memadukan merah dan biru. Warna ini bisa digunakan untuk mengatasi konstipasi kronis, katarak, migrain, gangguan kulit, keputihan, gangguan rahim serta membantu mata, telinga dan sistem saraf. Di samping itu, warna ungu juga bisa mengatasi gangguan emosi, radang sendi, insomnia, stres, mengurangi gairah seksual, mengurangi kepekaan terhadap rasa sakit dan memperlambat jantung yang terlalu aktif.

Putih

Melambangkan kemurnian. Putih merupakan warna penyembuh. Untuk membantu menyembuhkan area tertentu yang mengalami gangguan, cobalah mengarahkan warna putih langsung ke area tersebut. Putih biasanya digunakan sebagai pemulih spiritual.
Magenta (Merah Keunguan)

Magenta membantu menstimulasi adrenalin dan aktivitas jantung. Warna ini bisa membantu menentukan dan menguatkan pandangan Anda mengenai tujuan hidup.

Merah Jambu

Warna ini membantu mengatasi emosi, meredakan kesedihan, meremajakan diri, dan mendekatkan Anda dengan perasaan sendiri.

Biru Kehijauan / Pirus

Pirus merupakan paduan dari warna putih, hijau dan kuning. Warna ini bisa meningkatkan intuisi dan sensitivitas, berperan sebagai antiseptik, meredakan stres, menjaga kesehatan kulit serta membantu mengencangkan sistem organ.

Terapi Warna untuk Kurangi Stres dan Mood Labil pada Wanita Hamil

Kehamilan merupakan proses hidup terindah bagi wanita. Tapi di waktu yang sama, wanita bisa mengalami depresi, emosi yang labil dan darah tinggi karena kehamilan. Umumnya, wanita akan mengonsumsi obat untuk mengatasi gejala tersebut. Tapi sebenarnya gejala tidak mengenakkan saat hamil bisa diatasi tanpa obat yang mungkin bisa menimbulkan efek samping pada janin, yaitu dengan terapi warna.

Ya, warna bisa digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala negatif pada masa kehamilan. Warna apa saja yang bisa dijadikan terapi bagi wanita hamil? Ginekolog Dr. Poornima Ramakrishna memaparkannya, seperti dikutip dari Health Me Up.

1. Oranye

Warna perpaduan kuning dan merah ini bisa membangkitkan energi dan punya efek memberi rasa nyaman. Oranye juga membantu membuat rahim ibu hamil terasa hangat. Selain itu, oranye juga membangkitkan semangat ketika wanita merasa depresi dan kesepian, dua gejala yang kerap dialami wanita selama hamil. Warna oranye bisa diterapkan pada salah satu dinding kamar tidur.

2. Biru

Seperti oranye, warna biru juga punya efek menyamankan dan menenangkan. Warna biru akan membantu wanita tetap tenang dan mood-nya terkontrol selama fase aktif dalam masa kehamilan. Biru bisa diterapkan pada perabotan. Seperti vas bunga yang ditempatkan di kamar tidur, bisa membantu melepaskan tekanan dan membuat ibu hamil lebih tenang.

3. Hijau

Terapi warna hijau direkomendasikan bagi wanita hamil untuk menciptakan atmosfer yang lebih tentram dan menenangkan syaraf-syaraf yang letih. Warna kombinasi biru dan kuning ini juga memiliki efek relaks pada uterus melalui hormon yang dilepaskan dari otak. Hormon yang membuat pikiran dan mood lebih tenang ini dilepaskan saat memandang warna-warna bumi seperti coklat dan hijau.

Combo Terapi

TERAPI warna merupakan salah satu bentuk pengobatan alternatif yang menarik. Penggunaan warna dan cahaya dalam terapi ini bisa menyeimbangkan tubuh. Akan tetapi, terapi warna biasanya tidak dijadikan pengobatan tunggal. Untuk memaksimalkan manfaat, sebagian besar orang memadukan terapi warna dengan beragam pengobatan alami lainnya.

Berikut beberapa pengobatan alternatif yang seringkali berjalan seiring dengan terapi warna:

Pijat

Metode penyembuhan ini dikenal luas dan seringkali dipadukan dengan bentuk-bentuk pengobatan alami lainnya. Terapi pijat berfungsi menyeimbangkan tubuh, sehingga menguatkan efek penyeimbang dari terapi warna. Selain itu, pijat juga bisa membuat Anda rileks dan lebih fokus.

Reiki

Reiki berfungsi menciptakan keseimbangan dan keharmonisan dalam tubuh. Praktisi reiki diyakini bisa mengarahkan aliran energi di dalam tubuh dan mengirim energi tersebut ke titik-titik yang tepat untuk memulihkan tubuh. Untuk memaksimalkan keseimbangan tubuh, reiki sangat cocok dipadukan dengan terapi warna.

Terapi cakra

Bentuk terapi ini tidak terlalu dikenal dalam masyarakat umum tapi digunakan secara luas oleh orang-orang yang menjalani terapi warna. Terapi ini menyeimbangkan tubuh dengan cara menyejajarkan tujuh cakra yang ada di dalam tubuh. Masing-masing cakra berkaitan dengan warna tertentu.

Obat herbal

Sebagian besar orang yang menggunakan terapi warna, seperti dikutip situs hubpages.com, umumnya tertarik dengan pengobatan nonoperasi dan nonobat. Dalam beberapa kasus, terapi warna sendiri tidak bisa menyembuhkan. Jadi, daripada menggunakan obat-obat kimia yang diresepkan, banyak orang yang beralih ke obat-obatan herbal.

Perubahan diet

Obat alternatif seringkali bergantung pada diet untuk memulihkan diet. Makanan tertentu diyakini mengandung komponen penyembuh, sedang beberapa makanan lain justru mengandung komponen perusak. Orang-orang yang melakukan terapi warna bisa melakukan perubahan diet untuk meningkatkan kesehatan tubuh.

Olahraga ringan

Olahraga yang memadukan peregangan lembut dan meditasi sangat popular di kalangan pengguna obat-obat alami. Yoga, qigong dan latihan serupa lainnya merupakan pilihan tepat bagi Anda yang tertarik dengan terapi warna.

Meditasi dan visualisasi

Meditasi sangat cocok dipadukan dengan terapi warna. Meditasi menguatkan efek terapi warna dengan cara menyediakan ruang dalam pikiran untuk menerima terapi warna dan bentuk pengobatan alami lainnya.

Akupunktur

Akupunktur merupakan salah satu bentuk pengobatan yang juga bertujuan mengembalikan keseimbangan tubuh. Metode ini bisa dipadukan dengan terapi warna dan terapi cakra untuk menyejajarkan semua cakra dalam tubuh dan memperbaiki kesehatan.

Terapi bunyi, aromaterapi dan terapi sentuhan

Terapi warna merupakan terapi pemulihan visual. Orang-orang yang menggunakan terapi ini umumnya meyakini metode pemulihan holistik. Mereka meyakini bahwa terapi yang merangsang semua indra akan lebih bermanfaat dibandingkan fokus hanya pada satu indra saja. Karena itu, parktisi terapi warna seringkali memadukan terapi ini dengan terapi yang merangsang indra lainnya, seperti terapi bunyi, aromaterapi dan terapi sentuhan.

 Edi Sugianto


Hati hati dengan Bekam, Beginilah yang Tepat


Hati hati dengan Bekam, Beginilah yang Tepat



REPUBLIKA.CO.ID, Rasulullah SAW menjaga kesehatannya dengan menjalani bekam. Perlukah ditiru? "Ya, namun pelaksanaannya tidak boleh sembarangan," ujar dr Agus Rahmadi, dokter dari Klinik Sehat.

Bekam sendiri bisa dikatakan sebagai teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya) dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Ini dilakukan dengan peralatan khusus dan dilakukan oleh mereka yang ahli.

Namun, menurut Agus, tidak semua orang boleh dibekam. Mereka yang diabetes, mengalami gangguan pembekuan darah, kelainan darah, anemia, dan gagal ginjal tak disarankan berbekam. "Itu sebabnya sebelum melakukan bekam, pasien harus diukur tensinya dan ditanyakan riwayat kesehatannya," tutur dokter yang sering menjadi pembicara seminar ini.

Bekam, lanjut Agus, harus dipraktikkan oleh orang yang memahami anatomi tubuh. Sebab, kontraindikasinya bisa fatal, berujung pada kematian. "Orang dengan diabetes, misalnya, bisa timbul gangren atau makin parah gangrennya jika dibekam."

Agus menyarankan masyarakat yang tertarik bekam agar datang ke tempat praktik dokter. Di sana, sterilisasi alat, tempat, dan higiene terapis bekam akan lebih terjaga. "Sekarang, banyak orang yang awam berpraktik bekam dengan memakai kop berpindah dari satu pasien ke pasien lain, tanpa disterilisasi," sesalnya.

Bekam saja, menurut Agus, tidak cukup untuk menjaga kesehatan. Bekam hanyalah salah satu cara menuju sehat. "Tirulah Rasulullah secara menyeluruh. Jangan cuma sebagian."



Senin, 02 Maret 2020

Hijrahnya Para Dokter Muslim Ke Thibbun Nabawi


Hijrahnya Para Dokter Muslim Ke Thibbun Nabawi


Seminar bekam yang diadakan oleh ABI (Asosiasi Bekam Indonesia) di Semarang, Ahad, 22 Maret 2009 tergolong seminar bekam paling unik yang pernah saya ikuti. Unik karena inilah seminar pertama tentang bekam di mana ketua panitia, narasumber, dan moderator seminar, semuanya dokter. Peserta yang mengajukan pertanyaan di sesi dialog pun kebanyakan dokter. Lebih unik lagi, semua pembicara menyimpulkan bahwa bekam merupakan metode pengobatan “terbaik”. Ah, yang benar? Masak iya? Kok bisa?

Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, M. Kes, narasum ber utama dalam seminar ini membawakan makalah berjudul : “Tinjauan Biomolekuler dan Immunologi Bekam”. Dengan lugas dan cerdas, dokter sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UNISBA yang meraih gelar doktoral di bidang immunologi dari Universitas Kebangsaan Malaysia ini menguraikan cara kerja sistem kekebalan tubuh manusia, bagaimana sistem yang menjaga kesehatan tubuh manusia secara cerdas dan ajaib ini bisa terganggu, lantas bagaimana bekam bisa menjadi sarana efektif untuk melatih dan meningkatkan kinerja sistem kekebalan.

Dr. Wadda’ A. Umar, narasumber kedua, berbicara tentang “Bukti-bukti Keajaiban Bekam”. Dokter sekaligus penulis buku “Sembuh dengan Satu Titik” ini menguraikan banyak slide yang menunjukkan hasil-hasil riset yang membuktikan efektivitas terapi bekam untuk mengatasi berbagai penyakit berat seperti: hemofilia, kemandulan, leukemia, artritis, hodgkin desease, sindroma bahchet, dan sebagainya. Semua hasil riset laboratorium tersebut dilakukan oleh tim medis dan farmasi yang kredibel di bawah lembaga yang berkompeten di bidang kesehatan di berbagai negara, utamanya Eropa, Cina, dan Timur Tengah. Sayang, tidak ada satu pun riset yang dilakukan di Indonesia.

Seminar yang dihadiri oleh ratusan peserta yang memenuhi ruangan lantai satu dan dua balaikota Semarang ini berlangsung hangat. Apalagi, dr. Zaidul Akbar, moderator seminar sangat pandai menghangatkan suasana dengan motivasi-motivasi maupun joke-joke segarnya. Menurut dr. Ali Ridho, salah satu tujuan diadakannya seminar ini adalah untuk mensosialisasikan terapi bekam sebagai metode terapi thibun nabawi yang terbukti berkhasiat mengatasi berbagai penyakit yang sangat sulit ditangani dengan metode pengobatan lain.

Satu hal lagi yang membuat acara ini istimewa bagi saya, saya berangkat bersama rombongan peserta seminar dari Solo yang jumlahnya empat belas orang dan salah satunya adalah Dr. dr. Subagyo Sukiman, Sp.U. Dokter senior spesialis urologi ini mempunyai kisah unik, sehingga tertarik mengikuti seminar. Dua hari sebelumnya, Dokter Subagyo bercerita memiliki keluhan nyeri di punggung. Katanya, rasanya seperti “dipantek”. Sudah diobati. Juga sudah diterapi dengan pijat refleksi. Sayangnya, rasa nyeri tak kunjung pergi. Saat itu, saya dan teman-teman menyarankan dokter untuk berbekam.

Subhanallah, sehari setelah berbekam, dokter mengatakan kepada salah seorang teman saya, bahwa rasa nyeri itu sudah hilang. Dan dokter pun memutuskan untuk ikut serta dalam seminar ini, setelah membatalkan salah satu acara penting yang sudah beliau jadwalkan. “Kalau ada yang meragukan efektifitas bekam, suruh dia datang kepada saya”, kata beliau seusai seminar.

Alhamdulillah, saya mengucap syukur kepada Allah. Bukti kebenaran thibbun nabawi semakin terkuak. Bukan hanya hadits tentang bekam yang sahih, tapi risetnya pun sahih. Apalagi testimoni tentang efektifitas terapi ini sudah mutawatir, terlalu banyak untuk dihitung. Sungguh kasihan orang yang membutuhkan terapi ini, namun karena kurang mengerti, justru bersikap antipati. Tampaknya, acara-acara seperti ini harus terus diadakan di berbagai kota lain. Kapan di Solo?Wallahu a’lam.

SUMBER :

PENGABDIAN MEDIS plus MISI DAKWAH PARA DOKTER MUSLIM

Di tengah prestisenya profesi seorang dokter konvensional, para “dokter” Tibun Nabawi (pengobatan ala Nabi) ini tidak segan-segan menanggalkan kenikmatan profesi dokter konvensional itu, untuk sebuah tujuan yang lebih besar: sunnah

Rasulullah Saw. Ikuti kisah menarik 3 “dokter” ini.

Dokter Zaidul Akbar, Dokter Herbalis

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang tahun 2003 ini terjun di dunia Tibun Nabawi (pengobatan ala Nabi) sejak tiga tahun terakhir. Ketertarikannya pada Tibun Nabawi dimulai ketika ia banyak membaca

hadis-hadis Nabi berkaitan dengan kesehatan dan pengobatan penyakit pada masa Nabi dan para sahabat.

Tak heran, meski sudah beberapa kali membuka praktik di berbagai klinik kesehatan dan rumah sakit konvensional, ketertarikan Zaidul terhadap Tibun Nabawi tetap kuat. Salah satu alasannya, karena dalam Tibun Nabawi selalu ada tiga konsep dasar, yaitu alamiah, ilahiah dan wathaniah.

Konsep alamiah artinya setiap bahan yang digunakan untuk pengobatan memakai bahan-bahan alami yang tidak berbahaya bagi tubuh. Konsep ilahiah artinya konsep pengobatan Tibun Nabawi selalu berdasarkan al-Qur’an dan Hadis. Sedangkan wathaniah artinya selalu mengoptimalkan bahan dari daerah-daerah tertentu sebagaimana

Allah menciptakan beraneka ragam tumbuhan di dunia dengan khasiat yang berbeda-beda.
Setelah menggeluti dunia Tibun Nabawi, Zaidul merasakan kepuasan tersendiri. Selain bisa menolong orang lain, ia juga bangga bisa menjadi murid Rasulullah—dokter terbaik umat Islam. “Rasa bangga ini berdampak pada bidang finansial dengan mendapatkan penghasilan yang tidak hanya untuk pribadi, tapi untuk berjuang di

jalan Allah,” tandasnya.

Sebagai dokter yang memegang etika kedokteran, rasa bersalah selalu menyelimuti dirinya ketika memberikan solusi kesehatan yang tidak pasti plus biaya obat yang tidak kecil. Nah, Tibun Nabawi menawarkan alternatif pengobatan yang tak hanya dilakukan melalui terapi obat, tapi juga melalui terapi spiritual, seperti membaca ayat Al-Qur’an, zikir dan praktik-praktik spiritual lainnya. “Inilah kelebihan Tibun Nabawi,” ujar Zaidul.

Secara proses, Tibun Nabawi menangani pasien sebagaimana penanganan yang diberikan pada ilmu kedokteran pada umumnya, yaitu wawancara, diagnosa tubuh dan terapi pengobatan. Beberapa terapi pengobatan bisa menjadi pilihan di antaranya, terapi obat, bekam, akupunktur, refleksi, urut, pijat dan pembetulan tulang belakang, sesuai penyakit yang diderita.

Kelebihannya, setiap pasien akan ditangani oleh dokter yang sesuai dengan jenis kelaminnya masing-masing sehingga bisa dilakukan pengobatan yang maksimal. Karena itu, Zaidul mengajak para praktisi kesehatan yang sudah lama berkecimpung di dunia medis untuk mendalami Tibun Nabawi. Pasalnya, dalam Tibun Nabawi terdapat banyak keajaiban dan kedahsyatan yang tidak bisa ditemukan dalam dunia kedokteran umum.

“Saya akan teruskan pengobatan seperti ini, karena dalam pengobatan Tibun Nabawi ini antara perjuangan, pengobatan, ekonomi dan dakwah, semua berjalan beriringan,” tegas Dokter Zaidul Akbar.

***
Dokter Agus Rahmadi, Direktur Klinik Sehat

Ketika masih praktik sebagai dokter umum, Dokter Agus Rahmadi selalu memberi resep kepada pasiennya dengan obat-obatan berbahan baku kimia. Ini tentu hal yang wajar sebagai dokter. Masalahnya, ternyata tak sedikit dari resep obat-obatan itu yang ia ketahui mengandung alkohol dan terbuat dari babi, plasenta bayi dan unsur-unsur lainnya yang tidak halal.

Padahal, sebagian besar pasien yang ia beri resep tersebut adalah umat Islam. “Bisa jadi, saya nanti menjadi orang yang rugi di akhirat,” jelas Dokter Agus. Dalam sebuah hadis dijelaskan, setiap orang yang mengonsumsi alkohol meski sedikit

tetap haram dan amal ibadahnya tak diterima selama 40 hari.

Hal lain yang membuat Agus semakin terpanggil untuk mengembangkan pengobatan Islami adalah banyaknya praktik pengobatan berbau klenik dan mistis yang jauh dari yang pernah dicontohkan oleh Nabi. “Belajar Tibun Nabawi adalah mempelajari cara hidup (sunnah) Nabi,” ujarnya.

Contoh sederhana sunnah Rasul adalah tidur miring ke kanan. Setelah diteliti secara medis, ternyata hal itu bisa mencegah pikun, migran dan beberapa penyakit lain. Senyuman seperti yang dianjurkan Nabi juga bisa mencegah hipertensi, jantung dan stroke. Begitu juga cara makan Nabi yang mengangkat kaki kanannya ternyata bisa mencegah penyakit esalfagitis dan deskritis.

Belum lagi terapi puasa, shalat tahajjud, wudhu dan gerakan-gerakan shalat, juga mengandung hal yang positif untuk kesehatan. “Artinya, untuk hidup sehat tidak perlu pendapat dokter atau profesor, karena dengan menjalankan sunnah-sunnah Rasul kita akan hidup sehat,” ujarnya.

Setelah banyak mengungkap ilmu Tibun Nabawi, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini mulai yakin bahwa pengobatan Tibun Nabawi ini adalah solusi tepat bagi kesehatan umat Islam.

Pada tahun 2007, ia mulai meninggalkan praktik pengobatan berbahan kimia dan beralih ke pengobatan Tibun Nabawi dengan mendirikan Klinik Sehat di Swadarma, Jakarta Selatan.
Ada beberapa langkah pengobatan yang biasa dilakukan Dokter Agus.

Pertama,

menangani sikap tauhid pasien agar meyakini bahwa yang memberi penyakit dan menyembuhkannya adalah Allah Swt., bukan obat atau dokter.

Kedua,

menanamkan keikhlasan kepada pasien bahwa sakit adalah proses diangkatnya dosa-dosa yang pernah diperbuat.

 Ketiga,

melaksanakan sunnah Rasul ketika menjenguk orang sakit dengan memegang bagian yang sakit dan mengucapkan doa kesembuhan untuknya.

Tahap pengobatan pasien dilakukan dengan menangani akidah, membenahi akhlak, menghidupkan sunnah, terapi jus dan pengobatan herbal. “Jika ada penyakit yang harus ditangani dengan obat kimia, usahakan menggunakan obat yang tidak haram,” ujarnya.

Sejak 2007 hingga sekarang, sudah dibangun 2 rumah sakit, 15 klinik sehat dan puluhan Rumah Terapi Sehat (RTS) di seluruh Indonesia. Animo masyarakat terhadap layanan kesehatan berbasis Tibun Nabawi cukup tinggi. Pasiennya datang dari berbagai level pendidikan dan strata sosial.

Hadirnya pengobatan Tibun Nabawi ini diharapkan bisa menjadi solusi masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan yang Islami. Karena pada dasarnya pengobatan kimia hanya dikembangkan oleh kalangan Yahudi dan Nasrani untuk kepentingan mereka.

Tantangan sudah pasti banyak yang menghadang di antaranya banyak dicerca tentang keilmiahan obat-obat herbal. Untuk mengatasi hal ini, Dokter Agus mengumpulkan berbagai macam data yang relevan atas pengobatan Tibun Nabawi. Dari sana ia membuktikan data yang bisa diterima masyarakat.
***
Dokter Ali Thoha, Klinik Sehat Afiat

Pada mulanya Ali Thaha lebih tertarik menjadi mahasiswa Fakultas Teknik ketimbang Fakultas Kedokteran. Tapi karena menuruti saran orang tuanya, ia pun masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) tahun 1979. “Kamu nanti tak hanya untung di dunia tapi juga di akhirat,” pesan sang ibu kala itu.

Namun begitu, sebagai anak yang ingin berbakti kepada orangtuanya, Ali tetap optimis menatap masa depannya sebagai dokter. Dalam hati ia sudah berjanji akan menggunakan ilmu kedokterannya untuk menolong orang lain sebisa mungkin.

Setelah lulus kuliah, pria kelahiran Solo, 10 November 1959 ini mengikuti pengabdian di sebuah daerah terpencil di Longkiran, Kalimantan Timur. Wilayah Kalimantan Timur memang bukan medan yang mudah ditaklukkan. Untuk mencapai lokasinya, Dokter Ali harus berjuang menaklukkan luasnya samudra menggunakan perahu kecil selama sehari semalam.

Selama menjalani pengabdian di Longkiran, siang-malam Dokter Ali merawat banyak pasien dengan berbagai macam penyakit. Ia mengaku banyak belajar dari proses pengabdiannya. Dan yang paling penting, ia menemukan beberapa kasus penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan cara medis.

Hal ini hampir membuat dirinya depresi, karena sebelum itu, ia termasuk orang yang sangat yakin bahwa segala penyakit bisa ditangani secara medis.

Dari situ, pemilik nama lengkap Muhammad Ali Thaha Assegaf ini semakin memahami bahwa jalan untuk mencari kesembuhan itu tak hanya dari satu pintu (medis dan obat kimia) melainkan dari beberapa pintu baik melalui obat tradisional atau obat alami. “Saya mulai sadar, kesembuhan itu tidak datang dari obat atau manusia, tapi dari Allah,” ujar penemu Formula Propoten ini.

Sejak itu, pada tahun 1993, Dokter Ali mulai melirik metode pengobatan lain seperti pengobatan tradisional, akupunktur dan Tibun Nabawi. Ali pun mulai belajar akupunktur untuk menangani berbagai macam penyakit saraf seperti nyeri dan

stroke. Ia juga belajar pengobatan tradisional yang lebih banyak memanfaatkan tanaman obat seperti jahe, temu lawak dan lain-lain. Tak ketinggalan, ia juga belajar Tibun Nabawi dari Kitab Tibun Nabawi karangan Ibnu Qoyim al-Jauzi dan beberapa referensi lainnya.

Setelah beberapa tahun menyerap ilmu Tibun Nabawi, pendiri Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Kesehatan Islam (LP3KI) Jakarta ini mulai mempraktikkan metode Tibun Nabawi pada dirinya. Sebagai contoh, ketika

merasakan radang tenggorokan saat bulan puasa, ia tidak lagi minum obat anti biotik namun minum ramuan alami yang terbuat dari wedang jahe.

Menurut Dokter Ali, obat alami ini lebih cepat bereaksi untuk menyembuhkan radang tenggorokan dan berbagai penyakit lain. Bahkan ia juga mulai mengatur pola makan dan memperbaiki cara wudhunya sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw. Di balik syariat Islam tersebut ternyata terkandung hikmah kesehatan yang luar biasanya bagi tubuh manusia.

Dalam ritual wudhu misalnya, ternyata ada beberapa gerakan memijat tubuh yang berpengaruh pada peningkatan kesehatan tubuh. Jika dikaitkan dengan ilmu Tibun Nabawi dan akupunktur: muka, tangan, kepala, telinga, dan kaki memiliki titik-titik refleksi yang akan berpengaruh pada kesehatan. “Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah berwudhu secara khusyu’, memijat semua bagian yang harus dibasuh air dengan pelan dan teliti,” jelasnya.

Ada tiga hal yang disarankan Dokter Ali untuk mulai hidup sehat.

Pertama,

berwudhu dengan sungguh-sungguh, yaitu memijat setiap bagian yang akan dibasuh air.

Kedua,

memperbaiki konsumsi air setiap hari, yaitu 30 cc per kilogram berat badan per hari. “Jika berat badannya 80 kg, dikalikan 30, maka air yang diminum 2.400 cc atau sekitar 10 gelas,” ujarnya.

Ketiga,

dengan shalat khusyu’ tuma’ninah (tidak tergesa-gesa) karena beberapa gerakan dalam shalat terbukti memiliki pengaruh tersendiri bagi kesehatan manusia. “Asalkan tidak melaksanakan shalat dengan tergesa-gesa hal ini menjadi manfaat meditasi yang luar biasa bagi kesehatan tubuh,” ujarnya.

Setelah banyak tahu tentang Tibun Nabawi, Dokter Ali pun melangkah lebih jauh dengan meramu beberapa obat herbal memanfaatkan kekayaan alam di Indonesia. Dengan dasar ilmu kedokteran yang dimiliki, ia nyaris tidak mengalami kesulitan untuk mengembangkannya.

“Saya mengambil referensi tanaman obat kemudian menggabungkannya dan mengorelasikan antara khasiat obat herbal dengan ilmu kedokteran,” ujarnya.
Akhirnya, setelah mantap mengombinasikan pengobatan alami, akupunktur dan Tibun Nabawi dengan ilmu kedokteran, maka pada tahun 2005 Dokter Ali mendirikan Klinik Sehat Afiat di Cinere dan Ciputat, serta mengawasi dua klinik herbal di

Serpong dan Pondok Kopi.

Menurut penulis buku 365 Tips Sehat Ala Rasulullah (2010) ini, animo masyarakat untuk menggunakan pengobatan Tibun

Nabawi semakin besar, dari kalangan atas sampai bawah. Untuk itu, ia mengimbau kepada praktisi Tibun Nabawi agar sama-sama menjaga metode pengobatan Nabi dengan menerapkan disiplin ilmu yang utuh. Di sisi lain, dukungan pemerintah juga sangat diperlukan untuk mengembangkan pengobatan Islami dan alami sehingga menjadi salah satu solusi pengobatan masyarakat.




Bukti Ilmiah Penyembuhan dengan Al-Qur’an


Bukti Ilmiah Penyembuhan dengan Al-Qur’an


“..mendengarkan bacaan al-Qur’an lebih dapat meningkatkan alpha band dibandingkan mendengarkan musik klasik..”

Pembahasan dan fenomena mengenai topik ini pada dasarnya bukanlah hal yang baru. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya (khususnya Sejarah Islam), penyembuhan dengan al-Qur’an (Qur’nic Healing) telah mendapatkan legitimasinya sendiri.

Terlepas dari perbedaan penafsiran di kalangan mufassir, al-Qur’an sendiri sebagai way of life yang diyakini oleh umat Muslim seringkali menyebut dirinya sebagai syifā’ (penyembuh). Di antaranya sebagaimana terdapat dalam dua ayat berikut:

“Katakanlah, al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar (syifā’) bagi orang-orang mukmin.” (QS. Fushshilat: 44)

“..dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar (syifā’) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. al-Isrā’: 82)

10 pertanda nyata jika seorang wanita jatuh cinta

Para ulama sepakat bahwa ayat-ayat yang menjelaskan tentang fungsi al-Qur’an sebagai syifā’ (penyembuh) sebagaimana terdapat dalam dua ayat di atas menegaskan bahwa al-Qur’an merupakan obat yang sangat manjur untuk mengobati penyakit rohani (mental) umat manusia.

Penyakit mental yang dimaksud bukan hanya dimiliki seperti mereka yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena adanya gangguan mental. Lebih dari itu, seseorang yang bisa diindikasikan mempunyai penyakit mental adalah mereka yang sikap dan perilakunya sudah menyimpang dari tuntunan al-Qur’an dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

Beberapa sikap dan perilaku yang mengindikasikan sakitnya mental seseorang antara lain: perbuatan syirik (meyakini keesaan Allah adalah fitrah dan ketika hal ini diingkari berarti ada yang salah dengan seseorang tersebut), nifāq (bermuka dua) seperti suka berdusta atau menipu, suka menyombongkan diri (riya’), cenderung berburuk sangka, suka mengadu domba (namimah), hobi gossip (ghibah), tamak, dendam, dengki, dan menganiaya diri sendiri atau orang lain (zalim).

Berbagai penyakit mental tersebut lama-kelamaan akan menjadi akut ketika tidak segera diobati, sehingga pelakunya pun tidak merasa ada yang salah dengan dirinya padahal dirinya sedang dalam keadaan kritis (baca: mentalnya). Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu al-Jauzi sebagaimana dalam Shaidul Khāthir:

“Ketahuilah, salah satu bentuk ujian yang paling besar adalah tertipunya seorang hamba dengan aman dan selamat dari azab setelah ia melakukan dosa. Sesungguhnya balasan itu datang kemudian. Salah satu balasan yang paling besar adalah ketidaktahuan seseorang terhadap balasan tersebut, menganggap remeh terhadap agama, kebutaan mata hati, dan ketidak mampuan dalam menentukan pilihan yang baik untuk dirinya sendiri sehingga dapat mempengaruhi keselamatan badan dan timbulnya kebosanan”

Senada dengan hal tersebut, Al-Ghazali menjelaskan dalam kitab Ihya’-nya:
“Ketahuilah bahwa tidak seorang pun yang melakukan suatu dosa kecuali permukaan hatinya menjadi hitam. Apabila hamba tersebut termasuk orang yang selamat, maka tampaklah noda hitam tersebut pada permukaan hatinya agar ia dapat lari menghindarinya. Sebaliknya, apabila ia termasuk seorang yang sengsara, maka noda hitam tersebut pun tidak tampak pada dirinya sehingga ia tetap asyik melakukannya, sampai ia masuk Neraka”
Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini sampai akhir, mari tanyakan diri masing-masing: apakah kita termasuk orang-orang yang mentalnya sakit atau bahkan telah masuk pada level akut?

Jika iya, maka segeralah berobat dengan al-Qur’an, karena ia adalah cahaya yang bisa menyembuhkan penyakit mental anda dengan cara membaca, mendengarkan bacaanya, mempelajari tafsirnya, dan kemudian mengamalkan kandungan ajarannya.

Riset Ilmiah terhadap Qur’anic Healing

Sebagian ulama meyakini bahwa fungsi al-Qur’an sebagai penyembuh seperti yang terdapat dalam dua ayat di atas tidak hanya berfungsi untuk mengobati penyakit mental (rohani), lebih dari itu al-Qur’an juga bisa menyembuhkan penyakit jasmani sebagaimana yang dikutip oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya.

Dalam sejarah peradaban Islam, Qur’anic Healing pada dasarnya memiliki preseden yang sangat panjang sebagaimana yang pernah dipaparkan oleh Hamam Faizin. Dalam beberapa riwayat, misalnya dalam riwayat tentang asbab al-nuzul dari surat al-Mu’awwizatain (al-Nas dan al-Falaq) dijelaskan bahwa Nabi Muhammad pernah menolak sihir dengan membaca kedua surat tersebut.

Dalam riwayat lain juga pernah diceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah menyembuhkan penyakit dengan ruqyah dengan membaca surat al-Fatihah.

Sekarang ini fenomena Qur’anic Healing (pengobatan dengan al-Qur’an) atau juga disebut dengan Sufi Healing (pengobatan ala Sufi)telah menjadi hal yang lumrah di sejumlah Negara, termasuk Indonesia.

Di beberapa Negara misalnya di Malaysia, pengobatan dengan ruqyah (incantation) menjadi sangat fenomenal karena menjadi pengobatan alternatif yang sangat digandrungi oleh masyaraat setempat. Fenomena ini bahkan sudah sampai di Negara-negara Barat, hal ini misalnya terlihat dari pendirian sejumlah pusat Terapi al-Qur’an seperti Islamic Educational & Cultural Research Center of North America yang ada di Amerika Serikat.
Berkaitan dengan hal tersebut, ada sebuah riset, seperti yang dikutip oleh Hamam, yang meneliti tentang perbandingan efek mendengarkan al-Qur’an dan mendengarkan music klasik terhadap gelombang otak (brain wave).Penelitian tersebut mengambil 28 orang sebagai sampel untuk diperdengarkan al-Qur’an Surat Yasin dan Pachelbel’s Canon D (music klasik).
Dari riset tersebut ditemukan bahwa selama mendengarkan Surat Yasin terjadi peningkatan terhadap gelombang otak kanan dan kiri hingga mencapai 12.67%. Sedangkan selama mendengarkan Pachelbel’s Canon D, terjadi peningkatan yang lebih sedikit, yakni 9.96%.
Penemuan ini mengindikasikan bahwa mendengarkan bacaan al-Qur’an lebih dapat meningkatkan alpha band dibandingkan mendengarkan musik klasik. Konsekuensinya, mendengarkan al-Qur’an bisa menjadikan kondisi yang lebih rileks dan siaga.
Dari hal inilah pemikiran yang menolak Qur’anic Healing sekiranya perlu ditinjau kembali. Menurut Hamam Faizin,  jika Qur’anic Healing tidak boleh disebut sebagai jenis ‘tafsir’, maka ia bisa dikatakan sebagai usaha untuk mengapresiasi, meresepsi, dan menghidupkan al-Qur’an.
Sebaliknya, jika ia dikategorikan sebagai salah satu jenis tafsir yang memperlakukan al-Qur’an di luar kapasitasnya sebagai teks (karena surat al-Fatihah misalnya yang digunakan sebagai Qur’anic Healing secara semantic tidak memiliki kaitan dengan penyakit), maka ia bisa dikategorikan sebagai tafsir ‘anagogik’.
Dalam khazanah tafsir, khususnya di Indonesia, fenomena tersebut mulai mendapat perhatian khusus, terutama sejak adanya penambahan kurikulum baru yang dikenal dengan Living Qur’an dan Living Hadis yang sudah dimulai sejak tahun 2006 di Yogyakarta.

Wallahua’lam.


Al Quran Sebagai Obat dari Segala Penyakit Hati dan Jasmani


Al Quran Sebagai Obat dari Segala Penyakit Hati dan Jasmani



Berbicara mengenai al-Quran sebagai syifâ’ (obat atau penawar) terhadap penyakit, hingga saat ini masih menjadi perbicangan yang menarik. Apalagi, ketika wacana itu dilanjutkan dengan fungsinya (al-Quran) sebagai rahmat (karunia) Allah. Benarkah al-Quran itu memiliki kegunaan yang seperti itu, dan apakah nilai kegunaannya bersifat mutlak atau relatif? Inilah yang kemudian memicu para tafsir al-Quran untuk menjelaskannya dengan berbagai ragam pendekatan dan metodenya. Tetapi, ketika kita cermati, semuanya bermuara pada satu pendapat, bahwa efektivitas kegunaan al-Quran sebagai syifâ’ danrahmah sangat bergantung pada manusia yang mengharapkannya. Apakah yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan utama untuk memerolehnya? Semakin terpenuhi persyaratan utamanya, maka semakin mungkin seseorang akan memeroleh syifâ’ dan rahmah dari Allah, begitu juga sebaliknya. Yang perlu di garis bawai jawabanya tegas adalah “ IMAN “ Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Isrâ’/17: 82


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌوَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّخَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari al Quran suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS al-Isrâ’/17: 82)

Tafsîr al-Mufradât

نُنَزِّلُ:“Kami turunkan.” Maksudnya Kami (Allah) wahyukan ayat-ayat Kami melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. bagi seluruh hamba Kami, yang semuanya telah terkodifikasi di dalam kitab suci al-Quran.مِنَ الْقُرْآنِ:“Dari al-Quran.” Kata min dalam ayat ini, menurut pendapat yang râjih (kuat) menjelaskan (bayâniyyah) jenis dan spesifikasi yang dimiliki al-Quran. Kata min di sini tidak bermakna  sebagian (ba’dhiyyah) yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat al-Quran ada yang tidak termasuk syifâ` (obat atau penawar) sebagaimana yang dirâjihkan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah.
Kata min pada ayat ini seperti hal yang terdapat dalam firman-Nya:


وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS an-Nûr/24: 55)

Kata min dalam lafazh مِنْكُمْ tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka — seluruhnya — adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

شِفَاءٌ:Obat (penawar). Obat yang dimaksud dalam ayat ini meliputi obat atas segala penyakit, baik ruhani maupun jasmani dengan spesifikasi tertentu, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya.رَحْمَةٌ:Rahmat di dalam ayat ini dipahami sebagai bantuan dari Allah, sehingga ketidakberdayaan dalam bentuk apa pun tertanggulangi. Rahmat Allah yang dilimpahkan kepada umat Islam adalah kebahagiaan hidup sebagai akibat dari ridha-Nya, termasuk di dalamnya kehidupan di akherat kelak. Oleh karena itu jika al-Quran dipahami sebagai rahmat bagi umat Islam, maka maknanya adalah limpahan karunia berupa kebajikan dan keberkatan yang disediakan oleh Allah bagi mereka (umat Islam) yang memhami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang diamanatkan oleh Allah dalam al-Quran.

 Menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakanbahwa sesungguhnya al Quran Sebagai obat (penawar) dan rahmat bagi kaum yang beriman. Bila seseorang mengalami keraguan, penyimpangan dan kegundahan yang terdapat dalam hati, maka al-Quran-lah yang menjadi obat (penawar) semua itu. Di samping itu al-Quran merupakan rahmat yang membuahkan kebaikan dan mendorong untuk melakukannya. Kegunanaan itu tidak akan didapatkan kecuali bagi orang yang mengimani (membenarkan) serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini (beriman), al-Quran akan berfungsi menjadi obat (penawar) dan sekaligus rahmat baginya. Adapun bagi orang kafir yang telah dengan sengaja mezalimi diri sendiri dengan sikap kufurnya, maka tatkala mereka mendengarkan dan membaca ayat-ayat al-Quran, tidaklah bacaan ayat-ayat al-Quran itu tidak akan berguna bagi mereka, melainkan  mereka bahkan akan semakin jauh dan semakin bersikap kufur, karena hati mereka telah tertutup oleh dosa-dosa yang mereka perbuat. Dan yang menjadi sebab bagi orang kafir menjadi semakin jauh dari kesembuhan dari penyakit dan rahmat Allah itu bukanlah karena (kesalahan) bacaan ayat-ayat (al-Quran)-nya, tetapi karena (disebabkan oleh) sikap mereka yang salah terhadap al-Quran. Sebagaimana firman Allah Subhanâhu wa Ta’âla:


قُلْ هُوَلِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ فِيآذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْمَكَانٍ بَعِيْدٍ

“Katakanlah: Al-Quran itu adalah petunjuk dan obat (penawar) bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan sedang al-Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS Fushshilat/41: 44)

Dalam ayat lain menerangkan juga Allah Subhânahu wa Ta’âla juga berfirman:


وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْسُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيْمَانًافَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْيَسْتَبْشِرُوْنَ. وَأَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌفَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُوْنَ

“Dan apabila diturunkan suatu surat maka di antara mereka ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah iman dengan surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman maka surat ini menambah iman sedang mereka merasa gembira. Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafiran dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS at-Taubah/9: 124-125)

Dan masih banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini.

Abdurrahman As-Sa’di misalnya  berkata pula dalam menjelaskan ayat ini: “Al Quran mengandung obat (penawar) dan rahmat. Dan ini tidak berlaku untuk semua orang, namun hanya berlaku bagi orang yang beriman yang membenarkan ayat-ayat-Nya dan berilmu dengannya. Adapun bagi orang-orang zalim yang tidak membenarkan dan tidak mengamalkan — maka ayat-ayat tersebut tidaklah menambah bagi mereka kecuali kerugian. Karena hujjah telah ditegakkan kepada mereka dengan ayat-ayat itu.

Al Quran sebagai Obat (penawar) yang terkandung dalam al-Quran bersifat umum, meliputi obat (penawar) hati seperti kegelisahan hati, dari berbagai syubhat kejahilan berbagai pemikiran yang merusak penyimpangan yang jahat dan berbagai tendensi yang batil.

Di samping itu al Quran juga menjadi obat jasmani dari berbagai macam penyakit, meski pun tata-cara yang digunakannya bukan dengan tata-cara yang lazim digunakan dalam penggunaan obat untuk penyakit jasmani, tetapi digunakan dengan tata-cara yang spesifik melalui terapi spiritual yang bisa berdampak pada orang-orang yang beriman karena pengaruh (sugesti) yang diakibatkan oleh keyakinan mereka ketika menggunakan al-Quran sebagai obat (penawar) bagi penyakit yang diderita olehnya. Karena yang dimaksud penyakit jasmani di sini, bukanlah penyakit fisik (murni), tetapi  penyakit yang di dalam istilah kedokteran dikenal dengan sebutan psikosomatik. Misalnya: “penyakit sesak nafas atau dada bagaikan tertekan karena adanya ketidakseimbangan ruhani”. Dalam hal ini dokter bisa menyarankan kepada pasien muslim untuk membaca ayat-ayat al-Quran untuk memberikan sugesti agar pasien merasa tenang dan nyaman, sehingga secara kejiwaan terbantu untuk melakukan pengobatan pada dampak fisiknya. ( baca juga : Bukti Manfaat Membaca Al Quran Bagi Kesehatan )

Adapun rahmat yang disebut di dalam ayat itu, dimaksudkan sebagai karunia Allah yang bisa diraih oleh setiap orang yang beriman dengan cara membaca, memahami, menghayati dan mengamalkna isi al-Quran. Maka sesungguhnya di dalam bacaan ayat-al-Quran itu sebab- terkandung sebab dan sarana untuk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab atau saranya itu, maka dia akan beruntung dengan bukti nyata “meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi serta ganjaran kebaikan dari Allah, cepat atau pun lambat.”

Memahahami Makna al-Quran Sebagai Obat Penyakit Jasmani

Suatu hal yang menjadi keyakinan tiap muslim bahwa al-Qur`an al-Karîm diturunkan Allah Subhânahu wa Ta’âla untuk memberi petunjuk kepada tiap manusia menyembuhkan berbagai penyakit hati yang menjangkiti manusia bagi mereka yang diberi hidayah oleh Allah Subhânahu wa Ta’âla dan dirahmati-Nya. Namun pertanyaan penting lainnya adalah apakah al-Quran dapat menyembuhkan penyakit jasmani?