Selasa, 26 Desember 2017
Ternyata Penyakit Bisa Datang Dari Sikap Buruk, Segera Istigfar
Ternyata
Penyakit Bisa Datang Dari Sikap Buruk, Segera Istigfar
Ternyata
Penyakit Datang Bisa Dari Sikap Buruk Kita lho...
Dari
foto diatas bisa kita urai satu persatu.
A. Penyakit Jantung (heart) & Usus Kecil (small intestine):
Sifat
Negatif:
Penyakit
jantung bisa di akibatkan faktor psikologis kita, misalnya membenci sesuatu
lalu tidak ikhlas atas keadaan yang menimpanya. Selain itu sikap yang kejam dan
tidak sabar juga ternyata dapat mendorong kita dihinggapi penyakit jantung.
Gejala
:
Kenapa
bisa terjadi? Karena hal ini disebabkan oleh tekanan darah tinggi dan tekanan
pada dada akibat sikap kita yang tergesa-gesa, dengki dan benci itu.
B. Penyakit Liver (hati), Mata & Kandung Kemih (gail bladder)
:
Sifat
Negatif:
Penyebab
penyakit ini akibat mudah marah, mudah frustasi, gampang cemburu dan iri hati.
Gejala
:
Secara
fisik akan menimbulkan berlebihnya produksi kolesterol dalam tubuh, lalu
produksi pada empedu menjadi tidak seimbang lalu mengganggu pencernaan dalam
tubuh, darah dalam liver menjadi stagnant dan berakibat menurunnya fungsi kerja
liver atau hati untuk mendetoksifikasi racun dalam tubuh.
C. Penyakit Ginjal (Kidney), Telinga & Kandung
Kemih (gail bladder):
Sifat
Negatif:
Rasa
Takut & Cemas
Gejala
:
Hilangnya
energi keberanian dan kekuatan serta rasa cemas berlebih dalam tubuh ternyata
membuat tubuh menjadi acidic (mengandung asam) dan adanya tekanan di sekitar
perut.
D. Sakit Perut, Limpa (spleen) & Pankreas:
Sifat
Negatif:
Gelisah
dan tidak percaya orang lain yang berlebih
Gejala
:
Hal
ini menimbulkan gangguan pencernaan, kesulitan dalam buang kotoran dalam
pencernaan.
E. Paru-paru (lungs), Kulit & Usus Besar (large intestine):
Sifat
Negatif:
Sedih
dan depresi
Gejala
:
Ada
masalah pada pernapasan dan meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh serta dapat
menimbulkan sembelit.
So,
sejak saat ini mulai belajar qanaah, banyaklah istigfar. Kenapa Istigfar?
Karena istigfar itu ada beberapa kelebihan, diantaranya
1.
MENGGEMBIRAKAN ALLAH
Rasulullah
bersabda, “Sungguh, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada
kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan ontanya yang hilang di
padang pasir.” (HR.Bukhari dan Muslim).
2.
DICINTAI ALLAH
Allah
berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai
orang-orang yang mensucikan diri.” (QS.al-Baqarah: 222). Rasulullah bersabda,
“Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah. Orang yang bertaubat atas dosanya,
bagaikan orang yang tidak berdosa.”(HR.Ibnu Majah).
3.
DOSA-DOSANYA DIAMPUNI
Rasulullah
bersabda, “Allah telah berkata,’Wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti
berdosa kecuali yang Aku jaga. Maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya
kalian Aku ampuni. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan
untuk mengamouni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli
(beberapa banyak dosanya).”(HR.Ibnu Majah, Tirmidzi).
Imam
Qatadah berkata,”Al-Qur’an telah menunjukkan penyakit dan obat kalian. Adapun
penyakit kalian adalah dosa, dan obat kalian adalah istighfar.” (Kitab Ihya’Ulumiddin:
1/410).
4.
SELAMAT DARI API NERAKA
Hudzaifah
pernah berkata, “Saya adalah orang yang tajam lidah terhadap keluargaku, Wahai
Rasulullah, aku takut kalau lidahku itu menyebabkan ku masuk neraka’.
Rasulullah bersabda,’Dimana posisimu terhadap istighfar? Sesungguhnya, aku
senantiasa beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari
semalam’.” (HR.Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim dan dishahihkannya).
5.
MENDAPAT BALASAN SURGA
“Dan
(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka
dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu
balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir
sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala
orang-orang yang beramal.”(QS.Ali’Imran: 135-136).
6.
MENGECEWAKAN SYETAN
Sesungguhnya
syetan telah berkata,”Demi kemulian-Mu ya Allah, aku terus-menerus akan
menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh mereka ada dalam badan mereka (masih hidup).
Maka Allah menimpalinya,”Dan demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku senantiasa
mengampuni mereka selama mereka memohon ampunan (beristighfar)
kepada-Ku.”(HR.Ahmad dan al-Hakim).
7.
MEMBUAT SYETAN PUTUS ASA
Ali
bin Abi thalib pernah didatangi oleh seseorang,”Saya telah melakukan
dosa’.'Bertaubatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi’,kata Ali. Orang itu
menjawab,’Saya telah bertaubat, tapi setelah itu saya berdosa lagi’. Ali
berkata, ‘Bertaubatlah kepada Allah, dan jangan kamu ulangi’. Orang itu
bertanya lagi,’Sampai kapan?’ Ali menjawab,’Sampai syetan berputus asa dan
merasa rugi.”(Kitab Tanbihul Ghafilin: 73).
8.
MEREDAM ADZAB
Allah
berfirman,”Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada
di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka
meminta ampun.”(QS.al-Anfal: 33).
9.
MENGUSIR KESEDIHAN
Rasulullah
bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan
kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya,
dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.”(HR.Abu Daud, Ibnu
Majah dan Ahmad).
10.MELAPANGKAN
KESEMPITAN
Rasulullah
bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan
kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya
dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu
Majah dan Ahmad).
11.
MELANCARKAN RIZKI
Rasulullah
bersabda,”Sesungguhnya seorang hamba bisa tertahan rizkinya karena dosa yang
dilakukannya.”(HR.Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).
12.
MEMBERSIHKAN HATI
Rasulullah
bersabda,”Apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka tercoretlah noda
hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkannya dan beristighfar, maka
bersihlah hatinya.”(HR.Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Tirmidzi).
13.
MENGANGKAT DERAJATNYA DISURGA
Rasulullah
bersabda,”Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba di surga.
Hamba itu berkata,’Wahai Allah, dari mana saya dapat kemuliaan ini?’ Allah
berkata,’Karena istighfar anakmu untukmu’.”(HR.Ahmad dengan sanad hasan).
14.
MENGIKUTI SUNNAH RASULULLAH
Abu
Hurairah berkata,”Saya telah mendengar Rasulullah bersabda,’Demi Allah,
Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah (beristighfar) dan bertaubat
kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali’.”(HR.Bukhari).
15.
MENJADI SEBAIK-BAIK ORANG YANG BERSALAH
Rasulullah
bersabda,”Setiap anak Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah
adalah yang segera bertaubat.”(HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim).
16.
BERSIFAT SEBAGAI HAMBA ALLAH YANG SEJATI
Allah
berfirman,”Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang
yang berdo’a:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah
segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”(yaitu) orang-orang
yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (dijalan
Allah), dan yang memohon ampun (beristighfar) di waktu sahur.”(QS.Ali’Imran:
15-17).
17.
TERHINDAR DARI STEMPEL KEZHALIMAN
Allah
berfirman,”…Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang
yang zhalim.”(QS.al-Hujurat: 11).
18.
MUDAH MENDAPATKAN ANAK
Allah
berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun (istighfar) kepada
Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan
hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan
mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu
sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12).
19.
MUDAH MENDAPATKAN AIR HUJAN
Ibnu
Shabih berkata,”Hasan al-Bashri pernah didatangi seseorang dan mengadu bahwa
lahannya tandus, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada orang lain yang
mengadu bahwa kebunnya kering, ia berkata, ‘Perbanyaklah istighfar’. Lalu ada
orang lain lagi yang mengadu bahwa ia belum punya anak, ia
berkata,’Perbanyaklah istighfar’.(Kitab Fathul Bari: 11/98).
20.
BERTAMBAH KEKUATANNYA
Allah
berfirman,”Dan (dia berkata):”Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu
bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu,
dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu
berpaling dengan berbuat dosa.”(QS.Hud: 52).
21.
BERTAMBAH KESEJAHTERAANNYA
Allah
berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan
kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan
untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu
sungai-sungai.”(QS.Nuh: 10-12).
22.
MENJADI ORANG YANG BERUNTUNG
Allah
berfirman,”Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang
beriman supaya kamu beruntung.”(QS.an-Nur: 31).
Aisyah
berkata,”Beruntunglah, orang-orang yang menemukan istighfar yang banyak pada
setiap lembar catatan harian amal mereka.”(HR.Bukhari).
23.
KEBURUKANNYA DIGANTI DENGAN KEBAIKAN
Allah
berfirman,”Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal
saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.al-Furqan: 70).
“Dan
dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada
bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik
itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi
orang-orang yang ingat.”(QS.Hud: 114).
24.
BERCITRA SEBAGAI ORANG MUKMIN
Rasulullah
bersabda,”Tidak seorangpun dari umatku, yang apabila ia berbuat baik dan ia
menyadari bahwa yang diperbuat adalah kebaikan, maka Allah akan membalasnya
dengan kebaikan. Dan tidaklah ia melakukan suatu yang tercela, dan ia sadar
sepenuhnya bahwa perbuatannya itu salah, lalu ia mohon ampun (beristighfar)
kepada Allah, dan hatinya yakin bahwa tiada Tuhan yang bisa mengampuni kecuali
Allah, maka dia adalah seorang Mukmin.”(HR.Ahmad).
25.
BERKEPRIBADIAN SEBAGAI ORANG BIJAK
Seorang
ulama berkata,”Tanda orang yang arif (bijak) itu ada enam. Apabila ia menyebut
nama Allah, ia merasa bangga. Apabila menyebut dirinya, ia merasa hina. Apabila
memperhatikan ayat-ayat Allah, ia ambil pelajarannya. Apabila muncul keinginan
untuk bermaksiat, ia segera mencegahnya. Apabila disebutkan ampunan Allah, ia
merasa gembira. Dan apabila mengingat dosanya, ia segera beristighfar.” (Kitab
Tanbihul Ghafilin: 67).
[Abu
Ammar, voa-islam.com]
Sabtu, 23 Desember 2017
Shalat Sunnah Fajar Jangan Sampai Ditinggalkan
Shalat Sunnah Fajar
Jangan Sampai Ditinggalkan
Di antara shalat-shalat sunnah, ada shalat sunnah yang
memiliki keutamaan yang tak ternilai harganya. Dua rakaat yang memiliki
keutamaan, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya.
Sebuah amalan ringan, namun sarat pahala, yang tidak selayaknya disepelekan
seorang hamba. Amalan tersebut adalah dua rakaat shalat sunnah sebelum subuh
atau disebut juga shalat sunnah fajar.
Keutamaannya
Dikisahkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau
berkata :
لَمْ
يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ
النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْر
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang
lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah
subuh.” (HR Bukhari 1093 dan Muslim 1191)
Imam Ibnul
Qayyim rahimahullah mengatakan : “ Ketika safar (perjalanan), Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam tetap rutin dan teratur mengerjakan shalat sunnah fajar dan
shalat witir melebihi shalat-shalat sunnah yang lainnya. Tidak dinukil dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melaksankan shalat sunnah rawatib selain dua shalat tersebut selama beliau
melakukan safar (Zaadul Ma’ad I/315)
Keutamaan
shalat sunnah subuh ini secara khusus juga disebutkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam :
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ
مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat
shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”(HR. Muslim725).
Lihatlah
saudaraku, suatu keutamaan yang sangat agung yang merupakan karunia Allah bagi
hamba-hamba-Nya. Tidak selayaknya seorang hamba melewatkan kesempatan untuk
dapat meraihnya.
Melakukannya
dengan Ringkas
Di antara
petunjuk dan contoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan dua
rakaat shalat sunnah subuh adalah dengan meringankannya dan tidak memanjangkan
bacaannya, dengan syarat tidak melanggar perkara-perkara yang wajib dalam
shalat. Hal ini ditunjukkan oleh kisah berikut :
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ
حَفْصَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْأَذَانِ لِصَلَاةِ
الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ
تُقَامَ الصَّلَاةُ
Dari Ibnu
Umar, beliau berkata bahwasanya Hafshah Ummul Mukminin telah menceritakan
kepadanya bahwa dahulu bila muadzin selesai mengumandangkan adzan untuk shalat
subuh dan telah masuk waktu subuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melaksanakan shalat sunnah dua rakaat dengan ringan sebelum melaksanakan shalat
subuh.( HR Bukhari 583).
Diceritakan
juga oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ
وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ
“Dahulu
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat ringan antara adzan dan
iqamat shalat subuh.”(HR. Bukhari 584)
‘Asiyah
radhiyallahu ‘anha juga menjelaskan ringannya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam dengan menyatakan :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ
الصُّبْحِ حَتىَّ إِنِّيْ لأَقُوْلُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ؟
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan dua rakaat shalat sunnah subuh
sebelum shalat fardhu Subuh, sampai-sampai aku bertanya : “Apakah beliau
membaca surat Al-Fatihah?” (HR Bukhari 1095 dan Muslim 1189)
Hadits-hadits
di atas menunjukkan sunnahnya memperingan shalat ketika melaksanakan shalat
sunnah subuh. Tentu saja yang dimaksud meringankan shalat di sini dengan tetap
menjaga rukun dan hal-hal yang wajib dalam shalat.
Bacaan Pada
Setiap Rakaat
Terdapat
beberapa hadits yang menyebutkan bacaan surat yang biasa dibaca Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah membaca surat Al Fatihah dalam shalat
sunnah subuh.
Pertama.
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا
الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam dua rakaat shalat sunnah subuh
surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” (H.R Muslim 726)
Kedua.
Hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berbunyi :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي
الْأُولَى مِنْهُمَا قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا الْآيَةَ
الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ وَفِي الْآخِرَةِ مِنْهُمَا آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ
بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah subuh membaca ayat
قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا (Al Baqarah 136) pada rakaat pertama dan membaca آمَنَّا
بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (Ali Imran 52) pada rakaat kedua” ( HR.
Muslim 727).
Ketiga.Hadits
dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berbunyi,
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ
الْفَجْرِ قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَالَّتِي فِي آلِ
عِمْرَانَ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah subuh membaca
firman Allah قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ
إِلَيْنَا (Al Baqarah 136) dan membaca تَعَالَوْا
إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ (Ali Imran 64)” (HR.
Muslim 728).
Ringkasnya,
ada tiga jenis variasai yang biasa dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam shalat sunnah subuh, yaitu :
Rakaat
pertama membaca surat Al Kafirun dan rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas
Rakaat
pertama membaca ayat dalam surat Al
Baqarah 136:
قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ
وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ
وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا
أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ
وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Rakaat
kedua membaca ayat dalam surat Ali Imran 52 :
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى
مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ
نَحْنُ أَنصَارُ اللّهِ آمَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Rakaat
pertama membaca ayat dalam surat Al Baqarah 136:
ُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ
وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ
وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا
أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ
وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Rakaat
kedua membaca ayat dalam surat Ali Imran ayat 64 :
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ
اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً
مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Itulah
beberapa ayat yang biasa dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat
sunnah subuh. Namun demikian tetap dibolehkan juga membaca selain ayat-ayat di
atas.
Berbaring
Sejenak Setelahnya
Terdapat
beberapa hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
berbaring di sisi tubuh sebelah kanan setelah melakukan shalat sunnah subuh. Di
antaranya adalah hadits berikut :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا
سَكَتَ اْلمُؤَذّنُ بِاْلأُوْلَى مِنْ صَلاَةِ اْلفَجْرِ قَامَ فَرَكَعَ
رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ بَعْدَ اَنْ يَسْتَبِيْنَ
اْلفَجْرُ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقّهِ اْلاَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ
اْلمُؤَذّنُ لِلإِقَامَةِ
“Apabila
muadzdzin telah selesai adzan untuk shalat subuh, maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sebelum shalat subuh, beliau shalat ringan lebih dahulu dua
rakaat sesudah terbit fajar. Setelah itu beliau berbaring pada sisi lambung
kanan beliau sampai datang muadzin kepada beliau untuk iqamat shalat subuh.”
(HR Bukhari 590)
Para ulama
berbeda pendapat tentang hukum berbaring setelah shalat sunnah subuh dalam
beberapa pendapat
:
Pertama.
Hukumnya sunnah secara mutlak. Ini adalah madzhab Syafi’i dan ini adalah
pendapat Abu Musa Al ‘Asy’ari, Rafi’ bin Khadij, Anas bin Malik, dan Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhum.
Kedua.
Hukumnya wajib. Ini adalah madzhab Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah. Bahkan
beliau terlalu berlebihan dengan
menjadikannya sebagai syarat sahnya shalat subuh. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah berkata sebagaimana dinukil Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam
Zaadul Ma’ad I/319 : “ Ini adalah termasuk pendapat yang beliau bersendiri
dengan pendapat tersebut dari para imam yang lain”
Ketiga.
Hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat kebanyakan para salaf. Di anatarnya
adalah Ibnu Mas’ud, Ibnul Musayyib, dan An Nakha’i rahimahumullah. Al Qadhi
‘Iyad rahimahullah menyebutkan ini merupakan pendapat jumhur ulama. Mereka
berpendapat bahwa tidak diketahui dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukannya di masjid.
Seandainya beliau melakukannya, tentu akan dinukil secara mutawatir.
Keempat.
Hukumnya menyelisihi perkara yang lebih utama. Ini adalah pendapat Hasan Al
Bashri rahimahullah.
Kelima.
Hukumnya mustahab bagi yang melakukan shalat malam agar dapat beristirahat. Ini
adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul ‘Arabi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahumallah.
Keenam.
Berbaring di sini bukanlah inti yang dimaksud, namun yang dimaksud adalah
memisahkan antara shalat sunnah dan shalat wajib. Ini diriwayatkan dari
pendapat Imam Syafi’i. Namun pendapat ini tertolak, sebab pemisahan waktu memungkinkan dilakukan
dengan selain berbaring.
Kesimpulannya,
yang lebih tepat dari pendapat-pendapat di atas bahwa berbaring setelah shalat
sunnah subuh hukumnya mustahab (dianjurkan), asalkan memenuhi dua syarat :
Berbaring
dilakukan di rumah dan bukan di masjid karena tidak pernah dinukil dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukannya di dalam masjid.
Hendaknya
orang yang melakukan sunnah ini, mampu untuk bangun kembali dan tidak tertidur
sehingga tidak terlambat untuk melakukan shalat subuh secara berjamaah.
Lakukanlah
di Rumah
Inilah yang
dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan
shalat-shalat sunnah.. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan
shalat sunnah di rumah dan memerintahkan agar rumah kita diisi dengan ibadah
shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اجْعَلُوا فِى بُيُوتِكُمْ
مِنْ صَلاَتِكُمْ ، وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
“Jadikanlah
shalat (sunnah) kalian di rumah kalian. Janganlah jadikan rumah kalian seperti
kuburan.” (HR. Bukhari 1187)
Dalam
hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَفْضَلُ صَلاَةِ الْمَرْءِ
فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ
“Sebaik-baik
shalat seseorang adalah shalat di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari
no. 731 dan Ahmad 5: 186, dengan lafazh Ahmad)
Termasuk
petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan shalat sunnah di
rumah, termasuk shalat sunnah subuh. Namun, jika dikhawatirkan ketinggalan
shalat berjamaah di masjid atau terluput dari mendapatkan shaf pertama, maka
diperbolehkan untuk melaksanakannya di masjid.
Jika Terluput
Melakukannya
Disyariatkan
bagi yang tidak sempat melakukan shalat sunnah subuh untuk melaksanakannya
setelah selesai shalat subuh atau setelah terbit matahari. Hal tersebut
berdasarkan dalil-dalil di bawah ini.
Hadits Abu
Hurairah rahidyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَي
الْفَجْرِ ؛ فَلْيُصَلِّهُمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ
“Barangsiapa yang belum shalat sunnah dua
rakaat subuh maka hendaknya melakukannya setelah terbit matahari”. (HR. At Tirmidzi 424, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih Sunan At Tirmidzi: 1/133).
Hadits ini
menunjukkan disyariatkan bagi orang yang belum sempat melaksanakan shalat
sunnah subuh agar meng-qadha’-nya setelah matahari terbit.
Boleh juga
dikerjakan tepat setelah selesai shalat subuh.Dalam hadits yang lain disebutkan
:
عَنْ قَيْسِ بْنِ قَهْدٍ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَ سَلَّمَ الصُّبْحَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، فَلَمَّا
سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ؛ سَلَّمَ مَعَهُ ، ثُمَّ
قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ
سَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ
Dari Qais
bin Qahd radhiyallahu’anhu, bahwasanya ia shalat shubuh bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belum melakukan shalat sunnah dua rakaat
qabliyah subuh. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah salam
maka ia pun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan shalat dua
rakaat qabliyah subuh, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat
perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi: 1/133).
Kesimpulannya,
diperbolehkan meng-qadha dua rakaat shalat sunnah qabliyah subuh setelah shalat
subuh yang wajib. Pelaksanaannya bisa langsung setelah selesai shalat wajib
atau setelah matahari terbit.
Bersemangatlah
Menjaganya
Saudaraku,
bersemangatlah untuk menjaga dua rakaat ini. Amalan yang ringan, namun besar
pahalanya. Dan sebaik-baik amalan, adalah amalan yang kontinyu dalam
pelaksanaannya. Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا
وَإِنْ قَلَّ
“Amalan
yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu, walaupun
sedikit.” (HR. Muslim 783)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela seseorang yang tidak kontinyu dalam
beramal. Dikisahkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu
‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku :
يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ
تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
“Wahai
‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat
malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari 1152)
Semoga
sajian ringkas ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita
untuk senantiasa melaksanakan amalan-amalan sunnah. Wallahul musta’an.
Catatan
redaksi:
Shalat
sunnah fajar sama istilahnya dengan shalat sunnah qabliyah shubuh. Sebagian
orang membedakan kedua istilah ini karena hanya salah paham. Namun yang benar
keduanya itu sama yaitu dikerjakan setelah adzan shubuh.
Sumber : Shahih Fiqh Sunnah karya Syaikh Abu Malik
Kamal bin Sayyid Salim hafidzahullah
—
Penyusun : dr. Adika Mianoki
Artikel Muslim.Or.Id
Jumat, 22 Desember 2017
Shalat Sunnah Fajar Jangan Sampai Ditinggalkan
Shalat Sunnah Fajar
Jangan Sampai Ditinggalkan
Di antara shalat-shalat sunnah, ada shalat sunnah yang
memiliki keutamaan yang tak ternilai harganya. Dua rakaat yang memiliki
keutamaan, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya.
Sebuah amalan ringan, namun sarat pahala, yang tidak selayaknya disepelekan
seorang hamba. Amalan tersebut adalah dua rakaat shalat sunnah sebelum subuh
atau disebut juga shalat sunnah fajar.
Keutamaannya
Dikisahkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau
berkata :
لَمْ
يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ
النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْر
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang
lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah
subuh.” (HR Bukhari 1093 dan Muslim 1191)
Imam Ibnul
Qayyim rahimahullah mengatakan : “ Ketika safar (perjalanan), Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam tetap rutin dan teratur mengerjakan shalat sunnah fajar dan
shalat witir melebihi shalat-shalat sunnah yang lainnya. Tidak dinukil dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melaksankan shalat sunnah rawatib selain dua shalat tersebut selama beliau
melakukan safar (Zaadul Ma’ad I/315)
Keutamaan
shalat sunnah subuh ini secara khusus juga disebutkan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam :
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ
مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat
shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”(HR. Muslim725).
Lihatlah
saudaraku, suatu keutamaan yang sangat agung yang merupakan karunia Allah bagi
hamba-hamba-Nya. Tidak selayaknya seorang hamba melewatkan kesempatan untuk
dapat meraihnya.
Melakukannya
dengan Ringkas
Di antara
petunjuk dan contoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan dua
rakaat shalat sunnah subuh adalah dengan meringankannya dan tidak memanjangkan
bacaannya, dengan syarat tidak melanggar perkara-perkara yang wajib dalam
shalat. Hal ini ditunjukkan oleh kisah berikut :
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ
حَفْصَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْأَذَانِ لِصَلَاةِ
الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ
تُقَامَ الصَّلَاةُ
Dari Ibnu
Umar, beliau berkata bahwasanya Hafshah Ummul Mukminin telah menceritakan
kepadanya bahwa dahulu bila muadzin selesai mengumandangkan adzan untuk shalat
subuh dan telah masuk waktu subuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melaksanakan shalat sunnah dua rakaat dengan ringan sebelum melaksanakan shalat
subuh.( HR Bukhari 583).
Diceritakan
juga oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ
وَالْإِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ
“
Dahulu
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat ringan antara adzan dan
iqamat shalat subuh.”(HR. Bukhari 584)
‘Asiyah
radhiyallahu ‘anha juga menjelaskan ringannya shalat Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam dengan menyatakan :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ
الصُّبْحِ حَتىَّ إِنِّيْ لأَقُوْلُ : هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ؟
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam meringankan dua rakaat shalat sunnah subuh
sebelum shalat fardhu Subuh, sampai-sampai aku bertanya : “Apakah beliau
membaca surat Al-Fatihah?” (HR Bukhari 1095 dan Muslim 1189)
Hadits-hadits
di atas menunjukkan sunnahnya memperingan shalat ketika melaksanakan shalat
sunnah subuh. Tentu saja yang dimaksud meringankan shalat di sini dengan tetap
menjaga rukun dan hal-hal yang wajib dalam shalat.
Bacaan Pada
Setiap Rakaat
Terdapat
beberapa hadits yang menyebutkan bacaan surat yang biasa dibaca Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah membaca surat Al Fatihah dalam shalat
sunnah subuh.
Pertama.
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا
الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam dua rakaat shalat sunnah subuh
surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas” (H.R Muslim 726)
Kedua.
Hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berbunyi :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فِي
الْأُولَى مِنْهُمَا قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا الْآيَةَ
الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ وَفِي الْآخِرَةِ مِنْهُمَا آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ
بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah subuh membaca ayat
قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا (Al Baqarah 136) pada rakaat pertama dan membaca آمَنَّا
بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (Ali Imran 52) pada rakaat kedua” ( HR.
Muslim 727).
Ketiga.Hadits
dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berbunyi,
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيْ
الْفَجْرِ قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَالَّتِي فِي آلِ
عِمْرَانَ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua rakaat shalat sunnah subuh membaca
firman Allah قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ
إِلَيْنَا (Al Baqarah 136) dan membaca تَعَالَوْا
إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ (Ali Imran 64)” (HR.
Muslim 728).
Ringkasnya,
ada tiga jenis variasai yang biasa dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam shalat sunnah subuh, yaitu :
Rakaat
pertama membaca surat Al Kafirun dan rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas
Rakaat
pertama membaca ayat dalam surat Al
Baqarah 136:
قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ
وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ
وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا
أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ
وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Rakaat
kedua membaca ayat dalam surat Ali Imran 52 :
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى
مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ
نَحْنُ أَنصَارُ اللّهِ آمَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Rakaat
pertama membaca ayat dalam surat Al Baqarah 136:
ُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ
وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ
وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا
أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ
وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Rakaat
kedua membaca ayat dalam surat Ali Imran ayat 64 :
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ
اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً
مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Itulah
beberapa ayat yang biasa dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat
sunnah subuh. Namun demikian tetap dibolehkan juga membaca selain ayat-ayat di
atas.
Berbaring
Sejenak Setelahnya
Terdapat
beberapa hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
berbaring di sisi tubuh sebelah kanan setelah melakukan shalat sunnah subuh. Di
antaranya adalah hadits berikut :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا
سَكَتَ اْلمُؤَذّنُ بِاْلأُوْلَى مِنْ صَلاَةِ اْلفَجْرِ قَامَ فَرَكَعَ
رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ بَعْدَ اَنْ يَسْتَبِيْنَ
اْلفَجْرُ ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقّهِ اْلاَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ
اْلمُؤَذّنُ لِلإِقَامَةِ
“Apabila
muadzdzin telah selesai adzan untuk shalat subuh, maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sebelum shalat subuh, beliau shalat ringan lebih dahulu dua
rakaat sesudah terbit fajar. Setelah itu beliau berbaring pada sisi lambung
kanan beliau sampai datang muadzin kepada beliau untuk iqamat shalat subuh.”
(HR Bukhari 590)
Para ulama
berbeda pendapat tentang hukum berbaring setelah shalat sunnah subuh dalam
beberapa pendapat :
Pertama.
Hukumnya sunnah secara mutlak. Ini adalah madzhab Syafi’i dan ini adalah
pendapat Abu Musa Al ‘Asy’ari, Rafi’ bin Khadij, Anas bin Malik, dan Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhum.
Kedua.
Hukumnya wajib. Ini adalah madzhab Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah. Bahkan
beliau terlalu berlebihan dengan
menjadikannya sebagai syarat sahnya shalat subuh. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah berkata sebagaimana dinukil Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam
Zaadul Ma’ad I/319 : “ Ini adalah termasuk pendapat yang beliau bersendiri
dengan pendapat tersebut dari para imam yang lain”
Ketiga.
Hukumnya makruh. Ini merupakan pendapat kebanyakan para salaf. Di anatarnya
adalah Ibnu Mas’ud, Ibnul Musayyib, dan An Nakha’i rahimahumullah. Al Qadhi
‘Iyad rahimahullah menyebutkan ini merupakan pendapat jumhur ulama. Mereka
berpendapat bahwa tidak diketahui dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukannya di masjid.
Seandainya beliau melakukannya, tentu akan dinukil secara mutawatir.
Keempat.
Hukumnya menyelisihi perkara yang lebih utama. Ini adalah pendapat Hasan Al
Bashri rahimahullah.
Kelima.
Hukumnya mustahab bagi yang melakukan shalat malam agar dapat beristirahat. Ini
adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul ‘Arabi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahumallah.
Keenam.
Berbaring di sini bukanlah inti yang dimaksud, namun yang dimaksud adalah
memisahkan antara shalat sunnah dan shalat wajib. Ini diriwayatkan dari
pendapat Imam Syafi’i. Namun pendapat ini tertolak, sebab pemisahan waktu memungkinkan dilakukan
dengan selain berbaring.
Kesimpulannya,
yang lebih tepat dari pendapat-pendapat di atas bahwa berbaring setelah shalat
sunnah subuh hukumnya mustahab (dianjurkan), asalkan memenuhi dua syarat :
Berbaring
dilakukan di rumah dan bukan di masjid karena tidak pernah dinukil dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukannya di dalam masjid.
Hendaknya
orang yang melakukan sunnah ini, mampu untuk bangun kembali dan tidak tertidur
sehingga tidak terlambat untuk melakukan shalat subuh secara berjamaah.
Lakukanlah
di Rumah
Inilah yang
dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan
shalat-shalat sunnah.. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan
shalat sunnah di rumah dan memerintahkan agar rumah kita diisi dengan ibadah
shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اجْعَلُوا فِى بُيُوتِكُمْ
مِنْ صَلاَتِكُمْ ، وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
“Jadikanlah
shalat (sunnah) kalian di rumah kalian. Janganlah jadikan rumah kalian seperti
kuburan.” (HR. Bukhari 1187)
Dalam
hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَفْضَلُ صَلاَةِ الْمَرْءِ
فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ
“Sebaik-baik
shalat seseorang adalah shalat di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari
no. 731 dan Ahmad 5: 186, dengan lafazh Ahmad)
Termasuk
petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukan shalat sunnah di
rumah, termasuk shalat sunnah subuh. Namun, jika dikhawatirkan ketinggalan
shalat berjamaah di masjid atau terluput dari mendapatkan shaf pertama, maka
diperbolehkan untuk melaksanakannya di masjid.
Jika Terluput
Melakukannya
Disyariatkan
bagi yang tidak sempat melakukan shalat sunnah subuh untuk melaksanakannya
setelah selesai shalat subuh atau setelah terbit matahari. Hal tersebut
berdasarkan dalil-dalil di bawah ini.
Hadits Abu
Hurairah rahidyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَي
الْفَجْرِ ؛ فَلْيُصَلِّهُمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ
“Barangsiapa yang belum shalat sunnah dua
rakaat subuh maka hendaknya melakukannya setelah terbit matahari”. (HR. At Tirmidzi 424, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih Sunan At Tirmidzi: 1/133).
Hadits ini
menunjukkan disyariatkan bagi orang yang belum sempat melaksanakan shalat
sunnah subuh agar meng-qadha’-nya setelah matahari terbit.
Boleh juga
dikerjakan tepat setelah selesai shalat subuh.Dalam hadits yang lain disebutkan
:
عَنْ قَيْسِ بْنِ قَهْدٍ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَ سَلَّمَ الصُّبْحَ ، وَلَمْ يَكُنْ رَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، فَلَمَّا
سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ؛ سَلَّمَ مَعَهُ ، ثُمَّ
قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَي الْفَجْرِ ، وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ
سَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيْهِ
Dari Qais
bin Qahd radhiyallahu’anhu, bahwasanya ia shalat shubuh bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan belum melakukan shalat sunnah dua rakaat
qabliyah subuh. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah salam
maka ia pun salam bersama beliau, kemudian ia bangkit dan melakukan shalat dua
rakaat qabliyah subuh, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat
perbuatan tersebut dan tidak mengingkarinya. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi: 1/133).
Kesimpulannya,
diperbolehkan meng-qadha dua rakaat shalat sunnah qabliyah subuh setelah shalat
subuh yang wajib. Pelaksanaannya bisa langsung setelah selesai shalat wajib
atau setelah matahari terbit.
Bersemangatlah
Menjaganya
Saudaraku,
bersemangatlah untuk menjaga dua rakaat ini. Amalan yang ringan, namun besar
pahalanya. Dan sebaik-baik amalan, adalah amalan yang kontinyu dalam
pelaksanaannya. Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا
وَإِنْ قَلَّ
“Amalan
yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu, walaupun
sedikit.” (HR. Muslim 783)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela seseorang yang tidak kontinyu dalam
beramal. Dikisahkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu
‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku :
يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ
تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
“Wahai
‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat
malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari 1152)
Semoga
sajian ringkas ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita
untuk senantiasa melaksanakan amalan-amalan sunnah. Wallahul musta’an.
Catatan
redaksi:
Shalat
sunnah fajar sama istilahnya dengan shalat sunnah qabliyah shubuh. Sebagian
orang membedakan kedua istilah ini karena hanya salah paham. Namun yang benar
keduanya itu sama yaitu dikerjakan setelah adzan shubuh.
Sumber : Shahih Fiqh Sunnah karya Syaikh Abu Malik
Kamal bin Sayyid Salim hafidzahullah
—
Penyusun : dr. Adika Mianoki
Artikel Muslim.Or.Id










