Kantor Sekretariat Rumah Sajada

Alamat : Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman D.I. Yogyakarta

Tampak Depan PAPP Rumah Sajada

Komplek Kantor dan Asrama Putri Wirokraman RT 04 RW 13 Sidokarto Godean Sleman

Pendopo Rumah Sajada

Komplek Asrama Putra Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putri Rumah Sajada

Komplek Asarama Putri Wirokraman Sidokarto Godean Sleman

Asrama Putra

Alamat : Sorolaten Sidokarto Godean Sleman

Selasa, 26 Juli 2022

12 Amalan Bulan Muharram, Sambut Tahun Baru Islam dengan Sunnah yang Diutamakan Rasul

12 Amalan Bulan Muharram, Sambut Tahun Baru Islam dengan Sunnah yang Diutamakan Rasul

 

 

Termasuk introspeksi diri atas segala dosa yang telah diperbuat. Baik memohon ampun terhadap sesama makhluk maupun kepada Allah SWT. Semoga dengan amalan ini,diharapkan mampu menghapus dosa yang telah lalu.

Berbagai ibadah yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan sangat dianjurkan untuk ditunaikan di bulan Muharram ini, sebagai salah satu dari empat bulan yang disucikan. Begitu istimewanya, lantas tertuang pula dalam kitab suci Alquran.

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…". (QS. At Taubah: 36).

Sehingga sebagai umat Islam, hendaknya mengutamakan bulan Muharram sebagai penyambutan tahun baru Islam dengan amalan-amalan berbobot. Isi momen selama satu bulan ini dengan kegiatan bernilai.

Para ulama telah mengklasifikasikan sejumlah amalan yang patut diperbanyak selama bulan Muharram.

Berikut amalan bulan Muharram, dari sunnah yang diutamakan hingga yang wajib ditunaikan, dihimpun dari NU Online, Selasa (10/8).

Menurut Syekh Abdul Hamid dalam kitabnya yang berjudul Kanzun Naja was Surur Fi Ad'iyyati Tasyrahus Shudur. Dijelaskan mengenai keutamaan amalan-amalan bulan Muharram.

 

فِى يوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ * بِهَا اثْنَتَانِ وَلهَاَ فَضْلٌ نُقِلْ صُمْ صَلِّ صَلْ زُرْ عَالمِاً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ وَسِّعْ عَلَى اْلعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرَا * وَسُوْرَةَ الْاِخْلاَصِ قُلْ اَلْفَ تَصِلْ

 

"Ada sepuluh amalan di dalam bulan 'asyura, yang ditambah lagi dua amalan lebih sempurna. Puasalah, salatlah, sambung silaturrahim, ziarah orang alim, menjenguk orang sakit dan celak mata. Usaplah kepala anak yatim, bersedekah, dan mandi, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, membaca surat al-Ikhlas 1000 kali."

Menurut jumhur ulama, mereka membagi amalan bulan Muharram menjadi dua belas. Berbagai amalan Islam yang hendaknya diperbanyak dibanding hari-hari biasanya. Di antaranya:

1. Menunaikan salat, baik yang wajib maupun memperbanyak salat sunnah.

2. Berpuasa

3. Menyambung silaturahim

4. Bersedekah

5. Mandi

6. Memakai celak mata

7. Berziarah kepada ulama, baik yang hidup maupun yang telah meninggal.

8. Menjenguk orang sakit

9. Menambah nafkah keluarga

10. Memotong kuku

11. Mengusap kepala anak yatim, maksudnya mengurusi mereka.

12. Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak 1000 kali.

Puasa Sunnah di Bulan Muharram yang Diutamakan

Di bulan Muharram, terdapat dua puasa yang paling utaman, yakni puasa sunnah Tasu'a dan Asyura. Puasa tasu'a dan asyura termasuk dalam keutamaaan berpuasa di bulan mulia atau disebut al-asyhurul hurum.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: 'Rasulullah saw bersabda: 'Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan hadits ini shahih).

Dari hadis tersebut, para ulama menyimpulkan bahwa menunaikan puasa sepanjang bulan Muharram ialah sunnah. Namun, di antara hari-hari itu, 10 hari pertama, khususnya tanggal 9 Muharram, pada 10 atau asyura, dan bisa tambahkan berpuasa di tanggal 11 sebagai hari paling utama untuk dipuasai.

1. Bulan yang Disucikan

Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa bulan Muharram termsuk salah satu dari empat bulan yang dianggap suci.

"Dalam satu tahun ada 12 bulan, di antaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan secara berurutan adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajabnya Mudhor yang berada di antara Jumada dan Sya’ban". (HR. Bukhori).

2. Haram Berbuat Dzalim

Bahkan di bulan Muharram dilarang keras untuk melakukan maksiat atau perbuatan dosa. Karena dinilai akan semakin berat dosanya.

Dalam hal ini, Imam Qatadah berkata: "Sungguh kedzaliman yang dilakukan pada bulan haram merupakan seberat-beratnya kesalahan dari pada bulan-bulan lainnya. Meskipun kedzaliman apapun termasuk kesalahan berat, akan tetapi Allah mengagungkan (memberatkan) apapun yang Dia kehendaki.

Kemudian beliau berkata: "Sungguh Allah telah memilih dari sekian banyak makhluk untuk menjadi makhluk pilihan-Nya; Dia telah memilih dari para malaikat sebagai malaikat yang menjadi utusan, dan memilih para rasul dari manusia sebagai utusan, memilih dzikir mengingat-Nya dari semua ucapan, dan memilih masjid dari semua tempat di bumi, dan memilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram dari semua bulan yang ada, dan memilih hari Jum’at dari semua hari yang ada, dan memilih malam lailatul qadar dari semua malam, maka agungkanlah oleh kalian apa saja yang diagungkan oleh Allah; karena semua urusan menjadi agung selama diagungkan oleh Allah menurut mereka yang memahami dan berakal" .(Mulakhos Tafsir Ibnu Katsir –rahimahullah-, tafsir dari surat At Taubah: 36)

3. Mendapat Pahala Berlipat

Keutamaan bulan Muharram selanjutnya ialah bisa mendapatkan pahala yang berlipat. Hal ini berdasarkan ahli tafsir bernama Qatadah bin Di’amah yang berkata:

"Amal sholeh lebih besar pahalanya jika dikerjakan di bulan-bulan haram sebagaimana kezholiman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan dengan kezholiman yang dikerjakan di bulan-bulan lain meskipun secara umum kezholiman adalah dosa yang besar". [kur]

Reporter : Kurnia Azizah

https://www.merdeka.com

 

 

Senin, 25 Juli 2022

DUA KEUTAMAAN YANG DIANJURKAN DI BULAN MUHARRAM

DUA KEUTAMAAN YANG DIANJURKAN DI BULAN MUHARRAM

 

Mitrapost.com – Bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia selain Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Rajab. Oleh karenanya pada bulan-bulan tersebut banyak keberkahan yang diberikan Allah kepada hambanya.

Selain itu bulan Muharram juga menjadi awal bulan dalam kalender Hijriyah atau tahun Islam. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam sabda Rasulallah SAW

“Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan haram (bulan Muharam) dan mengakhirinya pula dengan bulan Haram (bulan Dzulhijjah). Maka tiada bulan dalam satu tahun lebih agung di sisi Allah setelah bulan Ramadhan daripada bulan Muharam.”

Oleh karenanya di bulan yang mulia ini, juga terdapat keutamaan didalamnya yang luar biasa. Sejumlah amalan sunnah dianjurkan dilaksanakan di bulan Muharram, diantaranya adalah:

Berpuasa

Dalam riwayat hadis oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari Ali RA disampaikan bahwa selain puasa di bulan Ramadhan, puasa di bulan Muharram adalah salah satu puasa yang paling utama.

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, bulan apakah yang layak untuk aku buat berpuasa setelah bulan Ramadhan?” Rasulullah menjawab, “Jika kamu ingin berpuasa selama sebulan selain di bulan Ramadhan, maka berpuasalah di bulan Allah Muharam. Sesungguhnya itu adalah bulan Allah, di sana terdapat suatu hari yang Allah memberi pengampunan kepada sebuah kaum dan juga memberikan pengampunan bagi kaum yang lain.” (HR. Al-Baihaqi)

Sementara, menurut sebagian ulama mengatakan, bahwa bulan Muharam yang paling utama adalah sepuluh hari pertama dari bulan itu. Di bulan Muharam ini, hari yang sangat dianjurkan untuk berpuasa ialah pada hari Asyura atau hari kesepuluh dari bulan Muharam.

Selain berpuasa diawal dan pada hari kesepuluh bulan Muharram, Rasulullah juga menganjurkan puasa pada hari kesembilan atau disebut puasa Tasu’a.

Hal tersebut seperti dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW, “Berpuasalah kalian di hari Asyura dan bedakanlah dengan Yahudi dengan berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya.” (Al-Baihaqi)

Bersedekah

Amalan sunnah lainnya di bulan Muharram adalah bersedekah dan menyenangkan keluarga.

Dalam hadis dari Abi Sa’id al-Khudri dijelaskan bahwa Allah akan memberikan keluasan rezeki bagi meteka yang menyenangkan keluarganya.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menyenangkan keluarganya di hari Asyura, maka Allah akan memberikan kesenangan kepadanya (meluaskan rizkinya) di tahun-tahun berikutnya.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabarani).

https://smartcity.patikab.go.id

 

Lima Keutamaan Bulan Muharram

Lima Keutamaan Bulan Muharram

 

alhikmah.ac.id – Bulan Muharram termasuk bulan yang istimewa. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah dan rasul-Nya memuliakan bulan Muharram, di antaranya adalah:

1. Termasuk Empat Bulan Haram (suci)

Allah berfirman,

 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

 

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At-Taubah: 36)

Keterangan:

a. Yang dimaksud empat bulan haram adalah bulan Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram (tiga bulan ini berurutan), dan Rajab.

b. Disebut bulan haram, karena bulan ini dimuliakan masyarakat Arab, sejak zaman jahiliyah sampai zaman Islam. Pada bulan-bulan haram tidak boleh ada peperangan.

c. Az-Zuhri mengatakan,

 

كان المسلمون يعظمون الأشهر الحرم

 

“Dulu para sahabat menghormati syahrul hurum” (HR. Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, no.17301).

2.  Dari Abu Bakrah radhiallahu‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

 

“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

3.  Dinamakan Syahrullah (Bulan Allah)

Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم

 

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Keterangan:

a. Imam An Nawawi mengatakan, “Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.” (Syarah Shahih Muslim, 8:55)

b. As-Suyuthi mengatakan, Dinamakan syahrullah –sementara bulan yang lain tidak mendapat gelar ini– karena nama bulan ini “Al-Muharram” nama nama islami. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman jahiliyah. Sementara dulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dengan nama Shafar Awwal. Kemudian ketika Islam datanng, Allah ganti nama bulan ini dengan Al-Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah). (Syarh Suyuthi ‘Ala shahih Muslim, 3:252)

c. Bulan ini juga sering dinamakan: Syahrullah Al Asham [arab: شهر الله الأصم ] (Bulan Allah yang Sunyi). Dinamakan demikian, karena sangat terhormatnya bulan ini (Lathaif al-Ma’arif, Hal. 34). karena itu, tidak boleh ada sedikitpun friksi dan konflik di bulan ini.

4.  Ada satu hari yang sangat dimuliakan oleh para umat beragama. Hari itu adalah hari Asyura’. Orang Yahudi memuliakan hari ini, karena hari Asyura’ adalah hari kemenangan Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya. Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, beliau menceritakan,

 

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

 

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari)

5.  Para ulama menyatakan bahwa bulan Muharram adalah adalah bulan yang paling mulia setelah Ramadhan

Hasan Al-Bashri mengatakan,

 

إن الله افتتح السنة بشهر حرام وختمها بشهر حرام فليس شهر في السنة بعد شهر رمضان أعظم عند الله من المحرم وكان يسمى شهر الله الأصم من شدة تحريمه

 

Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 34)

 

Allahu a’lam

https://alhikmah.ac.id/

 

Keutamaan dan Keistimewaan Bulan Muharram

Keutamaan dan Keistimewaan Bulan Muharram

 

Dalam kalender Hijriyah terdapat empat bulan haram, yakni Dzulqaidah, Dzulhijah, Muharram, dan Rajab. Disebut haram karena keempat bulan itu sangat dihormati, dan umat Islam dilarang berperang di dalamnya.

Muharram yang berarti diharamkan atau yang sangat dihormati, memang merupakan bulan gencatan senjata atau bulan perdamaian. Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam di manapun harus selalu bersikap damai, tidak boleh mengobarkan api peperangan jika tidak diperangi terlebih dahulu.

Seyogianya, umat Islam menghormati dan memaknai Muharram dengan spirit penuh perdamaian dan kerukunan. Sebab, Nabi Muhammad SAW pada khutbah haji wada-yang juga di bulan haram, mewanti-wanti umatnya agar tidak saling bermusuhan, bertindak kekerasan, atau berperang satu sama lain.

Esensi dari spirit Muharram adalah pengendalian diri demi terciptanya kedamaian dan ketenteraman hidup, baik secara fisik, sosial, maupun spiritual. Karena itu, di bulan Muharram Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk berpuasa sunah: Asyura (puasa pada hari kesepuluh di bulan ini).

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharam. Dan, shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim).

Ibnu Abbas berkata, “Aku tak melihat Rasulullah SAW mengintensifkan puasanya selain Ramadhan, kecuali puasa Asyura.” (HR Bukhari). Dalam hadis lain yang diriwayatkan dari Abi Qatadah, Nabi SAW bersabda, “Puasa Asyura itu dapat menghapus dosa tahun sebelumnya.” (HR Muslim).

Melalui puasa sunah itulah, umat Islam dilatih dan dibiasakan untuk dapat menahan diri agar tidak mudah dijajah oleh hawa nafsu, termasuk nafsu dendam dan amarah, sehingga perdamaian dan ketenteraman hidup dapat diwujudkan dalam pluralitas berbangsa dan bernegara.

Puasa sunah di bulan Muharam agaknya juga harus menjadi momentum islah bagi semua pihak. Agar perdamaian dan ketentramaan terwujud, Muharam juga harus dimaknai sebagai bulan antimaksiat, yakni dengan menjauhi larangan-larangan Allah SWT, seperti fitnah, pornoaksi, pornografi, judi, korupsi, teror, dan narkoba.

Muharram juga penting dijadikan sebagai bulan keselamatan bersama dengan menghindarkan diri dari kemungkinan terjadinya kecelakaan yang dapat menyengsarakan manusia, baik di darat, laut, maupun di udara.

Red: Elba Damhuri

Oleh Muhbib Abdul Wahab

https://www.republika.co.id

 

Jumat, 22 Juli 2022

Menikmati Surga Dunia, sebelum ke Surga Akhirat

 Menikmati Surga Dunia, sebelum ke Surga Akhirat

 

Hidayatullah.com | Surga, idaman semua orang, semua agama, semua ajaran, semua kepercayaan, bahkan orang yang melakukan kemungkaran, kekejian, kerusakan juga mengharap berada di Surga.  Surga dalam pandangan mereka berbeda-beda, sesuai dengan nalar dan kepercayaan mereka.

Tidak hanya orang dewasa yang mengharapkan Surga, anak kecil pun yang belum tahu dosa dan pahala, juga menginginkan Surga. Dan dalam pandangan mereka Surga hanyalah satu keyakinan, yaitu tempat yang indah, semua serba ada, dan semua kebetuhan terpenuhi.

Orang yang bosan terhadap proses menuju Surga yang sebenarnya, terkadang membuat Surga-surga dalam pikiran dan perilaku mereka, dengan melakukan perzinahan, menegak minuman yang memabukkan, ekstasi, dan mengumbar segala kekayaannya, kemewahannya dan kesombongannya. Mereka melakukan dua hal demi kepuasan Surga dunia mereka, dengan (fisik) harta, tahta, perempuan/laki-laki, keturunan dan (non fisik) pujian, kesombongan, dan lain sebagainya.

Surga yang dijanjikan oleh Allah (bagi umat Islam) adalah tempat yang aman, nyaman, kekal (ad-Dukhan : 51-57), semuanya hidup rukun, tidak ada; pertengkaran, perselisihan, pertentangan, (al-Hijr : 45-48). Hidup dengan segala keindahan, kemewahan, dan segala perhiasan (al-Kahfi : 30-31). Memperoleh rizki yang tidak pernah ada habis-habisanya, disediakan minuman, buah-buahan, daging dsb, dan tidak pernah merasakan kenyang atau pusing dan mabu setelah memakan atau meminumnya. Disediakan pelayan dan ditemani oleh bidadari yang cantik dan sebaya umurnya (Shad : 49-54) dan (al-Waqi’ah : 13-38).

Tidak pernah kesulitan dalam kehidupan di Surga, tidak ada buah yang busuk. Semuanya diliputi dengan kemudahan, dan apapun yang diinginkan pasti terpenuhi. (QS: Ar-Rahman: 68). Serta semuanya tampan dan cantik, selalu muda, memiliki kulit yang mulus dengan pakaian yang tak pernah kumal.Tidak pernah sakit, menderita atau mati (HR.Muslim). dan kesenangan yang lainnya, perempuannya yang cantik-cantik, dan laki-lakinya tampan-tanpan, terdapat sungai-sungai yang mengalirkan susu, madu bahkan arak dan tidak memabukkan dan selalu menebar senyuman dan masih banyak gambaran-gambaran bagaimana kehidupan ahli Surga. yang pada intinya, adalah kehidupan yang indah.

Menurut pandangan saya, selain keindahan Surga yang Allah janjikan di atas (dan itu nanti setelah yaum hisab), maka kita akan selalu menemukan dan merasakan Surga yang berada di dunia dengan melakukan beberapa hal yang dilakukan oleh penduduk Surga. Karena kebaikan, keindahan, kebahagiaan, dan kenikmatan tidak pernah dilarang oleh Allah di dunia sebagaimana doa yang selalu kita harapkan, “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201).

Ibnu Kasir memberi makna “hasanah fi dunya” dengan segala keinginan dan kebutuhan dunia seperti kesehatan, tempat yang nyaman, pasangan yang baik, rizki yang banyak (wasi’), ilmu yang bermanfaat, dan perbuatan yang baik. Kenikmatan, kenyaman, kebahagiaan yang tidak dilarang oleh Allah adalah yang tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah, sedangkan kebahagiaan, kenyamanan, dan kenikmatan yang dirasakan indah tetapi bertentangan dengan ajaran Islam adalah kenikmatan semu belaka, menipu, dan pada akhirnya hanyalah fatamorgana, tidak akan menemukan kekekalannya.

Seperti orang yang mencari ketenangan dan kedamaian, ia mencarinya di dalam harta, tahta, perempuan/laki-laki, dan lainnya setelah ia menemukannya dan merasakannya, maka ketenangannya akan sirna pula. Tetapi berbeda dengan ketenangan yang Allah berikan, yaitu hanya dengan mengingatNya, “..Orang-orang yg beriman dan hati mereka menjadi tenteram (tahmainnu) dengan mengingati Allah, Ingatlah..hanya dengan mengingati Allah hati akan menjadi tenang (tahmainnu)…(QS: Ar-Ra’d:28).

Di sini ada pengulangan kata “tahmainnu” dua kali dengan menggunakan fiil mudhari’ (kata kerja sedang atau akan) yang memiliki arti “selalu” (liddawam). Serta menggunakan taukit (penguat/pengokohan). Artinya akan selalu merasa tenang (damai, tentram), jika seseorang mengingat Allah. Kedamaian, kebahagiaan, keindahan akan selalu menghiasinya jika ia selalu mengingat Sang Pencipta, Sang Tempat Kembali, Sang pemberi Rizqi dan Yang mengambilnya. Maka, ia akan merasakan Surga di dunia, jika selalu mengingat “dari” dan “ke” mana pada akhirnya.

Bagaiman menemukan Surga di dunia?, ini pertanyaannya. Seseorang yang melakukan apa yang dilakukan orang-orang ahli Surga, ia akan menemukan Surga itu. Seperti apa:

Pertama, menciptakan tempat yang aman; secara spikis dapat dilakukan dengan selalu berkhusnudhan kepada orang lain, tidak sombong, tidak hasad dan tidak dengki.

Kedua, nyaman; selalu berbuat baik kepada orang lain (maka insyallah orang lain akan juga demikian), selalu melayani kepentingan orang lain, tidak minta untuk selalu dilayani.

Ketiga, semuanya hidup rukun,tidak ada; pertengkaran, perselisihan, pertentangan, seperti cerminan ahli Surga dalam surat al-Hijr : 45-48.

Keempat, hidup dengan segala keindahan; berkata indah, bersikap indah, melihat keindahan-keindahan Allah dengan bersyukur dan bertasbih, seperti cerminan ahli Surga dalam surat al-Kahfi : 30-31.

Kelima, memperoleh rizki yang tidak pernah ada habis-habisanya; kalau gambaran ahli Surga selalu disediakan minuman, buah-buahan, daging dsb, dan tidak pernah merasakan kenyang atau pusing dan mabuk setelah memakan atau meminumnya. Disediakan pelayan dan ditemani oleh bidadari yang cantik dan sebaya umurnya (Shad : 49-54) dan (al-Waqi’ah : 13-38).

Maka bagaimana kita mendapatkannya di dunia?

Dengan bertakwa kepada Allah, maka akan dicukupkan rizkinya oleh Allah dan akan diberikan rizki dari berbagai arah (min haisu la yahtasib). Dan sikap kita di dunia juga menentukan kebahagian hidup dengan qonaah (merasa cukup) terhadap rizki yang sudah diberikan oleh Allah, orang qonaah adalah orang yang paling kaya dari pada kaya dengan limpahan harta, tetapi mereka (orang yang kaya) selalu kurang dan tidak pernah puas dengan pemberiaan lllah, sehingga orang yang seperti ini akan tersiksa di dunia, walau banyak harta dan serba tercukupi.

Keenam,  semuanya diliputi dengan kemudahan, dan apapun yang diinginkan pasti terpenuhi. (QS: Ar-Rahman: 68).

Orang yang bahagia, jika semua keinginannya selalu dimudahkan oleh Allah dan selalu tepenuhi, lagi-lagi orang yang bertaqwa dan beriman akan merasa, Allah selalu memberi kemudahan dalam segala urusannya, selalu diberikan jalan keluar dalam kesulitannya, dan cara menghadapi kesulitan pun tetap menggantungkan diri kepada Allah, sehigga dalam setiap nafasnya hanya Allahlah yang dapat memberi solusi dalam setiap permasalahan, maka jika Allah hanya tempat kembali, maka ia akan merasakan ketenangan, karena tidak ada angin yang berhembus keculi dengan kuasaNya, dan tidak ada nafas yang berhenti juga kecuali dengan kuasaNya.

Ketujuh, ahli Surga selalu menebar senyuman; tidak merengut, judes, membenci, marah, dan sifat-sifat yang kurang baik lainnya, dan dengan senyuman seseorang kita selalu merasakan kebahagiaan, demikian juga kita memberikan senyuman kepada orang lain, di sana ada keindahan , kedamaian dan kebahagiaan. Maka, memberikan senyuman, serasa kita menciptakan Surga di dunia.

Selain gambaran Surga di atas masih banyak gambaran-gambaran kehidupan ahli Surga lainnya. Mudah-mudahan coretan singkat, menambah kebaikan kepada penulis sendiri, dan juga bermanfaat apda pembaca. Allah A’lam bishawab.*/Halimi Zuhdi, pengajar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

 

Rep: Insan Kamil

Editor: Insan Kamil

https://hidayatullah.com

 

Majelis Ilmu Ibarat Taman Surga

Majelis Ilmu Ibarat Taman Surga

 

IHRAM.CO.ID,  Di dunia ini sejatinya ada tempat-tempat yang disebut sebagai taman surga. Tempat itu adalah majelis-majelis ilmu. Sunah bagi seorang Muslim ketika mendapati dalam perjalanan menemukan ada majelis-majelis ilmu untuk sejenak ikut bergabung.

 

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَامَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْاقَالُوْ ايَارَسُوْلَ اللَّهِ ,وَمَارِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ مَجَالِسُ الْعِلْمِ.

 

Nabi Muhammad bersabda: Ketika lewat kalian di taman-taman surga, maka singgah lah. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apa taman-taman surga itu? Rasulullah menjawab: taman-taman surga itu adalah majelis-majelis ilmu.

Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa majelis-majelis ilmu itu adalah tempat yang sangat baik yang ada di muka bumi. Karena Rasulullah pun mengibaratkan sebagai taman surga.

Sebab memang majelis-majelis ilmu adalah tempat bagi orang-orang yang mau menempuh jalan yang di ridhoi Allah mencapai surga. Orang yang mau dudu di majelis ilmu dan mendengarkan dengan seksama para ulama yang mengajarkan ilmu niscaya akan memperoleh kunci-kunci untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

Reporter :Andrian Saputra

Redaktur : Agung Sasongko

https://ihram.co.id

 

11 Waktu Mustajab untuk Berdoa, Jangan Dilewatkan

11 Waktu Mustajab untuk Berdoa, Jangan Dilewatkan

 

Liputan6.com, Jakarta Waktu mustajab untuk berdoa merupakan saat segala keinginan lebih mungkin dikabulkan. Berdoa adalah momen seorang hamba bisa berkomunikasi langsung dengan sang Pencipta, Allah SWT. Doa ditujukan untuk memohon dan meminta segala sesuatu, maksudnya hajat yang baik.

Mulai dari rezeki, kesehatan, sampai kelamatan di dunia dan akhirat. Waktu mustajab untuk berdoa yang bisa dijumapi setiap hari adalah dalam sujud, setelah salat, di sepertiga malam terakhir, serta di antara azan dan iqamah. Sementara waktu mustajab untuk berdoa yang istimewa adalah saat puasa, sahur, di malam Lailatul Qadar, hari Arafah, saat turun hujan, hari Jumat, dan saat minum air zam-zam.

"Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku menjawab panggilan (doa)-nya orang yang berdoa ketika ia berdoa kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 186)

Para ulama pun mengajarkan untuk selalu memanjatkan berdoa, terutama di waktu mustajab untuk berdoa. Meski hajat yang dipanjatkan selalu sama dan sangat remeh. Sebab saat seseorang tak berdoa, ia sudah dianggap sombong.

Berikut Liputan6.com ulas waktu mustajab untuk berdoa dari berbagai sumber

Saat Puasa dan Berbuka Puasa

Waktu mustajab untuk berdoa yang pertama adalah saat seseorang sedang menjalankan ibadah puasa. Bukan hanya saat sedang puasa, tetapi ketika buka puasa tiba pun termasuk waktu mustajab untuk berdoa.

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa, akan dikabulkan.” dari hadits Jabir bin 'Abdullah (HR. Al-Bazaar.

Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid 10: 14. Dijelaskan bahwa di waktu mustajab untuk berdoa seperti untuk orang-orang yang menjalanklan ibadah puasa, agar memperbanyak doa.

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.”

Dalam Sujud

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam setiap sujud salat yang ditunaikan adalah waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW pun bersabda bahwa dalam sujud salat, itulah waktu seorang hamba sangat dekat dengan Rabbnya.

Rasulullah SAW dalam sabdanya "Seroang hamba yang berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu." (HR. Muslim, no. 482)

Selain itu Rasulullah SAW juga bersabda, "Adapun ketika rukuk maka agungkanlah Allah. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka doa tersebut pasti dikabulkan untuk kalian." (HR Muslim, no.479)

Dalam sujud terakhir adalah waktu mustajab untuk berdoa. Ada tiga doa dalam keadaan sujud yang tidak boleh terlewatkan yakni:

1. Meminta diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah.

2. Memohon diberikan kesempatan untuk bertaubat sebelum ajal menjemput.

3. Meminta agar hati istiqamah dalam agama Islam.

Di Sepertiga Malam Terakhir

Di sepertiga malam terakhir adalah waktu mustajab untuk berdoa. Ketika banyak orang terlelap tidur, Allah SWT turun pada sepertiga atau penghujung malam untuk melihat hambanya yang memanjatkan doa. Sepertiga malam terakhir merupakan waktu mustajab untuk berdoa, dimana doa-doa mudah diijabah.

Rasulullah SAW bersabda tentang waktu mustajab untuk berdoa ini, “Allah tabaaraka wata’ala turun setiap malam ke langit bumi, ketika malam tersisa sepertiga terakhir. Ia berkata, “Adakah yang memohon kepada-Ku agar Aku kabulkan, adakah yang meminta kepada-Ku agar Aku berikan, adakah yang memohon ampun agar Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu mustajab untuk berdoa yang dimaksudkan berlaku untuk setiap malam. Bukan hanya di bulan istimewa saja seperti Ramadan dan hari raya.

“Di malam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah SWT berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya.” (HR. Muslim no. 757)

Selesai Salat Wajib

Usai menunaikan salat fardhu wajib jangan langsung beranjak pergi, sempatkanlah untuk berdoa terlebih dahulu. Inilah waktu mustajab untuk berdoa yang setiap hari umat muslim bisa temukan, jangan disia-siakan.

Jangan lupa untuk mengiringinya dengan bacaan dzikir dan wirid. Memanjatkan segala yang diinginkan dan diharapkan di waktu mustajab untuk berdoa menjadi menjadi salah satu kelengkapan yang dianjurkan.

“Dari Abu umamah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah SWT, beliau menjawab. Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu.” (HR. Tirmidzi)

Di Antara Azan dan Iqamah

“Doa diantara adzan dan iqamah tidak tertolak.” (H.R. Tirmidzi)

Di antara azan dan iqamah adalah waktu mustajab untuk berdoa. Di waktu tersebut, kemungkinan doa pasti dikabulkan cukup besar dan kemungkinan ditolak kecil. Waktu mustajab untuk berdoa ini sama dengan saat perang sedang berkecamuk.

Rasulullah SAW bersabda:

“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang.” (H.R. Abu Daud)

Minum Air Zam-Zam

Waktu mustajab untuk berdoa adalah saat seorang muslim minum air zam-zam. Hal ini bisa dilakukan sebelum atau menjelang mulai meminumnya. Maka jangan sampai di waktu mustajab untuk berdoa ini dilewatkan begitu saja.

“Khasiat air zam-zam sesuai niat orang yang meminumnya.” (HR. Ibnu Majah; hasan)

Ibnu Abbas waktu mustajab untuk berdoa ini atau menjelang meminumnya, membaca doa yang berkaitan dengan rezeki, ilmu, dan kesehatan. “Ya Allah aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala macam penyakit.”

Hari Jumat

Rasulullah SAW bersabda tentang hari Jumat yang menjadi waktu mustajab untuk berdoa. Dijelaskan bahwa di waktu mustajab untuk berdoa adalah termasuk saat yang penuh dengan keberkahan dan sakral.

"Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut.” (H.R. Bukhari, Muslim)

Hari Jumat merupakah hari penuh keberkahan dan sakral bagi umat muslim, di mana peristiwa penting dalam Islam banyak terjadi pada hari Jumat. Selain berdoa, perbanyaknya amal salih di waktu mustajab untuk berdoa ini.

Dari Aus bin ‘Aus radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam meninggal; di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan; di hari itu pula, tiupan kedua dilakukan.” (HR. Abu Daud, no. 1047; An-Nasai, no. 1374; Ibnu Majah, no. 1085 dan Ahmad, 4:8)

Saat Turun Hujan

Ketika hujan turun itulah saat terbaik untuk memanjatkan doa. Hujan yang diturunkan sebagaimana kekuasaan Allah SWT punya tujuan mendatangkan manfaat dan memberikan keberkahan.

Inilah waktu mustajab untuk berdoa dan jangan sampai terlewatkan begitu saja. Saat hujan Allah SWT memberikan kesempatan emas kepada setiap hambanya untuk memohon segala hajat dan kebaikan.

Dari Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, meriwayatkan sabda Rasulullah:

“Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan: 1. Bertemunya dua pasukan, 2. Menjelang shalat dilaksanakan, dan 3. Saat hujan turun.”

Dikala hujan Raulullah SAW juga memanjatkan doa agar diturunkan hujan yang bermanfaat.

“Allahumma shoyyiban naafi’aa"

(Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat)

Malam Lailatul Qadar

Selain hari Jumat, waktu mustajab untuk berdoa jatuh di malam Lailatul Qadar. Malam ini dikenal sebagai malam diturunkannya kitab suci Al-Qur’an ke bumi oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya.

Di waktu mustajab untuk berdoa seperti Lailatul Qadar juga dianjurkan mempebanyak amal salih selain mengungkapkan hajat. Tujuannya agar di malam istimewa ini apa-apa yang diinginkan menjadi semakin berkah.

 “Aku bertanya kepada Rasulullah : Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar?

Beliau bersabda :

“Berdoalah, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku.”) (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Saat Sahur

Bila saat melaksanakan ibadah puasa dan berbuka saja termasuk waktu mustajab untuk berdoa, maka saat sahur perlu digaris bawahi juga. Hal ini dijelaskan dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, nomor 1145 dan 758.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir.

Lantas Allah berfirman, "Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.”

Dalam hadits di atas, Ibnu Hajar berkata:

"Doa dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan." (Fath Al-Bari, 3: 32).

Setelah sahur, Rasulullah kerap membaca doa ini, seperti tercantum dalam hadits riwayat Thabrani. Berikut doa dan artinya.

Doa Sahur yang Dibaca Rasulullah

Yarhamullahul mutasahhirin.

Artinya:

"Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya bagi mereka yang bersahur."

Hari Arafah

Hari arafah adalah waktu mustajab untuk berdoa. Hari saat para jemaah haji melaksanakan ibadah wukuf di pada tanggal 9 Dzulhijjah. Maka dari itu mengungkap segala hajat di waktu mustajab untuk berdoa sangat dianjurkan dan jangan samapi terlewatkan.

“Sebaik-baik doa adalah pada hari arafah. Dan sebaik-baik ucapanku dan Nabi sebelumku adalah ‘Tiada ilah kecuali Allah SWT yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan, bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Tirmidzi)

Laudia TysaraLaudia Tysara

https://www.liputan6.com